
Pengamat: Indonesia berpeluang perluas dukungan internasional bagi Palestina

Jakarta (ANTARA) - Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memperluas dukungan internasional bagi Palestina dengan menjangkau negara-negara di luar kelompok yang selama ini konsisten menyuarakan dukungan terhadap perjuangan Palestina.
Pengamat Hubungan Internasional Universitas Indonesia Muhammad Syaroni Rofii mengatakan Indonesia dapat memanfaatkan posisi dan keanggotaannya di berbagai organ Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memperkuat diplomasi dan menggalang dukungan yang lebih luas.
"Indonesia bisa menggalang dukungan di luar lingkaran yang selama ini sudah solid mendukung Palestina. Keanggotaan Indonesia di sejumlah organ PBB bisa dimaksimalkan untuk melakukan lobby," kata Syaroni saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, terdapat perkembangan sikap di sejumlah negara Barat dalam memandang persoalan Palestina, terutama terkait situasi di Gaza dan kebijakan pembangunan permukiman Israel.
Ia mencontohkan Uni Eropa yang secara kelembagaan mengecam tindakan Israel di Gaza. Rencana pembangunan permukiman di kawasan E1 juga mendapat kritik dari Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Syaroni juga menyoroti sikap Perdana Menteri Inggris Andy Burnham yang secara terbuka mengkritik ketidakadilan yang dialami warga Palestina.
Perkembangan tersebut, menurut dia, dapat menjadi ruang bagi Indonesia untuk memperluas diplomasi Palestina, tidak hanya dengan negara-negara yang selama ini telah memiliki posisi yang sejalan, tetapi juga dengan negara-negara yang mulai menunjukkan perubahan sikap.
Ia menilai posisi Indonesia di berbagai forum dan organ PBB dapat dimanfaatkan untuk mendorong dukungan yang lebih luas terhadap upaya mewujudkan negara Palestina yang merdeka.
"Jika melihat trend dukungan di PBB, mayoritas negara sudah mengakui Palestina. Tinggal Amerika Serikat dan beberapa negara yang masih menolak. Indonesia dan negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) perlu meyakinkan AS tentang opsi solusi dua negara harus segera diimplementasikan," ujarnya.
Dorongan Indonesia terhadap percepatan terwujudnya solusi dua negara juga disampaikan dalam pertemuan Aliansi Global Tingkat Menteri untuk Implementasi Solusi Dua Negara di Markas PBB, New York, Amerika Serikat, pada 23 September.
Dalam forum tersebut, Indonesia mendesak percepatan implementasi solusi dua negara di tengah kekerasan yang masih berlangsung dan persoalan pengungsian yang dihadapi rakyat Palestina.
"Rakyat Palestina masih menghadapi kekerasan dan pengungsian. Kita harus mengakhiri kenyataan ini," kata Sugiono, Menteri Luar Negeri RI periode 21 Oktober 2024-1 Oktober 2026.
Sugiono mengatakan bahwa setahun setelah Deklarasi New York dan diadopsinya Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2803, dukungan internasional terhadap solusi dua negara terus berkembang. Semakin banyak negara juga telah mengakui Negara Palestina.
"Kini kita memiliki peluang dan tanggung jawab untuk mengubah momentum politik yang terus berkembang ini menjadi tindakan nyata dan kolektif," katanya.
Dengan perkembangan tersebut, diplomasi Indonesia dinilai memiliki ruang untuk terus mendorong konsolidasi dukungan internasional, terutama melalui forum multilateral dan kerja sama dengan negara-negara anggota OKI, guna mempercepat implementasi solusi dua negara dan mewujudkan Palestina yang merdeka.
Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

