Vaksin jadi penyelamat jutaan nyawa, tetapi dunia kembali waspada: campak merebak di 59 negara

id Campak

Vaksin jadi penyelamat jutaan nyawa, tetapi dunia kembali waspada: campak merebak di 59 negara

Ilustrasi - Campak. (ANTARA/HO-Sutterstock)

Jakarta (ANTARA) - Kabar baik sekaligus bikin waspada datang dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Jumat lalu, mereka merilis laporan terbaru soal campak — penyakit yang sebenarnya bisa dicegah lewat vaksin. Hasilnya? Kematian akibat campak sudah turun 88% sejak tahun 2000, dan vaksin campak diperkirakan telah menyelamatkan hampir 59 juta nyawa. Keren banget, kan?

Baca juga: Kasus campak banyak di Pekanbaru, Dinkes Riau berikan imunisasi tambahan

Tapi di balik angka positif itu, ada tren yang justru mengkhawatirkan. Kasus campak malah naik cepat di seluruh dunia. WHO mencatat ada 11 juta infeksi sepanjang 2024, atau hampir 800 ribu lebih banyak dibanding 2019, sebelum pandemi mengguncang layanan imunisasi.

Lebih ngeri lagi, kasus wabah campak tahun 2024 hampir tiga kali lipat dibanding 2021, dan terjadi di 59 negara — angka tertinggi sejak pandemi COVID-19.

Secara regional, kenaikannya beda-beda.

Timur Tengah: naik 86%

Eropa: naik 47%

Asia Tenggara: naik 42%

Sementara Afrika justru membaik, dengan penurunan 40% kasus dan 50% kematian.

Masalah utamanya ada di cakupan vaksinasi yang belum merata. WHO dan UNICEF memperkirakan 84% anak sudah mendapatkan dosis pertama, tapi hanya 76% yang mendapat dosis kedua, padahal dua dosis ini penting banget untuk perlindungan penuh.

Campak juga bukan penyakit ringan. Sekali kena, seseorang berisiko mengalami efek jangka panjang yang serius, seperti kebutaan, pneumonia, atau ensefalitis — pembengkakan otak yang bisa menyebabkan kerusakan permanen.

Baca juga: Vaksin Campak Penting bagi Anak: Cegah Komplikasi Sejak Dini

WHO juga mewanti-wanti bahwa pemotongan dana program campak dan rubella bisa membuka celah kekebalan dan memicu wabah baru pada 2026. Jadi meskipun kematian menurun, penyakit ini tetap super menular, dan dunia harus ngegas lagi dalam urusan vaksinasi.

Sumber: Antara/Sputnik-OANA

Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.