Logo Header Antaranews Riau

Melayu Riau Dalam Transisi

Sabtu, 24 September 2016 15:16 WIB
Image Print

Apa tanda hidup merugi, terhadap ilmu tidak perduli/apa tanda hidup merugi, sejak muda malas mengaji.

Larik-larik yang bermuatan nasihat dan dirumuskan dalam konstruksi rima itu ditorehkan Tenas Effendy, budayawan Melayu Riau yang tutup usia setahun silam.

Mengaji? Ya, itulah aktivitas yang bukan sekadar mendaras tapi juga menelaah, menyelidik dan memaknai. Memaknai apa? Ya, hidup ini.

Melayu sebagai entitas etnis maupun geografis sangatlah beragam dan begitu luas. Merujuk pada Melayu Riau saja sudah cukup beragam dan kompleks tali-temalinya.

Mencoba menggali apa yang kini berdenyut di Melayu Riau, seseorang perlu mendengar pikiran bahkan kegelisahan kaum penjaga adat yang aktif di Lembaga Adat Riau atau kaum akademisi yang berkiprah di kampus bumi Lancangkuning itu.

Tampaknya, Lembaga Adat Riau yang kini di bawah kepemimpinan Datuk Sri Al Azhar tengah menjadi semacam institusi pengayom bagi kaum Melayu Riau pedalaman yang tak habis-habisnya didera masalah.

Inilah penuturan Al Azhar yang kantornya berkali-kali menjadi tempat penampungan orang-orang yang datang dari Riau pedalaman.

"Kami belum sanggup mengubah tangis menjadi tawa. Kami baru bisa menangis bersama," kata Ketua Lembaga Adat Riau itu.

Warga pribumi Riau adalah korban eksploitasi hutan menjadi sumber ekonomi sejak lama. Penderitaan mereka kian menjadi-jadi dengan masuknya politik pemanfaatan hutan menjadi lahan perkebunan kelapa sawit.

Konflik lahan pun tak terelakkan. Lahan jutaan hektare itu menjadi rayahan kaum pembesar di pusat kekuasaan berskala nasional, regional maupun lokal. Warga pemilik lahan adat pun menjadi pemilik paling tak berdaya dalam konflik pemilikan lahan yang multi skandal itu.

Warga pribumi yang menghuni di kantung-kantung di Riau pedalaman belakangan kian diharubiru dengan bencana asap yang mencekik pernapasan warga.

Al Azhar membayangkan dalam waktu dekat menemukan solusi bagi persoalan warga Melayu Riau pedalaman yang populasi aslinya kian tergusur oleh pendatang sangatlah sulit.

Jumlah Melayu Riau asli kian terkalahkan oleh para pendatang. Mereka bisa etnis dari Jawa atau Melayu bukan Riau seperti Melayu Minang, atau Melayu Medan.

Namun, problem ini bukan persoalan utama dalam peta masalah dalam membangun masa depan Melayu Riau. Persoalan utama adalah mengembalikan ekosistem hutan-hutan Riau untuk tak diteruskan menjadi sumber eksploitasi ekonomis.

Ada desain kebijakan yang menjanjikan buat warga Melayu Riau di pedalaman. Desain itu berbasis transformasi dari eksploitasi hutan menjadi hilirisasi produk perkebunan.

Di sinilah, tentu dalam jangka waktu yang panjang, impian Al Azhar untuk mengubah air mata warga Melayu Riau pedalaman menjadi tawa bisa direalisasikan. Di sini negara diminta membantu mengundang penanam modal untuk berinvestasi membangun pengolahan produk tanaman sawit di bumi Lancangkuning.

Harus diakui bahwa apa yang terjadi di bumi yang melahirkan Raja Ali Haji itu merupakan bukti-bukti faktual bahwa kekuasaan yang dibangun dengan tangan besi dan bedil di era prareformasi berakhir pada ketidakadilan yang bengis.

Hasil kekayaan dari minyak bumi, eksploitasi hutan yang sebagian dihuni masyarakat adat telah diangkut untuk memakmurkan bagian penduduk yang lain dengan membiarkan suku-suku Melayu Riau pedalaman tetap dalam ketertinggalan dan keterpurukan.

Kota-kota besar di Tanah Air boleh jadi kecipratan rezeki alam Riau pedalaman. Pekanbaru sebagai ibukota Riau juga memperlihatkan kota yang dihias oleh bangunan megah dan menawan. Seyogyanya tak ada yang tertinggal merana dalam perjalanan gerbong pembangunan gedung-gedung yang keren mentereng itu.

Salah satu bangunan yang memukau di Pekanbaru adalah gedung Perpustakaan Riau. Di ruang-ruang yang tak diimbangi dengan kekayaan literatur itu, tersimpanlah kitab Tunjuk Ajar Melayu karya agung putra Melayu Riau Tenas Effendy.

Sebuah ironi yang getir pun tak terelakkan berlangsung di dalam sejarah politik modern di bumi Lancangkuning itu. Para pemimpin politik di bumi itu secara beruntun tersangkut korupsi, skandal duniawi, yang justru menjadi poin sentral wanti-wanti dalam filosofi hidup puak Melayu Riau.

Para leluhur Melayu Riau mengendapkan ajaran hidup yang selamat bukan saja di alam fana ini, tapi juga yang baka. Keselamatan dunia dan akhirat menjadi akhir dalam segala aktivitas. Namun, fenomena yang berseberangan dengan isi filosofi itu dipertontonkan para pemimpin politik di bumi Lancangkuning itu.

Apakah dengan demikian petuah, nasihat, pepatah petitih, syair dan gurindam yang berisi wejangan hidup yang selamat sudah mulai ditinggalkan kaum Melayu Riau yang terdidik dalam ilmu pengetahuan umum?

Tampaknya, ada satu hipotesis yang bisa diajukan di sini bahwa skandal penylahgunaan kuasa yang beraspek finansial belum terhayati oleh elite Melayu Riau.

Dalam teks yang diabadikan lewat Tunjuk Ajar, yang ditekankan sebagai Melayu sejati tak secara harfiah mengacu pada penyelewengan kuasa macam itu. Di situ yang jadi fokus sebagai jati diri Melayu adalah yang tak pendendam, pemaaf, tak sombong, pemurah, suka memberi.

Suka memberi, pemurah adalah bagian jati diri Melayu Riau yang agaknya perlu diamalkan secara etis total. Artinya, yang diberikan itu bukanlah hasil dari penyalahgunaan kuasa.

Tampaknya, jati diri Melayu itu tengah diuji lewat perubahan transisional yang menghadirkan peluang-peluang yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Namun, sesungguhnya, Tunjuk Ajar Melayu telah paripurna menuntun setiap orang untuk bertindak benar, tidak berkorupsi. Larik-larik inilah yang bisa jadi pedoman itu: dalam berusaha ada kaidah/ dalam berkawan ada pedoman.

Dalam menyaksikan sisi-sisi kelam yang terjadi di bumi Lancangkuning hari-hari ini, Al Azhar mengatakan optimistis bahwa masih ada cahaya cerah di tanah Melayu Riau di masa depan.
Oleh: Mulyono Sunyoto