Mencoba Meng(h)ajar Tere Liye

id mencoba menghajar, tere liye

Mencoba Meng(h)ajar Tere Liye

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Pembagian foto dan status ini bukan bermaksud menyudutkan penulis dengan inisial Tere Liye, cuma momennya aja yang pas. Saya pernah membaca tulisan ini sebelumnya, setelah dicari-cari lagi tidak ketemu. Menarik sekali tentang kawan sepenjara Bung Karno di Sukamiskin ini. Jika ada teman yang hobi baca buku sejarah, ingin sekali saya ketahui siapa pria Minangkabau disebut Soekarno itu. Ingatan saya dalam bacaan Novel Kutunggu di Gerbang (kalau nggak salah, judulnyapun tak ingat) tentang kisah istri pertama Soekarno Bu Inggit, tidak ada menceritakan pria dalam pidatonya ini.

Berikut status yang diambil dari akun facebook Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto.

Pidato Bung Karno yang dicatat dalam Arsip Negara dikutip dari Buku "Revolusi Belum Selesai", dibuat tanggal 13 Februari 1966. Berikut isi Pidato Bung Karno, di depan Front Nasional di Istora Senayan :

"...Nah ini saudara-saudara, sejak dari saya umur 25 tahun, saya sudah bekerja mati-matian untuk samenbundeling (penggabungan) semua revolutionaire krachten (kekuatan revolusioner) buat Indonesia ini. Untuk menggabungkan menjadi satu semua aliran-aliran, golongan-golongan, tenaga-tenaga revolusioner di dalam kalangan bangsa Indonesia. Dan sekarang pun usaha ini masih terus saya jalankan dengan karunia Allah S W T. Saya sebagai Pemimpin Besar Revolusi, sebagai Kepala Negara, sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, saya harus berdiri bukan saja di atas semua golongan, tetapi sebagai ku katakan tadi, berikhtiar untuk mempersatuan semua golongan.

Ya golongan Nas, ya golongan A, ya golongan Kom. Kita punya kemerdekaan sekarang ini, Saudara-saudara, hasil daripada keringat dan darah, ya Nas, ya A, ya Kom. Jangan ada satu golongan berkata, ooh, ini kemerdekaan hanya hasil perjuangan kami Nas saja. Jangan ada satu golongan berkata, ooh, ini kemerdekaan adalah hasil daripada perjuangan-perjuangan kami A saja. Jangan pula ada golongan yang berkata, kemerdekaan ini adalah hasil daripada perjuangan kami, golongan Kom saja.

Tidak .Sejak aku masih muda belia, Saudara-saudara, aku melihat bahwa golongan-golongan ini semuanya, semuanya membanting tulang, berjuang, bahkan berkorban untuk kemerdekaan Indonesia. Saya sendiri adalah Nas, tapi aku, demi Allah, tidak akan berkata kemerdekaan ini hanya hasil dari pada perjuangan Nas. Aku pun orang agama, bisa dimasukkan dalam golonban A, ya pak Saifuddin Zuhri, saya ini ? Malahan, saya ini oleh dunia Islam internasional diproklamir menjadi Pahlawan Islam dan Kemerdekaan. Tetapi demi Allah, demi Allah, demi Allah SWT, tidak akan saya berkata bahwa perjuangan kita ini, hasil perjuangan kita, kemerdekaan ini adalah hasil perjuangan daripada A saja.

Demikian pula aku tidak akan mau menutup mata bahwa golongan Kom, masya Allah, Saudara-saudara, urunannya, sumbangannya, bahkan korbannya untuk kemerdekaan bukan main besarnya. Bukan main besarnya !

Karena itu, kadang-kadang sebagai Kepala Negara saya bisa akui, kalau ada orang berkata, Kom itu tidak ada jasanya dalam perjuangan kemerdekaan, aku telah berkata pula berulang-ulang, malahan di hadapan partai-partai yang lain, di hadapan parpol yang lain, dan aku berkata, barangkali di antara semua parpol-parpol, di antara semua parpol-parpol, ya baik dari Nas maupun dari A tidak ada yang telah begitu besar korbannya untuk kemerdekaan Indonesia daripada golongan Kom ini, katakanlah PKI, Saudara-saudara.

Saya pernah mengalami. Saya sendiri lho mengalami, Saudara-saudara, mengantar 2000 pemimpin PKI dikirim oleh Belanda ke Boven Digul. Hayo, partai lain mana ada sampai ada 2000 pimpinannya sekaligus diinternir, tidak ada. Saya pernah sendiri mengalami dan melihat dengan mata kepala sendiri, pada satu saat 10 000 pimpinan daripada PKI dimasukkan di dalam penjara. Dan menderita dan meringkuk di dalam penjara yang bertahun-tahun.

Saya tanya, ya tanya dengan terang-terangan, mana ada parpol lain, bahkan bukan parpolku, aku pemimpin PNI, ya aku dipenjarakan, ya diasingkan, tetapi PNI pun tidak sebesar itu sumbangannya kepada kemerdekaan Indonesia daripada apa yang telah dibuktikan oleh PKI. Ini harus saya katakan dengan tegas.

Kita harus adil, Saudara-saudara, adil, adil, adil, sekali adil. Aku, aku sendiri menerima surat, kataku beberapa kali di dalam pidato, surat daripada pimpinan PKI yang hendak keesokan harinya digantung mati oleh Belanda, yaitu di Ciamis. Ya, dengan cara rahasia mereka itu, empat orang mengirim surat kepada saya, keesokan harinya akan digantung di Ciamis. Mengirim surat kepada saya bunyinya apa ? Bung Karno, besok pagi kami akan dihukum di tiang penggantungan. Tapi kami akan jalani hukuman itu dengan ikhlas, oleh karena kami berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Kami berpesan kepada Bung Karno, lanjutkan perjuangan kami ini, yaitu perjuangan mengejar kemerdekaan Indonesia.

Jadi aku melihat 2000 sekaligus ke Boven Digul. Berpuluh ribu sekaligus masuk di dalam penjara. Dan bukan penjara satu dua tahun, tetapi ada yang sampai 20 tahun, Saudara-saudara. Aku pernah mengalami seseorang di Sukamiskin, saya tanya : Bung, hukumanmu berapa? 54 tahun. Lho bagaimana bisa 54 tahun itu ? Menurut pengetahuanku kitab hukum pidana tidak ada menyebutkan lebih daripada 20 tahun. 20 tahun atau seumur hidup atau hukuman mati, itu tertulis di dalam Wetboek van Strafrecht (kitab hukum pidana). Kenapa kok Bung itu 54 tahun? Ya. Pertama kami ini dihukum 20 tahun, kemudian di dalam penjara, kami masih mempropaganda-kan kemerdekaan Indonesia antara kawan-kawan pesakitan, hukuman. Itu konangan, konangan, ketahuan, saya ditangkap, dipukuli, dan si penjaga yang memukuli saya itu saya tikam mati. Sekali lagi aku diseret di muka hakim, dapat tambahan lagi 20 tahun. Menjadi 40 tahun.

Sesudah saya mendapat vonnis total 40 tahun ini, sudah, saya tidak ada lagi harapan untuk bisa keluar dari penjara. Sudah hilang-hilangan hidup saya di dalam penjara ini, saya tidak akan menaati segala aturan-aturan di dalam penjara. Saya di dalam penjara ini terus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada satu waktu saya ketangkap lagi, oleh karena saya berbuat sebagai yang dulu, saya menikam lagi, tapi ini kali tidak mati, tambah 14 tahun, 20 tambah 20 tambah 14 sama dengan 54 tahhun.

Ini orang dari Minangkabau, Saudara-saudara. Dia itu tiap pagi subuh-subuh sudah sembahyang. Dan selnya itu dekat saya, saya mendengar dia punya doa kepada Allah SWT ; Ya Allah, ya Robbi, aku akan mati di dalam penjara ini. Tetapi sebagaimana sembahyangku ini, shalatku ini, maka hidup dan matiku adalah untuk Engkau.

Coba; coba, coba, coba ! Lha kok ada sekarang ini golongan-golongan yang berkata bahwa komunis atau PKI tidak ada jasa di dalam kemerdekaan Indonesia ini.

Sama sekali tidak benar ! Aku bisa menyaksikan bahwa di antara parpol-parpol malahan mereka itu yang telah berjuang dan berkorban paling besar.

(Bung Karno, Istora Senayan 13 Februari 1966)

Tapi ngomong soal status Tere Liye itu (akhirnya bahas ini juga) menurut saya aneh juga ya, kok udah ada dijawab sama Soekarno. Kayak apa namanya itu, de javu ya? Sebuah hipotesis yang dilontarkan oleh orang zaman sekarang tapi udah ada antitesisnya oleh orang masa lalu. Atau memang kita ini sekarang Zeit Gest (lupa saya tulisannya) atau semangat intelektualnya baru seperti zaman kemerdekaan krena setelah orde baru kita seperti lahir kembali. Zaman ini kita baru belajar Marxis, padahal udah dipelajari Bung Hatta muda bahkan udah dimodifikasi pula ama Tan Malaka jadi Madilog.

Apa yang disampaikan oleh Tere Liye adalah membeda-bedakan dan mengkotak-kotakkan antara kaum agama, liberalis, sosialis, komunis, dan lainnya itu. Begitu juga dengan Soekarno yang mengklasifikasikan nasionalis, agama, dan komunis. Mungkin disinilah harus ditelaah lebih jauh antara agama dan ideologi. Apakah agama itu ideologi? dan apakah ideologi itu mencerminkan agama? Atau Agama lebih tinggi dari ideologi? tentu saja secara normatif, tapi ketika dilihat dalam kenyataannya banyak juga orang lebih melihat dan menonjolkan ideologinya daripada agamanya.

Sebenarnya begini menurut saya, kita yang beragama contohnya beragama Islam sejak lahir, yang duluan ada pada kita itu agama dulu. Kemudian seiring masa pertumbuhan akan terlihat watak seseorang atau ideologi secara pribadi atau individu. Selanjutnya jika merujuk pada terminologi barat setiap orang akan bermuara pada dua saja, kalau gak kapitalis/liberalis, ya sosialis/komunis. Bisa ada keduanya tapi pasti akan ada yang menonjol.

Ya sesuai cara mudah memahami ideologi dengan metode gambar sapi, kalau kapitalis anda punya dua sapi lalu diperanakkan dan dijual sehingga bisa menghasilkan materi untuk anda. Kalau sosialis anda punya dua sapi lalu yang satu lagi anda berikan pada tetangga anda. Ya tinggal milih aja kita mau kayak gimana. Memang karena istilahnya dari barat, maka terlihat itu merupakan paham asing. Di sini saya kira Tere Liye perlu memahaminya dulu.

Lalu menyoal agama, karena saya Islam, maka konteknya saya contohkan dengan Islam. Dalam agama ini sesuai yang saya pahami juga mengandung dua paham terbesar tersebut. Kalau untuk kapitalis sih intinya kan mendorong kita berusaha agar bisa menghidupi dan berdiri dengan kaki sendiri, jangan hanya dipahami kapitalis adalah hanya perusahaan bermodal besar dan menindas orang. Kapitalis itu kan dari kapital, kapital itu modal, dan modal itu adalah bekal untuk bisa berkembang seperti berdagang.

Banyak sekali Islam mendorong hal itu, seperti Tuhan takkan mengubah nasib seseorang atau kaum sebelum seseorang atau kaum itu sendiri yang mengubahnya. Makanya berusaha dan berdoa. Dan berdagang sebagai suatu cara untuk itu bahkan sudah dicontohkan oleh nabi. Bahkan lagi dikatakan 9 dari 10 pintu rezeki adalah dengan berdagang.

Lalu sosialis atau komunis (kita anggap saja sama dulu), apakah ada dalam Islam. Sebelumnya kita pahami dulu, sosialis itu dari society dan komunis itu dari community. Artinya masyarakat, bermasyarakat, pokoknya begitulah kita harus melihat kondisi sosial kita. Jangan ambil langsung referensi barat. Komunis dari Rusia tak mengakui Tuhan, emang negeri itu tak punya tuhan ataupun di Eropa lainnya emang sudah mewabah atheis terlebih lagi setelah Nietzhe memproklamirkan Tuhan telah mati. Jadi konteksnya jangan ke barat memahaminya walaupun secara tekstual emang berasal dari situ. Tan Malaka ketika hadir dalam kongres komunis di Soviet menolak komunis tidak mengakui Tuhan. Katanya dalam kongres "Di sini saya komunis, tapi di hadapan Tuhan saya Islam".

Jadi apakah dalam Islam ada Sosialis, ya tentu saja. Berapa banyak ayat yang berbunyi laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat, beri makan orang miskin. Bahkan sudah diberikan proporsinya seperti zakat 2,5 persen.

Jadi hal itu perlu dipahami lah, jangan langsung saja memvonis orang begini begitu. Ideologi saya kira pada intinya baik, yang ada hanyalah distorsi atau penyalahgunaan. Kapitalis karena pengen untung dihisapnya orang, sosialis karena ingin semua orang dapat yang sama dipaksakannya orang yang memiliki hak kepemilikan pribadi atau privasi orang.

Keduanya kapitalis dan sosialis itu sudah disatukan oleh agama. Bahkan lebih tegasnya pemerintah dengan UU sudah membuat ideologi pancasila. Kepemilikan pribadi diakui, tapi hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Adapun masalah saat ini ya itu tadi karena distorsi saja.

Oleh karena itu, apa yang dilontarkan Tere Liye perlu pemahaman dulu. Jadi pertanyaanya apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, pendukung liberal berjuang melawan Belanda, Inggris, dan Jepang. Ya tentu ada, jangankan Soekarno, HOS Tjokroaminoto, Bung Hatta, Sutan Sjahrir ataupun Tan Malaka. Ulama pun ada karena itu tadi, dalam Islam pun sudah ada unsur-unsur ideologi itu. Yang kapitalis tu contohnya Sarikat Islam yang awalnya dari Serikat Dagang Islam yang isinya banyak para pedagang. Yang komunis apalagi ada Haji Misbach yang mempopulerkan Islam Komunis, Datuak Batuah, bahkan kalau dilihat lagi Tan Malaka juga orang dari kalangan agama. Apalagi yang cerita Bung Karno itu, komunis tapi taat beragama.

Sekali lagi saya katakan, pemikiran-pemikiran itu sudah ada dalam Islam. Kalau negara yang gak banyak islam, ujung-ujungnya juga akan terbagi dalam dua hal itu. Kayak Amerika jadi dua, yang dukung pengusaha ya partainya republik dan yang dukung adanya kesejahteraan sosial ya demokrat. Di Eropa juga gitu. Tiongkok aneh lagi, sistem negara komunis tapi dengan aktivitas kapitalis. Kalau korea utara, venezuela fokus aja dengan komunis.

Lagi pula Tere Liye juga tak menyebut komunis, pemikir sosialis, pendukung liberalis itu persisnya yang mana. Kalau jelas disebut contohnya kalau komunis itu PKI, ya emang salah Tere Liye. Penjelasannya seperti yang dikatakan Soekarno itu. Kalau PKI dianggap jahat ya menurut saya itu karena penyalahgunaan atau distorsi itu tadi, kalau sekarang itu istilahnya adalah oknum. Karl Marx kalau masih hidup tentu juga mengutuk aplikasi teorinya yang disalahgunakan oleh Lenin.

Karena apabila itu konteknya sistem negara, politik tak bisa dilepaskan. Jangankan dari orang komunis, orang yang mengatasnamakan agama pun ada yang menyalahgunakan wewenang kekuasaan. Sebab politik itu dinamis. Ada ungkapan kelompok yang melawan penindasan rakyat, ketika sudah menjadi penguasa 1 detik saja sudah bisa berbalik untuk juga melakukan penindasan. Jadi seperti sering dikatakan Bang Karni untuk tujuan sesuatu yang baik saja jika dilakukan dengan kekerasan dan paksaan pasti hasilnya akan tidak baik, apalagi yang tujuannya untuk kejahatan.
Pewarta :
Editor: Bayu Agustari Adha
COPYRIGHT © ANTARA 2016

Komentar