Logo Header Antaranews Riau

Delegasi Indonesia Soroti Lonjakan Tren Wisatawan Asia Pasifik

Sabtu, 16 Mei 2026 16:34 WIB
Image Print
Ilustrasi delegasi Pacific Asia Travel Association (PATA) Annual Summit 2026 yang berlangsung di Korea Selatan. (ANTARA/HO-PAS)

Jakarta (ANTARA) - Delegasi Pacific Asia Travel Association (PATA) Indonesia Chapter, Ardiyansyah Djafar menilai masa depan pariwisata Asia Pasifik akan ditentukan oleh kemampuan destinasi membaca perubahan perilaku wisatawan global.

Menurut Ardiyansyah, persaingan industri pariwisata ke depan tidak lagi hanya ditentukan jumlah wisatawan yang datang, tetapi kemampuan destinasi memahami kebutuhan dan pola perjalanan wisatawan yang terus berubah.

“Insight terbesar dari PATA Annual Summit 2026 adalah bahwa masa depan pariwisata Asia Pacific tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling banyak mendatangkan wisatawan, tetapi siapa yang paling mampu membaca perubahan perilaku wisatawan,” kata Ardiyansyah dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Dalam forum PATA Annual Summit 2026 yang berlangsung di Korea Selatan Selatan baru-baru ini, diproyeksikan jumlah kunjungan wisatawan internasional di kawasan Asia Pasifik mencapai 761,2 juta pada 2028.

Sementara sekitar 68,3 persen perjalanan masuk kawasan pada 2025 diperkirakan berasal dari perjalanan antarnegara di Asia Pasifik.

Salah satu sesi forum juga membahas perubahan strategi pemasaran destinasi wisata akibat perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan digitalisasi industri perjalanan.

Perusahaan teknologi pemasaran perjalanan Sojern dalam forum itu menilai destination marketing kini menghadapi tekanan untuk mampu menunjukkan dampak terukur dari strategi promosi yang dijalankan.

Ardiyansyah mengatakan perubahan tersebut relevan dengan kondisi pariwisata Indonesia yang mencatat 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025 dan 1,20 miliar perjalanan wisatawan nusantara.

Menurut dia, tantangan Indonesia saat ini bukan hanya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memperkuat kualitas pengalaman wisata yang autentik, berkelanjutan, dan terintegrasi secara digital.

"Tantangan saat ini bukan hanya mendatangkan wisatawan, tetapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kualitas pengalaman yang lebih autentik, digital-ready, berkelanjutan, inklusif, dan bernilai tinggi, baik bagi wisatawan asing maupun domestik," katanya.




Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026