Logo Header Antaranews Riau

Iran Tuntut Pembebasan Kapal Touska, Peringatkan Konsekuensi Serius ke AS

Selasa, 21 April 2026 16:36 WIB
Image Print
Ilustrasi - Kapal tanker minyak Inggris Stena Impero dikelilingi oleh kapal cepat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) di Selat Hormuz, Iran, yang dirilis pada 21 Juli 2019. (ANTARA/Xinhua/HO-ISNA/Morteza Akhoundi/aa.)

Teheran (ANTARA) - Iran menuntut pembebasan segera awak kapal dagang Touska, yang disita Amerika Serikat di Teluk Oman, termasuk keluarga awak yang berada di kapal tersebut, menurut Kementerian Luar Negeri Iran, Selasa.

Pada Minggu (19/4), Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah menyita kapal berbendera Iran itu, yang disebut berusaha menembus blokade AS di Teluk Oman.

"Republik Islam Iran, seraya memperingatkan konsekuensi serius dari tindakan ilegal dan kriminal Amerika Serikat, menegaskan perlunya pembebasan segera kapal Iran tersebut, awaknya, dan keluarga mereka," kata Kemlu Iran dalam pernyataannya.

Baca juga: China Kecam Keras Penyitaan Kapal Iran oleh AS, Ancam Stabilitas Kawasan

Iran pun mengecam keras penyitaan itu dan menyebut tindakan AS sebagai pembajakan maritim serta pelanggaran terhadap Piagam PBB, prinsip hukum internasional, dan juga gencatan senjata, kata kementerian tersebut.

Senin (20/4), juru bicara markas pusat Khatam Al-Anbiya militer Iran, Ebrahim Zolfaghari, mengatakan bahwa Iran akan mengambil tindakan yang diperlukan terhadap pasukan AS setelah memastikan keselamatan awak kapal yang dibajak.

Pada akhir Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Ibu Kota Teheran, hingga menyebabkan kerusakan dan menewaskan warga sipil.

Baca juga: Iran Tegas: Negosiasi dengan AS Harus Berlandaskan Hukum Internasional

Kemudian, pada 7 April, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan dan dilanjutkan dengan negosiasi di Islamabad, Pakistan, pada 11 April, yang berakhir tanpa hasil.

AS kemudian memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran dan para mediator kini berupaya mengatur perundingan putaran berikutnya.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026