Ini alasan lada disebut "raja rempah"

id Berita hari ini, berita riau terbaru, berita riau antara, lada

Ini alasan lada disebut "raja rempah"

Petani memperlihatka biji lada yang sudah dipanen di Desa Batu Pannu, Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (14/12/2018). Harga lada di tingkat petani turun dari harga Rp120 ribu per kg menjadi Rp 50 ribu per kg karena menurunnya kualitas produksi akibat memasuki musim penghujan, hama dan permainan harga pada tingkat pengepul. (ANTARA FOTO/Akbar Tado/pd.)

Jakarta (ANTARA) - Meski bentuknya kecil, lada punya manfaat dan pengaruh yang dahsyat di dunia sampai-sampai dijuluki sebagai "raja rempah".

Pengurus Pusat Dewan Rempah Indonesia (DRI) Heru D. Wardana menuturkan, sumber-sumber dari abad ke-5 juga merekomendasikan lada untuk mengatasi masalah kesehatan.

Baca juga: Demi kejayaan rempah, Pemerintah alokasikan bibit lada unggul Rp5,5 triliun

"Sebagai pengobatan, lada hitam mengandung antioksidan tinggi," kata Heru dalam webinar "Membangkitkan Kejayaan Rempah Indonesia dan Peran Dokter di Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan", Minggu (21/11).

Lada juga yang dulu membuat penjajah datang untuk menguasai Nusantara sebagai wilayah penghasil rempah. Sebagai "raja" dari rempah, lada memang punya banyak kandungan yang bermanfaat, baik untuk masakan, obat, hingga kecantikan.

Banyak kegunaan dari lada untuk kesehatan, termasuk untuk saluran pernapasan hingga pencernaan. Heru mengatakan, ini menjadi tantangan untuk para peneliti agar bisa mengekstrak bahan-bahan aktif pada lada agar bisa dibuat menjadi produk obat yang bermanfaat bagi kesehatan.

Baca juga: Indonesia hentikan ekspor lada putih ke Vietnam, ini alasannya

Ada beberapa jenis lada, yakni lada putih, lada hitam dan lada hijau. Perbedaannya adalah dari proses mengolahnya.

Lada hitam dipanen saat buah lada belum terlalu matang, warnanya masih kehijauan, tapi sudah mengeras. Lada kemudian dipanasi dan dikeringkan sehingga kulitnya mengkerut. Secara tradisional, lada hitam biasa dipakai untuk pengobatan konstipasi, diare, insomnia hingga sakit gigi.

Lada putih dibuat dari buah lada yang dipanen saat matang, kemudian direndam dalam air mengalir, kulitnya dibuang, dicuci dan dijemur. Itulah alasannya aroma lada putih tidak setajam lada hitam, sebab ada bagian-bagian yang sudah dibuang.

Lada hijau juga dibuat dari buah yang belum terlalu matang saat dipanen, tetapi langsung dikeringkan.

Baca juga: BUMDes di Kampar ini Kembangkan Bibit Lada Perdu dan Solor, Omzet Rp100 Juta per Tahun

Menurut Peneliti Utama Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO) Kementerian Pertanian, Otih Rostiana, kualitas lada di Indonesia telah diakui dunia. Lada putih Bangka menjadi referensi mutu lada putih terbaik dimana aromanya bisa tercium dari jauh karena mengandung minyak atsiri yang tinggi, sementara lada hitam Lampung jadi referensi mutu lada hitam berkualitas.

Heru dan Otih menyatakan, Indonesia pernah menjadi produsen top lada, tapi kini justru tertinggal dari Vietnam.

"Vietnam dulu belajar menanam lada ke Bogor, sekarang dia yang menguasai," ujar Heru.

Baca juga: Pemprov Riau Dorong Petani Kembangkan Budidaya Tanaman Lada

Dia berharap rempah-rempah di Indonesia terus dieksplorasi agar berguna tak hanya untuk bumbu masakan, tetapi produk-produk lain seperti untuk kecantikan dan kesehatan untuk memberikan nilai tambah.

"Ketika jadi bahan obat, nilai tambahnya sangat besar. Bila produknya semakin luas, itu akan memberdayakan petani sehingga makin sejahtera," kata Heru.

Baca juga: 700 Batang Bibit Lada Bakal Tingkatkan Ekonomi Warga Gabung Makmur

Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2021