
Kampar kembangkan biogas kotoran sapi

Kampar, Riau, (ANTARARIAU News) - Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kampar, Neflizal, mengatakan, pihaknya kini sedang memasuki tahap pengembangan bahan bakar biogas dengan memanfaatkan bahan baku berupa kotoran sapi.
"Kami mengawalinya dengan mendata ketersediaan hewan dan kesiapan warga menjadi peternak," katanya, usai timnya mendata sapi Desa Muara Uwai, Pulau Lawas, Pulau Desa, dan Binuang di Kecamatan Bangkinang Seberang, Kampar, Provinsi Riau, Kamis.
Pihaknya merencanakan, setiap kepala keluarga (KK) yang menjadi percontohan peternakan sapi plus biogas ini, akan mendapatkan 10 ekor sapi.
Dikatakannya, ternak-ternak ini dibeli dari penyediaan dana bergulir program Pro Rakyat dari pihak instansi teknis kepada setiap KK.
Ia menambahkan, ide cemerlang ini lahir dari Bupati Kampar, H Jefry Noer, untuk melakukan diversifikasi bahan bakar bagi upaya memenuhi kebutuhan warga.
"Beliaulah yang mendorong mengumpulkan peternak sapi maupun calon peternak dari semua kalangan warga, dengan mendata latar belakang, kepemilikan lahan, punya niat atau tidak untuk beternak, sekaligus kesiapan mengembangkan dan memanfaatkan biogas yang bersifat intensif," ungkapnya.
Sementara itu, tim pendataan dipimpin langsung Yulia Dharma dibantu Edi Syukri dari Dinas Peternakan Kabupaten Kampar, yang dalam operasionalnya mendapat bantuan pihak Camat beserta aparatnya di semua desa di wilayah Kecamatan Bangkinang Seberang.
Karena itu, ia mengharapkan, agar aparat desa dan kecamatan ikut bekerja keras melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis serta pembinaan usaha ternak plus biogas tersebut.
"Sebab, program beternak sapi dan pemanfaat biogas berbahan baku kotoran sapi tersebut, benar-benar menguntungkan rakyat dan mampu menghemat energi," ungkapnya.
Neflizal yang didampingi Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar, Nasruni, mengatakan pula, sesungguhnya banyak manfaat yang dapat diperoleh dari usaha ternak sapi.
"Karena secara teknis, usaha peternakan sapi antara lain mampu menghasilkan kombinasi keuntungan ikutan berupa biogas yang dibutuhkan untuk penerangan ataupun sebagai energi untuk memasak," ujarnya.
Dikatakan, proses pembuatan produk ikutan ini, juga cukup sederhana, dan dapat dilakukan sendiri oleh para peternak, dengan menggunakan peralatan atau teknologi sederhana.
"Ternak-ternak sapi itu cukup dipelihara di dalam kandang, diberi makanan hijauan dan makanan penguat yang bergizi, lalu kotorannya ditampung dalam sebuah bak penampung khusus, yang di dalamnya ada instalasi biogas," tuturnya.
Selanjutnya, demikian Neflizal, gas dari hasil fermentasi dialirkan sebagai energi untuk memasak atau kepentingan penerangan.
"Selain itu, limbahnya dapat dijadikan pupuk untuk meningkatkan kesuburan tanah, dan sekaligus untuk meningkatkan produksi usaha tani," katanya.
Intinya, lanjutnya, sapi harus dikandangkan, karena kotorannya harus dikumpulkan.
"Makanan atau pakan sapi berupa hijauan juga sebaiknya ditanam di lahan petani. Sedangkan pakan hijau didatangkan. Dengan demikian, usaha peternakan sapi ini harus dilakukan secara intensif (tidak ekstensif, menggunakan lahan luas)," katanya lagi.
Ia juga mengharapkan, masyarakat yang menjadi peserta, hendaknya berniat menyukseskan program terobosan beternak sapi plus mengolah biogas secara serius, demi peningkatan kesejahteraan rakyat.
"Usaha ternak sapi yang berkembang akan menghasilkan uang dan kotoran ternak sapi menghasilkan biogas adalah sebuah obsesi yang sudah saatnya direalisasikan untuk kemajuan Kabupaten Kampar sebagaimana harapan Bapak Bupati," ujar Neflizal.
Pewarta : Netty Mindrayani
Editor:
Netty Mindrayani
COPYRIGHT © ANTARA 2026

