
BKKBN sebut peran Tim Pendamping Keluarga penting tekan stunting

Pekanbaru (ANTARA) - Direktur Bina Institusi Masyarakat Pedesaan/Perkotaan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Mahyuzar menilai peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) sangat strategis dalam mendukung percepatan penurunan stunting di Indonesia.
Hal itu disampaikan Mahyuzar dalam kegiatan Diseminasi Mobilisasi Tim Pendamping Keluarga yang digelar PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) bersama berbagai mitra di Provinsi Riau pada 25–26 Juni 2025.
“Stunting bukan sekadar masalah pertumbuhan fisik, tetapi merupakan persoalan multidimensi yang berdampak jangka panjang,” kata Mahyuzar.
Ia menjelaskan saat ini sekitar 600 ribu kader TPK telah diterjunkan untuk mendukung percepatan penurunan stunting di berbagai daerah.
Namun demikian, menurut dia, tantangan di lapangan masih cukup kompleks, salah satunya belum meratanya pemahaman kader terkait tugas dan fungsi pendampingan keluarga.
Mahyuzar mengatakan TPK memiliki tugas mendata keluarga berisiko stunting, mendampingi calon pengantin, ibu hamil, ibu pascapersalinan, hingga balita, termasuk memfasilitasi rujukan ke fasilitas kesehatan apabila ditemukan kasus stunting.
“Pemerintah tengah merevisi Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 untuk memperkuat kebijakan nasional dalam percepatan penurunan stunting,” ujarnya.
Ia berharap revisi regulasi tersebut dapat memperjelas peran lintas sektor dan memperkuat intervensi penanganan stunting dari hulu hingga hilir.
Kegiatan yang menggandeng Tanoto Foundation dan Yayasan Cipta itu juga menjadi wadah berbagi praktik baik serta penguatan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung target nasional penurunan stunting secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Pewarta : Darto
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

