
Kampar Kembangkan Budidaya Belut
Kamis, 23 April 2015 11:29 WIB

Kampar, Riau (Antarariau.com) - Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Pemerintah Kabupaten Kampar Provinsi Riau mengembangkan budidaya belut sebagai upaya merealisasikan Program 3 Zero yakni menuntaskan masalah kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh di daerah itu.
"Pengembangan budidaya belut tersebut dilakukan dalam bentuk pelatihan yang dibagi dalam dua sesi selain juga ada pelatihan pembuatan bolu kemojo sebanyak 25 orang yang dikhususkan untuk kaum ibu-ibu. Sementara untuk pelatihan bagaimana membudidayakan belut dilahan yang sempit dengan menggunakan media drum untuk laki-laki," kata Kepala Bidang (Kabid) SDM dan Penyuluhan Dinas Koperasi dan UKM Drs Ibrahim saat memberikam sambutan sekaligus membuka acara pelatihan tersebut yang di pusatkan di Gedung PLUT di Kecamatan Tambang, Kamis (23/4) siang.
Ibrahim mengatakn, kegiatan pelatihan dan pembinaan ini merupakan dalam rangka mempercepat akselerasi pertumbuhan ekonomi yang merupakan konsen Pemerintah Kampar saat ini.
"Kegiatan ini merupakan upaya menyukseskan agenda pemerintah terutama program lima pilar pembangunan yang memiliki tujuan dan membebaskan masyarakat Kampar ini dari kemiskinan, kebodohan dan pengangguran serta mampu membuat peluang usaha ditengah kompetisi yang semakin ketat ini," katanya.
Ia menjelaskan, untuk pelatihan bolu kemojo Dinas Koperasi dan UKM Kampar bekerjasama dengan produsen bolu kemojo Pak Unggal dari Kota Pekanbaru. Sementara untuk budidaya belut akan mendatangkan pembicara dari Kubang.
"Hari ini pelatihan bolu kejo kita khsususkan untuk ibu-ibu dari kecamatan Tambang dan Siak Hulu. Besok kita lanjutkan dengan pelatihan membudidayakan belut dipekarangan dengan drum sebagai medianya," kata Ibrahim.
Pada kesempatan itu, Ibrahim juga sempat menyinggung soal kesiapan masyarakat dan daerah dalam menyambut akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015 ini.
Menurutnya, masyarakat Kampar sudah semestinya mengerti soal peluang, tantangan dan resiko dalam menghadapi MEA Tersebut. Pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) disebutkannya nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.
"Perlu kolaborasi yang apik antara pemerintah dan para pelaku usaha, peningkatan kemampuan serta daya saing tenaga kerja dan perusahaan di Indonesia. Jangan sampai Indonesia hanya menjadi penonton di negara sendiri di tahun 2015 mendatang. Siapkah kita menghadapi persaingan di tahun 2015 ini? Suka atau tidak, rela tau terpaksa sudah seharusnya kita bersiap menghadapi ketatnya persaingan di tahun 2015 mendatang," katanya. (Adv)
Pewarta : Kampar, Riau (Antarariau.com) - Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Pemerintah Kabupaten
Editor:
Netty Mindrayani
COPYRIGHT © ANTARA 2026

