
Huru-hara, terorisme hingga poco-poco sang brigadir

Sekelompok pria yang didominasi kalangan remaja hingga dewasa berteriak, "kami menuntut keadilan dan jangan ada pemerasan ekonomi yang menyengsarakan rakyat."
Massa terus berteriak, dengan membawa sejumlah spanduk tuntutan "kesejahteraan rakyat", kalangan pria yang rata-rata berpenapilan "nyentrik" ini terus berjalan dan berorasi, menuntut koruptor untuk dihukum mati.
"Hukum mati koruptor, hukum mati koruptor. Jangan dibiarkan mereka memeras ekonomi rakyat seperti kami," orasi tersebut terus diteriakkan massa pengunjukrasa itu, meski siang itu, Selasa (2/10), temperatur udara tersa begitu menyengat.
Dilain sisi, puluhan aparat yang didominasi para brigadir muda tengah bersiaga dengan peralatan lengkap. Mereka membentuk formasi untuk mengantisipasi ancaman huru-hara dari para demonstran.
Penghalauan massa pengunjukrasa tersebut tidak berjalan mulus, aparat yang mengenakan pakaian hitam-hitam yang turun dilengkapi dengan tameng mendapatkan perlawanan sengit.
"Dubraaakk....," beberapa demonstrans melakukan aksi anarkis. Mereka menendangi sejumlah aparat kepolisian yang memberi batas bagi kaum pengunjukrasa.
Mendapat perlakuan tak sedap, sejumlah brigadir muda kemudian berinisiatif melakukan perlawanan dengan membentuk barisan segitiga untuk menyerang para demonstran yang kian bringas.
Alhasil, seorang pengunjukrasa cedera pada peristiwa tersebut hingga terkapar tak berdaya. Beberapa saat kemudian tim medis bersama satu unit mobil ambulan datang menuju lokasi kejadian dan membawa korban guna mendapatkan perawatan intensif.
Peristiwa huru-hara dan tindakan anarki para demonstran tersebut memang hanya sebuah simulasi pengamanan yang dilakukan para brigadir muda terlatih di acara "Upacara Penutupan Pendidikan Pembentukan Brigadir Polisi Tahun 2012". Pada acara yang dilaksanakan di halaman Seolah Polisi Negara (SPN) ini, Kepala Polisi Daerah (Kapolda) Riau Brigjen Suedi Husein juga meresmikan sebanyak 113 brigadir muda bergabung pada kesatuan Polri.
Simulasi yang diperankan para brigadir muda ini, setidaknya menjadi gambaran peristiwa yang kerap terjadi di sejumlah wilayah Tanah Air tidak terkecuali di Ibukota Riau, Pekanbaru.
Demonstrasi yang dilakukan sejumlah organisasi masyarakat serta serikat kemahasiswaan terkait sengketa politik dan antikorupsi kerap berbuah pada tindakan-tindakan anarkis. Bahkan fasilitas umum berulang menjadi korban atas kebringasan massa pengunjukrasa.
Terorisme
Selain mensimulasikan huru-hara, pasukan brigadir muda yang baru saja resmi bergabung di institusi Polri juga menggelar reka adegan terkait ancaman terorisme.
Pada simulasi terorisme ini, para brigadir muda dihadapkan dengan aksi penculikan terhadap pasangan calon Gubernur Riau dan Wakil Gubernur Riau periode 2013-2018.
Tidak tanggung-tanggung, anggota polisi muda ini langsung dihadapkan dengan para simulator kelompok teroris bersenjata yang menyandera calon pemimpin daerah.
Baku tembak antara dua kelompok antara brigadir muda dan kawanan teroris bersenjata itu pun tak terelakkan.
Layaknya gerakkan bersenjata andal, para brigadir muda ini terus berupaya melakukan penyelamatan terhadap satu pasang politikus yang menjadi korban sanderaan teroris.
Ragam formasi atraksi pada pertunjukan simulasi itu pun mewarnai pentas simulasi terorisme siang itu. "Dorr...dorrr....dorr," letusan tembakan terdesing berulang kali. Beruntung, pada simulasi tersebut terorisme dan para brigadir muda itu tidak menggunakan peluru aktif sehingga tidak sampai jatuh korban jiwa.
Setelah adegak baku tembak berlangsung sukup alot, akhirnya para brigadir muda dengan wajah-wajah keberanian mereka, berhasil menyelamatkan para sandera serta meringkus selurug teroris.
Atraksi simulasi pun berakhir dengan kemenangan pagi pihak Polri. Layaknya sebuah pengungkapan kasus pemboman di beberapa wilayah Tanah Air yang terjadi dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.
Suhu udara ketika itu masih tetap terasa panas, bercampur dengan serpihan debu yang berterbangan dibawa tiupan angin yang berhembus sepoi.
Prajurit baru ini tetap semangat, terlebih ketika adegan menegangkan usai, para brigadir muda diminta untuk melakukan aksi bergoyang bersama para pengunjung dan para perwira dan Jenderal yang menghadiri acara itu.
Sebuah tembang lagu dengan warna musik khas yang telah lama menghilang diputar oleh pihak panitia. Para prajurit muda pun bergoyang poco-poco dibawa terik mentari dengan gaya khas masing-masing.
Mereka memasang wajah gembira dan bersorak ria usai melepas kepenatan selama melaksanakan pelatihan dan pendidikan brigadir polisi selama kuruh waktu yang tidak singkat.
Awal Amanah
Kepala Polda Riau Brigadir Jenderal (Brigjen) Pol Suedi Husein yang mempin acara tersebut menyatakan sebanyak 113 brigadir tersebut telah resmi bergabung menjadi abdi negara dan masyarakat Republik Indonesia bersama institusi Polri.
Namun, kata dia, hal ini bukan merupakan akhir sebuah perjuangan melainkan awal dari lengkah tugas pokok mengemban amanah negara.
"Para brigadir muda ini harus siap untuk menjadi promotor bagi perubahan bangsa yang lebih baik, aman dan tertib," katanya.
Untuk diketahui, demikian Kapolda, bahwa polisi adalah penjaga kehidupan, pembangunan peradapan dan perjuangan kemanusiaan.
Untuk itu, kata dia, perjuangan harus tetap tertanam ditubuh para brigadir yang telah menjadi bagian dari Polri saat ini.
Dalam menghadapi era globalisasi, persoalan penegakan hukum dan keadilan harus mutlak dilaksanakan setiap anggota Polri hal itu demi kepastian hukum.
Keteraturan menurut Kapolda, baru akan tercipta apabila hukum dan undang-undang dilaksanakan tanpa pilih kasih demi terwujudnya negara hukum yang selalu mengedepankan supremasi hukum.
"Secara konsepsional, arti dan inti penegakkan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan norma-norma hukum yang terjabarkan dalam kaedah-kaedah hukum yang mantap dan jelas," katanya.
Untuk itu, demikian Kapolda, kedepan diharapkan para brigadir ini dapat menjadi motor bagi kebangkitan institusi Polri. "Memberikan pelayanan dengan sigap dan tepat tanpa ada belas kasih terhadap yang salah dan ragam pelanggaran kode etik serta etika lainnya," kata dia.
Simulasi yang digelar saat ini, kata dia, merupakan upaya nyata yang menang menjadi realitas bagi bangsa ini. Dimana, lanjut dia, aksi demonstrasi kerap saja terjadi di berbagai wilayah bahkan juga terorisme.
"Sementara aksi goyang poco-poco merupakan bentuk keakraban para brigadir nantinya dengan masyarakat sipil. Karena untuk penegakan hukum serta menjaga ketertiban dalam bermasyarakat, dibutuhkan hubungan emosional nyata," demikian Kapolda Brigjen Suhedi Husein. ***1***
(T.KR-FZR)
Pewarta : Fazar Muhardi
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

