Logo Header Antaranews Riau

Beredar surat sumpah Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid bantah tuduhan

Senin, 12 Januari 2026 13:58 WIB
Image Print
Surat tulisann tangan yang disampaikan berasal dari Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid terkait dugaan permintaan fee yang ditangani KPK. (ANTARA/HO-TPF PUPR)

Pekanbaru (ANTARA) - Tim Pencari Fakta (TPF) Operasi Tangkap Tangan di Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Riau mengungkapkan alasan untuk tetap meyakini bahwa Gubernur Riau Abdul Wahid nonaktif tidak melakukan perbuatan sebagaimana yang dituduhkan.

Ketua TPF OTT PUPR, Rinaldi menegaskan, keyakinanan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengintervensi proses hukum maupun mengubah status hukum yang telah ditetapkan Komisi Pemberantasan korupsi RI terhadap Abdul Wahid selaku Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa Riau. Namun, sebagai tim yang sejak awal berkomitmen mencari fakta, TPF merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjelaskan dasar pijakan sikapnya kepada masyarakat.

“Sudah saatnya kami membuka kepada publik alasan utama mengapa kami tetap konsisten mengawal perkara ini. Keyakinan kami tidak berdiri di ruang kosong, apalagi sekadar sentimen personal. Kami memegang satu hal yang bagi kami sangat fundamental, yakni sumpah secara Islam yang ditandatangani langsung oleh Abdul Wahid, yang menyatakan bahwa dirinya tidak melakukan perbuatan sebagaimana yang dituduhkan,” katanya.

Menurut Rinaldi, sumpah tersebut telah diterima TPF sejak November 2025. Akan tetapi TPF secara sadar memilih menunda penyampaiannya ke ruang publik hingga momentum dinilai tepat, agar masyarakat memperoleh gambaran utuh mengenai alasan keberpihakan moral TPF dalam mengawal perkara ini.

Adapun isi sumpah yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim
Kepada masyarakat Riau yang kami cintai karena Allah.

Wallahi
Billahi
Tallahi
1. Saya meminta maaf dan keikhlasan atas segala kesalahan dan kejadian yang Bapak/Ibu lihat dan dengar dari media;

2. Saya tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan kepada saya, baik meminta fee maupun setoran kepada ASN, apalagi hingga mengancam mutasi apabila tidak diberikan;

3. Saya tidak pernah melakukan janji temu kepada siapa pun terkait serah terima uang yang dituduhkan akan ditujukan kepada saya;

Saya menguatkan apa yang disampaikan istri saya bahwa uang yang berada di rumah kami di Jakarta Selatan yang disita KPK merupakan tabungan untuk biaya kesehatan anak.

Jika saya berbohong atas sumpah ini, maka Allah Maha Adil.Wamakaruu wa makarallah. Wallahu khairul maakirin.
(Tandatangan Abdul Wahid)

Lebih lanjut, Rinaldi menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Abdul Wahid, PKB, serta pihak-pihak terkait apabila pengungkapan sumpah ini tidak dikehendaki. Namun, menurutnya, menyembunyikan sumpah tersebut justru merupakan beban moral yang tidak dapat terus dipikul.

“Bagi kami, kebenaran, pengakuan, dan sumpah atas nama Allah adalah bentuk pertanggungjawaban tertinggi seorang manusia beriman. Kami tidak cukup kuat untuk terus mendiamkannya. Selebihnya, kami serahkan kepada hukum dan keadilan Allah bagi siapa pun yang mengetahui kebenaran namun memilih menyembunyikannya,” tandasnya.

Rinaldi menutup dengan menegaskan kembali komitmen awal pembentukan TPF, yakni bekerja secara independen, tidak digaji, tidak terikat kepentingan partai politik mana pun - termasuk PKB - serta berlandaskan pencarian kebenaran yang sebenar-benarnya.



Pewarta :
Editor: Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026