
Angka kelahiran di Riau terus menurun, pada 2025 rata-rata 2,22 anak satu keluarga

Pekanbaru, (ANTARA) - Badan Pusat Statistik Provinsi Riau mencatat angka kelahiran total atau "total fertiliy rate" (TFR) daerah setempat berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (Supas) 2025 turun menjadi 2,21 dari angka 2020 sebesar 2,28.
Kepala BPS Riau Asep Riyadi mengatakan
angka kelahiran total menggambarkan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan hidup oleh seorang perempuan selama masa reproduksinya (15-49 tahun). Hasil Supas 2025 menunjukkan tren penurunan masih konsisten selama lebih dari satu dekade terakhir. Pada 2010 sebesar 2,82.
"Penurunan ini menegaskan bahwa tren penurunan fertilitas masih berlanjut
meskipun dengan laju yang lebih landai dibandingkan periode-periode sebelumnya. TFR hasil Supas 2025 mengindikasikan bahwa Provinsi Riau semakin mendekati 'replacement level'," katanya di Pekanbaru, Kamis.
Lebih lanjut dikatakannya, tingkat fertilitas di Provinsi Riau bervariasi
setiap kabupaten/kota. Kota Pekanbaru merupakan daerah dengan TFR terendah yaitu sebesar 2,04, sedangkan Kabupaten Bengkalis
tertinggi yaitu sebesar 2,53.
"Disparitas ini mencerminkan perbedaan karakteristik sosial, budaya, ekonomi, dan akses layanan kesehatan reproduksi antar wilayah," ungkapnya.
Berdasarkan kelompok umur, penurunan fertilitas tertinggi terjadi pada perempuan usia 15-24 tahun. Di kelompok umur itu kelahiran menurun dari 43,90 kelahiran per 1.000 perempuan pada 2010 menjadi 11,08 pada 2025.
Sementara itu, puncak fertilitas selama periode tersebut masih berada pada kelompok umur 25-29 tahun, meskipun mengalami penurunan dari 155,70 menjadi 128,73.
Di sisi lain, terjadi pergeseran pola fertilitas dibandingkan tahun sebelumnya yang ditandai dengan meningkatnya
kelahiran pada kelompok umur 30-44 tahun berdasarkan hasil Supas 2025.
Pewarta : Bayu Agustari Adha
Editor:
Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026

