Logo Header Antaranews Riau

PNS diajari deteksi serangan jantung

Jumat, 16 Desember 2011 10:48 WIB
Image Print

Siak, Riau, (ANTARARIAU News) - Serangan jantung masih merupakan penyebab kematian mendadak tertinggi, sehingga sangat penting bagi setiap warga, termasuk PNS di Kabupaten Siak diajari bagaimana melakukan deteksi awal terhadap serangan penyakit tersebut, sekaligus cara mengatasinya.

"Penting sekali kita mengenal gejala dan ciri-ciri penyakit jantung koroner sejak dini," kata dokter Jajang Sinardja, SpPJ FIHA, pada seminar jantung yang ditaja Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siak, Jumat (16/12).

Seminar ini diikuti secara antusias oleh sekitar 500 pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Siak, Provinsi Riau, yang digelar bekerjasama dengan pihak 'Eka Hospital'.

Dokter Jajang Sinardja, lanjut mengatakan, seminar dan berbagai kegiatan seperti ini, dimaksudkan agar kita lebih mudah mencegah serangan jantung yang menjadi salah satu penyebab kematian mendadak serta sering kali terjadi.

"Hal yang perlu dilakukan adalah selalu menjaga kesehatan jantung dengan baik. Sebab, serangan jantung masih menempati peringkat pertama penyebab kematian di Indonesia," ujarnya lagi.

Karena itulah, menurutnya, tidak salah jika kita mengenal lebih awal mengenai gejala dan ciri-ciri atau tanda-tanda penyakit jantung koroner.

"Juga mengenal tentang penyebab dan cara mencegah penyakit jantung," ungkap dokter Jajang.

Kolesterol Menempel


Selanjutnya, dokter Jajang Sinardja memaparkan, sebuah hasil penelitian menunjukkan, penyakit jantung terjadi karena adanya kolesterol.

"Kolesterol ini menempel di pembuluh darah jantung dan penyebabnya adalah mikroba. Jadi, mikroba inilah yang menjadi penyebab kolesterol berkumpul pada pembuluh darah jantung," tuturnya.

Ia kemudian menguraikan, tanda-tanda dan ciri-ciri penderita jantung koroner antara lain, terasa nyeri pada bagian dada kiri, sesak nafas, irama jantung tidak beraturan, keluar keringat dingin, lalu rasa mual dan muntah.

"Cara mencegah penyakit jantung adalah menerapkan pola makan yang sehat, olah raga yang teratur, berhenti merokok dan menjaga tubuh dari kegemukan," jelasnya.

Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Siak, Amzar, mengatakan, tingginya kasus kematian akibat serangan jantung menjadi dasar untuk memberikan pengetahuan yang jelas kepada para PNS beserta keluarganya.

Ia juga mengatakan, penyakit berbahaya tersebut berada pada peringkat nomor satu penyebab kematian dan kasus kematian setiap tahunnya terus mengalami peningkatan.

"Jadi, wajar jika angka kematian akibat penyakit jantung di Indonesia saat ini masih terbilang sangat tinggi," ungkapnya.

Salah satu faktor penyebab tingginya angka kematian akibat penyakit jantung, menurutnya, karena masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat tentang bahayanya terserang penyakit jantung.

"Karena itu, mesti dilakukan upaya untuk menekan laju angka kematian akibat penyakit jantung ini. Upaya bersama ini harus berlangsung secara sinergis dan berkelanjutan dalam meningkatkan kampanye mengenai bahaya penyakit jantung," ujarnya.

Dalam hal ini, lanjutnya, Pemerintah Kabupaten Siak memberikan apresiasi dan penghargaan yang tulus kepada pihak 'Eka Hospital', yang telah sudi memberikan pengetahuan masalah kesehatan jantung kepada para PNS di jajaran Pemkab Siak.
Dia juga mengatakan, penyakit tersebut menyerang tidak melihat faktor usia dan status sosial.

"Kaya-miskin, tua-muda, banyak menjadi korban akibat penyakit tersebut. Oleh karenanya, untuk mengurangi resiko terserangnya penyakit jantung, pengetahuan dan berprilaku hidup sehat serta aktif berolahraga sangat diperlukan," kata Amzar.

Acara yang digelar usai dengan pelaksanaan senam bersama Jumat tersebut dihadiri oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejateraan Rakyat, Sadikin, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Syafrilenti, dan Kepala BKD, Lukman.

Beberapa pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemkab Siak, seluruh PNS dan tenaga honorer mengikuti seminar itu, yang juga dihadiri Direktur 'Eka Hospital', Dr Ella Nurlaila, MM beserta stafnya.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026