
PSPS Yang Berharap Sihir 'Setan Merah'

Pekanbaru (Antarariau.com) - Kondisi yang menyedihkan..!!! Kalangan suporter dari berbagai organisasi pendukung klub sepak bola PSPS Pekanbaru 'dihantui' ketakukan yang luar biasa. 'Bayang-bayang' kehancuran klub kesayangan mereka itu kian mendekati kenyataan pahit. Sangat mungkin, 'pujangga biru' terdegradasi.
Krisis keuangan merasuk ke dalam 'organ' sang 'Askar Bertuah' sejak beberapa tahun silam, hingga kini mulai merambat pada krisis pemain, bagai sel kanker yang telah memasuki stadium akhir.
Menurut sejarah, Persatuan Sepakbola Pekanbaru dan Sekitarnya (PSPS) merupakan klub yang bermarkas di Stadion Khaharudin Nasutio Rumbai. Tim berjuluk Askar Bertuah ini sempat mulai mencuri perhatian para pecinta sepakbola Indonesia ketika merekrut mantan bintang Tim Nasional Indonesia seperti Kurniawan, Bima Sakti, Aples Tecuari, Sugiyantoro hingga Edu Juanda pada tahun 2000 dengan target untuk menjuarai kompetisi Liga Indonesia.
PSPS pernah menjuarai Divisi I pada musim kompetisi 1998-1999 yang membuat tim Askar Bertuah kemudian berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia.
Seiring perekrutan mantan bintang Timnas Indonesia, waktu itu PSPS sempat diunggulkan sebagai calon tim juara Liga Indonesia 1999-2000, namun hasilnya hanya menempati posisi tengah klasemen wilayah barat (saat itu kompetisi masih dibagi dalam dua wilayah).
Semenjak berdiri tahun 1955, PSPS Pekanbaru belum pernah menjuarai kompetisi kasta tertinggi Liga Sepakbola Indonesia. Relatif belum banyak dikenal pada masa Orde Baru, tahun 2008 untuk kedua kalinya PSPS berhasil menapakkan kakinya berlaga di Divisi Utama yang sekaligus diiringi dengan pergantian manajemen klub.
Hasilnya pada musim kompetisi 2009-2010, PSPS langsung promosi ke kompetisi tertinggi Liga Super Indonesia dengan predikat runner-up Divisi Utama.
Namun saat ini, klub sepak bola kebanggaan masyarakat Provinsi Riau kembali mengalami 'musibah' berat. Krisis keuangan membuat manajemen klub tidak lagi mampu mempertahankan para pemain yang satu per satu mulai hengkang.
Tidak tanggung-tanggung, sembilan pemain sekaligus dikabarkan hengkang dari Askar Bertuah.
Pelatih Kepala PSPS Pekanbaru Mundari Karya mengatakan, para pemain hengkang dari klub tersebut karena krisis keuangan yang tidak berkesudahan.
"Selain itu, mereka juga sudah tidak mendapat lagi perhatian dari sponsor utama Bupati Kampar Jefry Noer," kata Mundari.
PSPS yang biasanya bermarkas di Stadion Tuanku Tambusai Bangkinang, Kampar, praktis tidak lagi bisa menggunakan lapangan tersebut setelah sang bupati menarik diri sebagai sponsor.
Menurut Mundari, satu persatu anak asuhnya menarik diri dan pamit kepadanya meninggalkan klub usai putaran pertama Indonesia Super League (ISL).
Sejumlah pemain yang hengkang tersebut merupakan pasukan inti PSPS. Mereka di antaranya yakni dua orang striker, Rohit Candra dan Kanaoute Makan. Kemudian, gelandang serang M Ilham, Amrizal, Ade Suhendra, serta empat pemain lainnya.
Pelatih yang telah hampir dua musim menukangi PSPS itu menambahkan setelah ditinggalkan kini klub berjuluk Askar Betuah ini hanya memiliki 13 pemain untuk menghadapi leg kedua. Sunggub ironi..!!!
Kondisi pahit itu, diprediksi bakal membuat PSPS Pekanbaru terus terperosok ke 'jurang' degradasi. Setelah mengalami kekalahan beruntun, pada putaran pertama klub ini harus puas berada di papan bawah (zona degradasi) dengan menempati urutaa tiga terbawah.
Dari 17 kali bertanding, PSPS Pekanbaru hanya meraih tiga kemenangan kandang, sementara hasil tandang terus imbang bahkan lebih sering 'keok'. PSPS pun harus puas dengan hanya meraih 14 poin, diatas klub Persidafon dan Persija yang masing-masing meraih 13 dan 12 poin.
Mirip Manchester
Kondisi terpuruk PSPS Pekanbaru mirip dengan kondisi klub raksasa Manchester United di era 1902 yang ketika itu masih bernama Newton Heath Lancashire and Yorkshire Railwaiy F.C (Newton Heath LYR F.C.).
Masa itu, klub 'setan merah' ini juga nyaris bangkrut akibat terbelit hutang yang begitu berlimpah, hingga stadion yang menjadi markasnya harus tergadai demi menutupi hutang tersebut.
Namun MU dalam kondisi kritisnya tetap berusaha bertahan hingga titik 'darah' terakhir. Sebelum sempat bubar, manajemen klub akhirnya kembali menerima sokongan investasi dari J.H. Davies, selaku Direktur Manchester Breweries.
Ketika itu diadakan rapat untuk mengganti nama perkumpulan. Manchester Celtic dan Manchester Central adalah nama yang diusulkan pada awalnya. Namun, nama akhirnya ditetapkan dan Manchester United secara resmi eksis mulai 26 April 1902.
'Setan merah' akhirnya bangkit dari keterpurukan dengan terus memperjuangkan kemenangan demi kemenangan disetiap laga pertandingan.
Sempat cukup lama buasa piala, MU mengawali sejarahnya dengan meraih juara di laga pada divisi dua. Klub ini kemudian terus mengukir prestasi gemilang hingga segudang prestasi mulai dari juara Eropa, juara liga utama dan piala FA terus digarap oleh klub yang kini diasuh oleh Sir Alex Ferguson itu.
Sebuah pengharapan, klub kebanggan masyarakat Riau, PSPS Pekanbaru juga bernasib demikian. Dapat bangkit dalam situasi 'galau', menanti kedatangan sang 'dewa penyelamat', penyihir 'setan merah' untuk membangkitkan gairah perjuangan. ***4*** (T.KR-FZR)
Pewarta : Fazar Muhardi
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

