
Dumai sosialisasi waspada imigran gelap

Dumai - Pemerintah Kota Dumai sedang gencar menyosialisasikan "waspada imigran gelap", guna mengantisipasi maraknya aksi penyelundupan orang melalui perairan Dumai dan sekitarnya.
Kepala Kantor Imigrasi Dumai, Abdullah Reni Simanungkalit, Rabu mengaku kesulitan mencegah agresifnya para 'pencari suaka' asing itu yang menjadikan wilayah Dumai dan Riau pada umumnya sebagai titik perlintasan utama.
"Ini karena panjangnya jarak pantauan pengawasan (di kawasan Selat Malaka)," ungkapnya.
Dikatakan, persoalan imigran gelap yang disamakannya dengan peredaran narkoba ini, diduga dilakukan oleh jaringan sindikat tertentu.
"Jaringan ini memanfaatkan kedekatan wilayah tembus Imigran gelap melalui negari jiran Malaysia," ujarnya.
Dekatnya jarak tempuh Malaysia ke Dumai, menurutnya, membuat pihak Imigrasi Dumai kesulitan untuk mengawasi sepenuhnya.
"Apalagi selain pelabuhan resmi (di Dumai dan beberapa tempat tertentu), sepanjang garis pantai pesisir Timur Riau juga berpotensi menjadi titik masuk (ilegal)," ungkapnya.
Aksi lalulintas imigran gelap ini, lanjutnya, pastinya ada sindikat yang terorganisasi dengan memanfaatkan kesulitan pengawasan kita.
"Sindikat yang menjalankan aksi penyelundupan imigran gelap diprediksi akan terus menjalankan kegiatan ini. Sebab, panjang garis pantai mencapai 134 kilometer yang menjadi objek pengawasan imigrasi setempat, masih bisa ditembus lewat pelabuhan yang tidak resmi," ungkapnya lagi.
Kendati begitu, pihaknya tetap tidak akan membiarkan kasus imigran gelap bisa masuk dengan gampang.
"Upaya pengawasan ketat akan terus ditingkatkan guna mencegah wilayah hukum Imigrasi Dumai dimasuki kembali orang luar negeri secara ilegal," katanya.
Ia mengakui juga, kasus imigran gelap saat ini begitu marak, namun sesungguhnya Indonesia bukanlah tujuan utama mereka.
"Indonesia hanya sebagai tempat transit menuju negara lain, seperti Australia," ujarnya.
Guna memperketat pengawasan di wilayah perbatasan, ia akan melakukan koordinasi lintas sektoral terkait, yakni dengan Satuan Polisi Air, TNI AL, dan instansi vertikal lainnya.
"Selain itu akan menggencarkan kampanye waspada imigran gelap di sejumlah titik yang dinilai rawan dijadikan jalur pengungsian warga dari luar negeri tersebut. Salah satu daerah yang diprioritaskan adalah perairan Pulau Rupat yang secara geografis berdekatan dengan Malaysia," tandasnya.
Imigrasi Dumai mencatat sebelumnya di tahun 2011, terjadi dua kasus imigran gelap.
Keseluruhan yang masuk sebanyak 15 orangan sebagian besar berasal dari negara Timur Tengah.
Sedangkan pada awal 2012 ini, telah berhasil diamankan 18 orang imigran asal Pakistan dan Afganistan yang ditangkap di perairan Dumai oleh patroli Polri.

