
PBB: Suhu global berpotensi tembus 1,5 derajat celsius, risiko bencana meningkat

Tokyo (ANTARA) - Suhu global diperkirakan akan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius di atas tingkat praindustri dalam beberapa tahun mendatang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan, kondisi tersebut dapat memperbesar risiko bencana alam sekaligus mengancam kesehatan manusia.
Badan PBB untuk Program Lingkungan (UNEP) dalam laporan terbarunya menegaskan bahwa dunia perlu menekan kembali kenaikan suhu hingga 1,5 derajat Celsius atau lebih rendah pada akhir abad ini untuk mengurangi risiko dan dampak perubahan iklim.
Peringatan tersebut disampaikan menjelang genap 10 tahun Perjanjian Paris pada November 2026. Sekitar 190 negara dan wilayah, termasuk Jepang, sebelumnya menyepakati kerangka internasional tersebut untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan berbagai bencana yang terjadi belakangan ini menjadi gambaran mengenai ancaman yang dapat semakin sering dihadapi dunia.
"Gelombang panas yang menyengat, kebakaran hutan yang berkobar, dan banjir mematikan musim panas ini merupakan peringatan tentang apa yang akan terjadi. Kita harus membuat pelampauan 1,5 derajat Celsius sekecil dan sesingkat mungkin," kata Guterres.
"Dunia membutuhkan keberanian untuk melampaui batas ambisi kita," tambahnya.
Pemanasan bisa mencapai 2,6 derajat Celsius
Laporan UNEP memperingatkan bahwa dengan kebijakan yang berlaku saat ini, pemanasan global dapat mencapai sekitar 2,6 derajat Celsius pada 2100.
Bahkan apabila seluruh negara memenuhi target pengurangan emisi gas rumah kaca dan mencapai emisi nol bersih melalui penyeimbangan emisi dengan penyerapan karbon oleh hutan maupun sistem lainnya, kenaikan suhu masih diproyeksikan mencapai sekitar 1,8 derajat Celsius.
Pemanasan tersebut berpotensi memperparah cuaca ekstrem, mempercepat hilangnya ekosistem, serta meningkatkan ancaman terhadap negara-negara kepulauan kecil akibat kenaikan permukaan laut.
Risikonya juga merambah berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan manusia, ketahanan pangan, ketersediaan air hingga infrastruktur.
Gletser terancam kehilangan seperempat massanya
Jika suhu global meningkat hingga 3 derajat Celsius pada abad ini, gletser diperkirakan kehilangan lebih dari seperempat massanya pada 2100. Kondisi tersebut diproyeksikan berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut sekitar 9 hingga 13 sentimeter.
Profesor Richard Betts dari University of Exeter, yang turut berkontribusi dalam penyusunan laporan, mengatakan peningkatan suhu global membuat kejadian cuaca ekstrem, seperti banjir bandang yang melanda Nepal dan China pada Agustus, semakin mungkin terjadi.
"Namun, kita dapat mencegah kondisi tersebut menjadi jauh lebih buruk dengan mengurangi emisi dan membatasi jumlah pemanasan," kata Betts.
UNEP juga menjelaskan bahwa apabila suhu global telah melampaui 1,5 derajat Celsius, dunia perlu menyerap atau menghilangkan karbon dioksida dalam jumlah yang lebih besar daripada emisi yang dilepaskan untuk dapat menurunkan kembali suhu.
Meski demikian, penghilangan karbon tidak boleh menjadi pengganti pengurangan emisi. Laporan tersebut menempatkannya sebagai langkah tambahan, sementara upaya utama tetap harus berfokus pada pemangkasan emisi gas rumah kaca.
Sumber: Kyodo
Pewarta : Yoanita Hastryka Djohan
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

