
Dibalik jeruji, doa warga binaan Tionghoa tetap menyala di Lapas Bengkalis

Bengkalis (ANTARA) - Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Lapas Kelas IIA Bengkalis, keheningan pagi Selasa (17/2) terasa berbeda. Tahun Baru Imlek 2026 disambut dengan langkah-langkah tenang dan doa yang dipanjatkan perlahan sebuah perayaan sederhana, namun sarat makna kemanusiaan.
Sebanyak 25 warga binaan beretnis Tionghoa berkumpul di ruang ibadah yang telah disiapkan. Kepulan dupa menguar pelan, menyatu dengan hening yang khusyuk. Di sana, waktu seolah melambat, memberi ruang bagi batin untuk menata harapan.
Ritual sembahyang berlangsung tertib. Setiap gerak dan bisik doa menjadi pengikat kebersamaan, menghadirkan rasa keluarga di tempat yang kerap dipersepsikan dingin. Imlek di balik jeruji tak kehilangan maknanya justru menemukan keheningan yang mendalam.
Perayaan ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan wujud nyata pemenuhan hak beragama. Pelaksanaannya berlandaskan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan, yang menjamin kebebasan beribadah bagi setiap warga binaan selama masa pembinaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Bengkalis, Priyo Trilaksno, menegaskan bahwa seluruh rangkaian ibadah berjalan di bawah pengawasan petugas. Anggota jaga bersama staf Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimkemaswat) memastikan kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar.
Menurut Priyo, Imlek menjadi momentum refleksi spiritual. Di tengah proses pembinaan, perayaan ini memberi ruang menenangkan batin, menguatkan mental, serta menumbuhkan harapan akan hari esok yang lebih baik.
“Meski berada di dalam jeruji besi, lapas tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi warga binaan Tionghoa untuk menjalankan ritual keagamaan sesuai keyakinan,” ujarnya. Kebijakan ini, lanjutnya, merupakan bagian dari pembinaan kepribadian yang komprehensif dan humanis.
Ia juga menginstruksikan jajaran Seksi Binadik untuk mengawal kegiatan dengan penuh tanggung jawab dan berpedoman pada standar operasional prosedur (SOP) keamanan. Pengawasan dilakukan tanpa mengurangi kesakralan ibadah.
Keseimbangan antara keamanan dan penghormatan nilai-nilai keagamaan menjadi kunci. Kehadiran petugas dimaksudkan menjaga ketertiban, sekaligus memastikan setiap doa dapat dipanjatkan dengan tenang.
"Sebagai bentuk transparansi, kegiatan ini kita laporkan kepada Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Provinsi Riau. Di balik jeruji besi, Imlek 2026 menjadi pengingat: harapan, doa, dan kemanusiaan tetap menyala," kata Priyo.
Pewarta : Alfisnardo
Editor:
Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026

