Greenpeace Kecewa Capres Jokowi dan Prabowo Dukung Biodiesel, ini sebabnya

id Greenpeace,debat capres 2019,prabowo,jokowi,biodiesel,pilpres 2019

Greenpeace Kecewa Capres Jokowi dan Prabowo Dukung Biodiesel, ini sebabnya

Arsip foto. Panen kelapa sawit. (Antaranews)

Pekanbaru (Antaranews Riau) - Aktivis lingkungan Greenpeace merasa kecewa dangan komitmen kedua calon presiden pada Pilpres 2019 terkait pembangunan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Debat calon presiden (capres) kedua pada Minggu (17/2) malam yang membahas isu energi, infrastruktur, pangan, sumber daya alam dan lingkungan hidup tidak menjawab sejumlah persoalan utama lingkungan hidup yang terjadi di Indonesia saat ini.

“Capres Jokowi dan Prabowo sama-sama mendukung biodiesel ataupunbiofueldari B20 hingga ke B100. Terkait hal ini, kedua capres tidak memberikan jaminan programbiofueltanpa menggerus keberadaan hutan alam, lahan gambut dan mangrove,” kata Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak dalam pernyataan pers yang diterima Antara di Pekanbaru, Senin.

Baca juga: Debat Capres putaran kedua belum temukan kesepakatan soal impor pangan

Greenpeace menilai, kedua capres juga mengabaikan potensi sumber energi terbarukan yang sangat besar, yang bisa menekan porsi energi fosil pada bauran energi nasional. Bahkan kedua calon mengedepankan energi yang bersumber dari kelapa sawit, yang berpotensi menambah angka deforestasi.

Menurut analisis data Hansen dari University of Maryland 2000-2017, lanjut Leonard, laju penggundulan hutan yang terjadi sepanjang 2015-2017 tercatat masih mencapai 650.000 hektar.

Berdasarkan kajian Cerulogy, kebijakanbiofueltelah menciptakan permintaan minyak sawit sebesar 10,7 juta ton. Pada tahun 2030, permintaanbiofueldiprediksi mencapai 67 juta ton, dan membuka peluang deforestasi baru sebesar 4,5 juta hektar serta hilangnya 2,9 juta lahan gambut.

Arsip foto. Kapal tanker berbendera asing memuat minyak kelapa sawit (crude palm oil) di pelabuhan PT. Pelindo I Dumai di kota Dumai, Riau, Kamis (31/1/2019). (ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid)


Greenpeace berpandangan pemenuhan kebutuhan energi yang dijawab hanya dengan pengembanganbiofuelsecara masif tidak tepat. Pasalnya, potensi energi terbarukan yang bersumber dari tenaga surya dan angin jauh lebih besar. Potensi tenaga angin sebesar 60.647 megawatt (MW) dan tenaga surya sebesar 207.898 MW, atau jauh lebih besar dibandingkan potensi bioenergi 32.654 MW. Kapasitas terpasang energi surya dan angin pun masih jauh di bawah bioenergi.

Selain itu, kedua calon juga tidak memiliki sikap yang tegas terhadap lubang-lubang tambang yang dibiarkan tanpa penegakan hukum. Padahal, di Kalimantan Timur, lubang-lubang tambang batu bara telah menyebabkan kerusakan lingkungan dan pencemaran sungai yang akhirnya berdampak serius pada penghidupan warga. Hingga akhir 2018, terdapat 31 korban meninggal akibat lubang-lubang tambang batu bara di Kalimantan Timur.

“Penegakan hukum sulit dilakukan karena adanya keterlibatan elit politik dan pengambil kebijakan dalam bisnis tersebut,” katanya.

Batu bara melalui keberadaan PLTU ditambah dengan kebakaran hutan telah merusak kualitas udara Indonesia. Polusi udara mengancam kesehatan dan mengganggu produktivitas masyarakat. Sedikitnya 6.500 kematian dini diprediksi terjadi setiap tahunnya di Indonesia, akibat mengidap penyakit pernapasan yang disebabkan oleh polusi udara.

Baca juga: Aksi "Tikus Raksasa" Desak Capres Akhiri Korupsi Politik Batu Bara

Percepatan infrastruktur pun seringkali mengabaikan hak-hak masyarakat lokal, seperti petani dan nelayan. Contohnya, perencanaan pembangunan PLTU Batang yang menggusur petani dan nelayan, kriminalisasi aktivis penolak PLTU di Cirebon/Indramayu, tambang emas di Tumpang Pitu, Banyuwangi, dan juga di Surokonto, Jawa Tengah dengan tuduhan yang sama sekali tidak masuk akal.

Persoalan sampah plastik yang sudah menyentuh titik krisis juga luput dari perhatian kedua calon presiden. Pemerintah sudah menyatakan komitmen untuk mengurangi sampah plastik di laut sebesar 70 persen pada 2025, tapi detail aksi konkret belum terlihat.

“Pemerintah dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kalah jauh dengan sejumlah pemerintah daerah yang sudah menerapkan kebijakan larangan kantong plastik. Perlu langkah nyata demi menyelamatkan daratan dan lautan dari invasi sampah plastik,” ujarnya.

Pengendalian jumlah plastik sekali pakai dengan fokus pada pengurangan (reduce)belum menjadi langkah utama yang diambil. Produsen khususnya produsen kebutuhan sehari-hari (fast moving consumer goodsatau FMCG) harus didorong untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, beralih ke model bisnis yang lebih berkelanjutan, serta bertanggung jawab atas sampah dari produk-produk yang mereka hasilkan seperti yang tertuang pada UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Arsip foto. Petani kelapa sawit membawa hasil panen di tengah hujan di Provinsi Riau. (ANTARA FOTO/Rony Muharrman)


Secara keseluruhan, komitmen untuk mengatasi perubahan iklim di kedua kubu tidak terlihat. Padahal Indonesia meratifikasi Kesepakatan Paris, dan berkomitmen untuk menurunkan emisi sebesar 29 persen.

“Komitmen penurunan emisi tidak akan tercapai, jika arah pembangunan masih berbasis pada energi fosil dan rencana ekspansibiofuelyang berdampak pada pembukaan lahan besar-besaran. Kedua kandidat masih punya PR yang besar untuk memperbaiki janji-janji program kerja mereka jika ingin memenangkan bumi dan masa depan lingkungan Indonesia,” pungkas Leonard.

Baca juga: Jikalahari: Titik Panas Terdeteksi di 13 Areal Perusahaan

Baca juga: Kebakaran Lahan Riau Terus Meluas Capai 841,71 Hektare


Pewarta :
Editor: Febrianto Budi Anggoro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar