Logo Header Antaranews Riau

Iran tegaskan Perjanjian Pertahanan Makkah bukan ancaman

Rabu, 2 September 2026 16:02 WIB
Image Print
Ilustrasi - Bendera Turkiye, Pakistan dan Arab Saudi berkibar di puncak tiang. (ANTARA/Chatgpt)

Teheran (ANTARA) - Iran menegaskan tidak menganggap Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah yang melibatkan Arab Saudi, Turkiye, dan Pakistan sebagai ancaman terhadap keamanan negaranya.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran justru memahami alasan negara-negara Muslim di kawasan memperkuat kerja sama pertahanan di tengah meningkatnya ketegangan regional.

"Kami tidak melihat alasan untuk menganggap perjanjian antara tiga negara Muslim, yang telah berulang kali diancam oleh Israel secara langsung maupun tidak langsung, sebagai ancaman terhadap kami," kata Baghaei dalam konferexxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxnsi pers mingguan di Teheran, Selasa (1/9).

Menurut dia, negara-negara Islam di Timur Tengah mulai menyadari bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya mengandalkan jaminan keamanan dari Amerika Serikat.

Baghaei menilai kepentingan utama Washington tetap berkaitan dengan perlindungan terhadap Israel. Karena itu, negara-negara kawasan dinilai perlu memperkuat kerja sama dan membangun kepercayaan satu sama lain untuk menjaga keamanan regional.

"Negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah telah menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat mengandalkan janji Amerika Serikat untuk menjamin keamanan mereka, karena perhatian utama Washington adalah melindungi kepentingan Israel," ujarnya.

Dalam konteks tersebut, Iran mengaku terus membuka jalur komunikasi dengan negara-negara di kawasan, termasuk Arab Saudi, Pakistan, dan Turkiye.

Baghaei secara khusus menyoroti hubungan Iran dengan Turkiye yang disebutnya sebagai negara tetangga penting sekaligus memiliki hubungan baik dengan Teheran.

"Dalam kerangka kerja ini, Republik Islam Iran telah melakukan pembicaraan dengan negara-negara tersebut. Turkiye juga merupakan negara tetangga yang sangat penting dan memiliki hubungan baik dengan kami, dan kami tentu akan melanjutkan konsultasi di semua bidang," katanya.

Perjanjian Pertahanan di Tengah Ketegangan Kawasan
Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah (Makkah Joint Defense Agreement) ditandatangani pada 7 Agustus di Kota Makkah, Arab Saudi.

Kesepakatan tersebut diteken oleh Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Muhammad Shehbaz Sharif.

Perjanjian itu dirancang untuk memperkuat penangkalan kolektif ketiga negara di tengah meningkatnya ketidakstabilan keamanan, baik di tingkat regional maupun global.

Salah satu klausul utamanya menyatakan bahwa serangan terhadap salah satu dari ketiga negara akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh anggota perjanjian.

Bagi Iran, kesepakatan tersebut sejauh ini tidak dipandang sebagai langkah yang diarahkan untuk mengisolasi atau mengancam Teheran. Sebaliknya, Iran menyatakan akan terus mengedepankan dialog dan konsultasi dengan negara-negara Muslim di kawasan untuk menjaga stabilitas dan keamanan bersama.




Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026