
Upaya Konservasi Lewat Unit Konservasi Gajah, Rawat hingga Latih Satwa Dilindungi

Pekanbaru (ANTARA) - Di tengah hamparan hutan tanaman industri yang dikelola PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), denyut konservasi tetap dijaga. Perusahaan yang berada di bawah grup APRIL itu membangun dan mengembangkan Unit Konservasi Gajah (UKG) sebagai bagian dari komitmen pelestarian satwa liar, khususnya gajah Sumatera yang kian terdesak ruang hidupnya.
Unit Konservasi Gajah (UKG) tersebut bukan sekadar fasilitas kandang, melainkan pusat perawatan, pelatihan, sekaligus edukasi tentang pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem. Di sana, tujuh ekor gajah dirawat, dilatih, dan dipantau kesehatannya secara berkala oleh tim mahout dan tenaga teknis.
Salah satu gajah yang menjadi perhatian adalah April, gajah jantan berusia 32 bulan yang lahir pada 6 April. Anak gajah itu tumbuh aktif di bawah pengawasan induknya, Carmen, yang kini berusia 17 tahun. Di sudut lain, Ika, gajah betina berusia 40 tahun, menjadi salah satu gajah senior yang dirawat di lokasi tersebut.
Keberadaan UKG merupakan sebuah langkah yang dinilai bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keseimbangan antara kegiatan operasional dan pelestarian lingkungan.

Asisten Kepala (Askep) Forest Protection RAPP Angga Defila Yoelanda menjelaskan keberadaan UKG ini mampu meningkatkan populasi gajah.
“Awalnya kami hanya memiliki tiga gajah, namun seiring penguatan komitmen konservasi, kini bertambah menjadi tujuh ekor. UKG ini menjadi pusat perawatan sekaligus pelatihan, dengan mahout yang terlatih untuk memastikan kesejahteraan satwa,” ujar Angga..
Menurut dia, peningkatan jumlah gajah tersebut tidak hanya menunjukkan keberhasilan dalam pengelolaan, tetapi juga tanggung jawab jangka panjang dalam mendukung pelestarian satwa dilindungi.
Di balik aktivitas konservasi itu, terdapat sembilan mahout yang setiap hari mendampingi dan merawat gajah. Setiap tiga mahout bertanggung jawab atas dua ekor gajah. Mereka tidak sekadar memberi makan, tetapi juga memandikan, memeriksa kondisi fisik, hingga melakukan patroli konservasi di kawasan sekitar.
Angga juga menjelaskan fasilitas UKG dirancang untuk memenuhi standar perawatan satwa.
“Di sini ada hanggar sebagai tempat berteduh gajah, kandang jepit untuk memudahkan pemeriksaan kesehatan, serta sarana edukasi bagi pengunjung yang ingin mengetahui lebih jauh tentang konservasi gajah,” kata Angga.
Kandang jepit, lanjutnya, digunakan saat gajah perlu pemeriksaan medis lebih detail, termasuk pengambilan sampel atau pemberian tindakan tertentu. Seluruh prosedur dilakukan dengan pendekatan kesejahteraan satwa.
Selain itu, pawang gajah atau mahout UKG, Joko menjelaskan tim juga menyiapkan pakan tambahan berupa ekstrak puding gajah, yang dibuat dari campuran bahan bernutrisi untuk menunjang kesehatan. Proses pembuatan puding itu menjadi bagian dari edukasi kepada pengunjung, terutama pelajar, mengenai kebutuhan nutrisi gajah.
“Puding gajah ini kami buat untuk memastikan asupan nutrisi tercukupi, terutama bagi gajah yang membutuhkan perhatian khusus. Ini juga menjadi media edukasi agar masyarakat paham bahwa merawat gajah tidak sesederhana memberi makan rumput,” ujarnya.
Dalam aspek kesehatan, UKG bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Kolaborasi itu mencakup pemeriksaan rutin, penanganan medis, hingga tindakan khusus jika terdapat gajah liar yang sakit di sekitar kawasan.
Angga menjelaskan, perawatan intensif diberikan apabila terdapat gajah yang sedang hamil. “Jika ada gajah yang hamil, kami lakukan pemantauan ketat dan pemberian vitamin secara berkala. Kami ingin memastikan induk dan anaknya sehat hingga proses kelahiran,” katanya.
Tak hanya gajah yang berada di dalam unit, tim UKG juga siap membantu penanganan gajah liar yang mengalami gangguan kesehatan. Pendekatan ini, menurut Angga, penting untuk menjaga populasi gajah Sumatera yang terus menghadapi tekanan akibat penyempitan habitat.
Kawasan sekitar UKG juga terintegrasi dengan Green Belt, yakni wilayah yang dipertahankan sebagai ekosistem alami. Angga dan Joko, yang terlibat dalam pengelolaan kawasan tersebut, mengatakan Green Belt memiliki fungsi ekologis vital.
“Green Belt ini kami pertahankan karena di dalamnya terdapat sumber air dan habitat alami. Kawasan ini menjadi koridor penting bagi satwa, termasuk gajah, agar tetap memiliki ruang gerak dan akses terhadap sumber daya alam,” ujar Angga.
Keberadaan sumber air di dalam Green Belt dinilai krusial, tidak hanya bagi satwa, tetapi juga bagi keberlanjutan lanskap secara keseluruhan. Kawasan itu berfungsi sebagai penyangga ekosistem dan menjadi bagian dari strategi pengelolaan berbasis bentang alam.
Di tingkat operasional, kegiatan mahout tidak hanya berfokus pada perawatan di dalam area UKG. Mereka juga melakukan patroli konservasi untuk memantau kondisi kawasan dan memastikan tidak terjadi gangguan terhadap satwa maupun habitatnya.
Mahout yang bertugas telah mendapatkan pelatihan khusus dalam menangani gajah, termasuk teknik komunikasi dan pendekatan yang aman. Erik menegaskan bahwa peran mahout sangat sentral dalam keberhasilan program.
“Mahout adalah ujung tombak. Mereka bukan hanya pelatih, tetapi juga sahabat bagi gajah. Hubungan emosional yang terbangun membuat proses perawatan dan pelatihan berjalan lebih efektif,” katanya.
Seiring bertambahnya jumlah gajah dari tiga menjadi tujuh ekor, kebutuhan sumber daya manusia dan fasilitas juga meningkat. Namun, perusahaan memastikan penguatan kapasitas berjalan seiring dengan pertumbuhan tersebut.

Di tengah tantangan konflik manusia dan satwa liar yang kerap terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, model pengelolaan seperti UKG dinilai menjadi salah satu pendekatan yang dapat memperkecil risiko sekaligus memperkuat konservasi.
Bagi RAPP, UKG bukan sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan, melainkan bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang. Keberadaan fasilitas itu diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian gajah Sumatera sekaligus meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Di bawah rindangnya pepohonan dan suara gemerisik daun, April sesekali berlari kecil mendekati induknya. Di sanalah, konservasi tidak lagi sekadar wacana, tetapi hadir dalam keseharian: dalam balutan dedikasi mahout, pengawasan kesehatan yang ketat, serta komitmen menjaga ruang hidup satwa yang kian terbatas.
Pada kesempatan yang berbeda, dalam upaya melestarikan serta meningkatkan pengamanan terhadap perlindungan satwa gajah, Balai Taman Nasional Tesso Nilo memperketat patroli kawasan dan mendorong sinergi lintas pemangku kepentingan untuk memberantas jerat satwa liar usai kematian seekor anak gajah akibat terjerat di dalam area konservasi tersebut.
“Kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam. Bagi kami ini merupakan pukulan keras bahwa masih terjadi kegiatan yang menyebabkan kematian satwa liar di kawasan hutan,” kata Kepala Balai TNTN Heru Sutmantoro.
Heru menegaskan diperlukan larangan keras serta sanksi tegas terhadap pelaku pemasangan jerat di seluruh kawasan hutan, baik konservasi, lindung, maupun produksi. Ia menyebut pelaku kerap berdalih jerat dipasang untuk babi hutan yang tidak dilindungi undang-undang.
“Memasang jerat di kawasan hutan apa pun harus dilarang dan pelakunya harus disanksi tegas,” katanya.
Balai TNTN juga meningkatkan penjagaan dengan dukungan 230 personel TNI yang saat ini turut mengamankan kawasan.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memberantas jerat satwa yang menjadi ancaman utama, khususnya bagi gajah, karena ukuran jerat yang dipasang untuk satwa tidak dilindungi kerap menjerat anak gajah yang memiliki telapak kaki lebih kecil dibandingkan gajah dewasa.
Pewarta : Darto
Editor:
Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026

