Logo Header Antaranews Riau

Survei: 61% Warga AS Nilai Perang Melawan Iran Sebagai Kesalahan Besar

Sabtu, 2 Mei 2026 12:09 WIB
Image Print
Arssip foto - Warga menghadiri unjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran di luar Balai Kota Los Angeles di California, Amerika Serikat, Sabtu (7/3/2026). (ANTARA/Xinhua/Qiu Chen/aa.)

Washington (ANTARA) - Mayoritas warga Amerika Serikat (AS) meyakini bahwa penggunaan kekuatan militer AS terhadap Iran merupakan sebuah kesalahan dan hal ini terungkap dalam jajak pendapat terbaru yang dirilis pada Jumat (1/5).

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh Washington Post-ABC News-Ipsos, sebanyak 61 persen warga AS menyatakan bahwa pengerahan kekuatan militer ke Iran adalah langkah yang keliru.

Selain itu, kurang dari dua dari sepuluh responden percaya bahwa tindakan AS di Iran membuahkan keberhasilan.

Baca juga: Pasca Perang, Iran Siap Kendalikan Jalur Vital Selat Hormuz

Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa sekitar empat dari sepuluh responden menilai operasi tersebut tidak berhasil, sementara empat dari sepuluh lainnya mengatakan "masih terlalu dini untuk disimpulkan".

The Washington Post menyebutkan bahwa perang di Iran ini "sama tidak populernya di mata warga Amerika seperti halnya Perang Irak saat puncak kekerasan pada 2006, serta Perang Vietnam pada awal 1970-an."

Meskipun demikian, jajak pendapat itu menyatakan bahwa dukungan terhadap perang di kalangan pendukung Partai Republik tetap tinggi, dengan 79 persen di antaranya mengatakan serangan tersebut adalah keputusan yang tepat.

Baca juga: Iran Ancam Blokir Bab al-Mandab, Ketegangan dengan AS Kian Memanas

Selain itu, sebagian besar warga AS meyakini bahwa aksi militer Amerika Serikat terhadap Iran membawa berbagai risiko potensial.

Di antaranya, 61 persen responden berpendapat langkah tersebut akan meningkatkan risiko terorisme yang menyasar warga AS, 60 persen percaya hal itu akan memperbesar kemungkinan ekonomi AS jatuh ke jurang resesi, dan 56 persen menyatakan bahwa tindakan AS tersebut berisiko memperlemah hubungan dengan negara-negara sekutunya.




Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026