
Dishut Riau Pertanyakan Luas Tesso Nilo

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Dinas Kehutanan (Dishut) Riau mempertanyakan luas Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) sekitar 83.068 hektare yang dikelola secara kolaboratif antara Balai TNTN dan World Wildlife Fund for Nature (WWF) apakah bisa dipertahankan secara utuh.
"Apakah keberadaan TNTN bisa dipertahankan utuh dan bagaimana perambahan liar yang terus terjadi?. Kami tidak melihat seperti apa perjanjian Kementerian Kehutanan dan WWF, tapi faktanya gajah Sumatera makin banyak mati di TNTN," ujar Kepala Dishut Riau, Zulkifli Yusuf di Pekanbaru, Kamis.
Pihaknya, menurut dia, bukan tidak ingin menyelamatkan TNTN dari kehancuran yang terjadi seperti saat sekarang ini, meski Dishut Riau tidak terlibat langsung dalam mengelola taman nasional tersebut.
Tetapi yang dikhawatirkan, ketika dilakukan penertiban terhadap perambah liar yang sekarang tinggal di TNTN dapat menimbulkan gejolak ditengah-tengah masyarakat Tesso Nilo dan kemudian menjadi masalah.
Seperti diketahui, bedasarkan data WWF Riau jumlah perambah liar yang berasal dari luar Riau pada tahun 2009 berjumlah sekitar 1.500 kepala keluarga mendiami TNTN. Sedangkan 60 kepala keluarga diantaranya adalah masyarakat asli.
Sedangkan gajah liar yang mati secara tidak wajar dari awal tahun 2013 hingga pertengahan September berjumlah lima ekor atau sudah mendekati seratus ekor gajah yang mati sejak status Tesso Nilo ditetapkan sebagai taman nasional pada tahun 2004 akibat konflik dengan manusia.
"Jangan mentang-mentang terjadi di Riau, masalah perambahan menjadi tanggung jawab Provinsi Riau. Padahal pemerintah provinsi tidak terlibat langsung dalam mengelola TNTN, melainkan Balai TNTN bersama WWF," tegasnya.
WWF hadir sejak awal diterbitkan dari Hak Pengusahaan Hutan (HPH) atau pohon yang ditebang berdasarkan tebang pilih. Dulunya kawasan Tesso Nilo adalah Hutan Produksi Terbatas (HPT) ditingkatkan menjadi HPH dan terakhir konservasi taman nasional.
"Inilah yang kami tidak tahu, karena WWF bekerjasama dengan tidak melibatkan Pemerintah Provinsi Riau. Melainkan langsung dengan Kementerian Kehutanan," katanya.
Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan menunjuk organisasi pecinta lingkungan WWF berada di Tesso Nilo sejak tahun 2004 dalam mengelola hutan secara kolaboratif bersama Balai TNTN.
Berdasarkan analisis citra landsat tahun 2000, luas hutan di Tesso Nilo serta hutan produksi terbatas yang kemudian dijadikan areal perluasan TNTN, tutupan hutan masih mencapai 75.335 hektare.
Data Balai TNTN menyebutkan total luas kawasan hutan di TNTN yang semula 83.068 hektare, kini hanya tinggal 28.375 hektare. Dengan kata lain deforestasi yang terjadi sekitar 54.693 hektare atau 65,83 persen dan telah beralih fungsi.
Pewarta : Muhammad Said
Editor:
Muhammad Said
COPYRIGHT © ANTARA 2026

