Logo Header Antaranews Riau

Menjelang Haji Di Tanah Suci

Sabtu, 29 September 2012 05:00 WIB
Image Print

Sudah dua hari ini kepadatan Masjidil Haram mulai terasa. Terutama saat mendekati waktu sholat lima waktu, hal ini dikarenakan hampir setiap hari jumlah jamaah haji yang datang bertambah terus.

Bus nagabah (angkutan umum) mulai nampak lalu lalang membawa jamaah yang baru sampai dari Jeddah.

Walaupun masih dipenuhi oleh jamaah haji dari India, Pakistan dan Bangladesh, namun sudah mulai tampak jamaah penuh dari beberapa negara Arab.
Bahkan untuk hari ini setelah menunaikan Sholat Subuh di Masjidil Haram, tiba pula rombongan jamaah dari negara tetangga Malaysia dan Thailand.

Dengan berpakaian ihram, merekapun memasuki Masjid Haram untuk melaksanakan umrah.

Sementara dari Indonesia, baru petugas haji tampak dengan mengenakan pakaian rompi berwarna biru diserti tulisan "Petugas Haji Indonesia" yang terletak dibagian belakang punggungnya.

Petugas haji Indonesia dari Kanwil Kemenag Sumatera Utara Rita Nasution mengungkapkan, jamaah haji dari daerah asalnya akan segera tiba.

"Kloter pertama jemaah embarkasi Medan baru memasuki kota Makkah tanggal 30 September dan mereka akan menempati sektor 11 di daerah Bakhutmah yang berjarak 2,5 kilo meter dari Masjidil Haram," katanya.

Untuk musim haji tahun ini, akan semakin banyak kemudahan yang akan dinikmati oleh para tamu-tamu Allah itu.

Seperti di pelataran luar Masjid Haram, saat ini sudah terdapat beberapa tempat wudhuk yang terdiri lebih lima puluh kran air. Sehingga bagi mereka yang ingin berwudhuk, tidak perlu lagi turun ke tempat wudhuk yang ada dibawah pelataran halaman masjid.

Namun bagi mereka yang ingin bersuci dan buang air, tetap saja harus turun ke bawah. Minimal kesulitan untuk berwuduk yang selama ini dirasakan jamaah, sudah mulai teratasi.

Untuk belanja, makan dan minum saat ini pun tidak lagi ada kendala. Walaupun banyak kedai yang digusur akibat perluasan, namun di mal-mal yang ada di bangunan Zam Zam, Hilton dan Sofwa Orchid, banyak sekali kedai-kedai dan restoran yang menjual makanan dan minuman dengan berbagai cita rasa.

Restoran Desaji yang ada dilantai tiga komplek Sofwa Orchid misalnya, rumah makan ini menjual makanan dan minuman yang setiap hari dipenuhi oleh jamaah asal Indonesia dan Malaysia terutama yang berlidah Melayu.

"Disini terasa seperti di Malaysia," ungkap Sahidin, pilot helikopter Malaysia yang dikontrak bulan sabit merah Arab Saudi.

Di restoran itu tersedia roti cane, lontong ala Malaysia, nasi goreng teri, mie goreng dan lain-lain serta tidak lupa pula teh tarik yang juga disediakan di tempat ini.

Untuk restoran menu Indonesia, ada pujasera Zam Zam di lantai tiga dan empat. Menunya juga asli Indonesia. Harganya pun terjangkau.

Mulai kue, teh, dan susu merupakan menu sarapan pagi yang populer dikalangan jamaah haji Indonesia. Menu Melayu pun ada di lantai tiga komplek hotel Sofwa Orchid. Tinggal jamaah maunya apa.

Kondisi ini akan sangat membantu bagi jamaah haji Indonesia, yang mana selama di Makkah tidak diberikan makan alias harus belanja dan masak sendiri dengan uang "living cost" yang diberikan pemerintah.

Hanya saja, yang akan jadi kendala bagi jamaah haji yang tinggal jauh dari Masjidil Haram adalah masalah transportasi.

Karena sejak musim haji tahun lalu, mobil-mobil omprengan tidak diperbolehkan lagi masuk ke jalan-jalan dekat Masjidil Haram.

Hanya taksi resmi yang diperbolehkan mengantar dan mengambil jamaah disekitar masjid.

Akibatnya, jamaah harus berjalan lebih kurang 500 meter jika ingin ke Masjidil Haram.

Itulah mungkin sedikit ujian yang tampak bagi tamu-tamu Allah yang ingin menunaikan ibadah haji tahun ini.

Laporan Ibnu Mas'ud, Ketua ASITA Riau dari Tanah Suci Makkah



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026