
Warga Tuding Danau Buatan Tidak Bermanfaat

Pekanbaru, 26/10 (ANTARA) - Warga di Kelurahan Lembah Sari Kecamatan Rumbai Pesisir, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, menuding objek wisata Danau Buatan di daerah itu tidak bermanfaat baik bagi Pemko maupun penduduk sekitar danau tersebut.
"Danau Buatan tidak ada untungnya, karena kami hanya diminta menjual tiket. Adanya danau itu telah membuat infrastruktur jalan hancur dan kalaupun dibangun tetapi cepat rusaknya," ungkap tokoh masyarakat, Hadelman, Selasa.
Ia menyampaikan hal itu kepada Wakil Wali Kota Pekanbaru Erizal Muluk sambil meminta kalau objek itu tidak bisa dikelola PD Pembangunan maka sebaiknya diserahkan kepada warga.
Hadelman menuding PD Pembangunan sebagai pihak pengelola tidak sanggup untuk mengelolanya sehingga sebaiknya diserahkan kepada masyarakat sekitar untuk mengelolanya dengan baik.
"Kalau PD Pembangunan tidak sanggup maka serahkan kepada masyarakat sekitar sini untuk mengelolanya," jelasnya.
Menanggapi tudingan masyarakat tersebut, Wakil Walikota Erizal Muluk, mengakui Pemko Pekanbaru kesulitan untuk membangunnya dan belum bisa mendapatkan investor untuk mengelolanya.
Dikatakannya, dahulu sewaktu diserahkan Pemprov Riau kepada Pemko Pekanbaru tanahnya hanya dua hektar. Saat itu ada keinginan Pemko untuk mengelolanya tapi warga mengakui sebagai pemilik tanahnya.
"Jadi dipungut restribusinya hanya sanggup untuk menggaji karyawan disitu saja," kata Erizal.
Sehingga sambungnya, tahun 2008 lalu Pemko sudah membebaskan tanah seluas 18 ha serta mencoba mengundang investor untuk mengelolanya. Namun hal itu tidak terwujud karena terbentur dengan peraturan.
"Agak rumit jika hal itu dikelola investor atau pihak ketiga," urainya.
Sedangkan kalau dikelola sendiri Pemko Pekanbaru membuthkan dana yang cukup besar yaitu mencapai Rp 250 M. Hal ini tidak bisa dipenuhi Pemko Pekanbaru karena kondisi keuangan yang terbatas.
"Namun diharapkan ada investor yang mau mengelola karena akan berdampak pada masyarakat setempat," tambahnya.
Pewarta : Vera Lusiana
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

