
Manisnya Untung PON Siapa Yang Punya

Pekanbaru, (antarariau) - Penyelenggaraan PON XVIII/2012 di Provinsi Riau ibarat nangka manis yang menawarkan daging buah keuntungan nan legit. Namun tak hanya itu, nangka manis juga menyisakan biji pahit dan getah nan lengket.
Siapa yang merasakan daging buah nan legit itu? Hanya mereka, para pelaku bisnis dengan produk unik, bermodal besar, dan punya kedekatan dengan penguasa yang bisa menikmati manisnya daging nangka.
Selebihnya adalah mereka yang hanya mendapat biji, kulit atau remah dami nangka. Tapi yang paling apes adalah mereka yang hanya mendapat getahnya saja.
Dari sekian banyak bisnis terlibat dalam pusaran PON Riau, sektor jasa perhotelan dan penginapan paling banyak mendapat porsi daging nangka. Dari data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Riau, tingkat hunian kamar hotel selama PON sangat tinggi, nyaris 100 persen.
Para pelancong sampai Panitia Besar (PB) PON Riau dibikin kelimpungan karena seluruh kamar terisi penuh. Kalaupun ada kamar kosong tarifnya naik gila-gilaan berkisar 50 hingga 200 persen dari normalnya.
"Itu sudah hukum pasar, kalau permintaan lebih banyak dari suplai yang ada tentu harga akan naik," kata Ketua PHRI Riau, Ondi Sukmara, kepada ANTARA di Pekanbaru, Selasa.
Menurut Ondi, pertumbuhan hotel dan penginapan baru khusus di Kota Pekanbaru saja sangat luar biasa akibat PON. Awal tahun 2012, tercatat ada pertambahan enam hotel berbintang dan empat penginapan baru khusus di Kota Pekanbaru.
Sebabnya, PB PON Riau membutuhkan sedikitnya 5.500 kamar di 10 daerah penyelenggaraan olahraga PON di kabupaten/kota di Riau. Tujuannya untuk akomodasi atlet, ofisial, wasit hingga tamu undangan penting seperti pejabat penting negara.
Jumlah kebutuhan itu, diakuinya tak bisa dipenuhi pengusaha hotel yang tergabung dalam konsorsium PHRI. PHRI baru bisa menyediakan 100 hotel, dan totalnya mencapai 115 berkat tambahan dari wisma atlet dan "homestay" di Pekanbaru saja.
Sedangkan, tempat menginap untuk pelaksanaan PON di sembilan daerah lain misalnya seperti di Kabupaten Kuantan Singingi, terpaksa menggunakan rumah-rumah penduduk dan tenda untuk penginapan peserta PON.
"Untuk di Pekanbaru saja kami sudah kewalahan," katanya.
Selain hotel, sektor jasa rumah makan dan katering juga mendapat untung luar biasa selama PON. Contoh terkecilnya bisa dilihat dari Media Center Utama PON di Perpustaan Soeman HS, Pekanbaru, dimana setiap hari sedikitnya 400 sampai 800 kotak makanan dipesan dari rumah makan dan katering untuk kebutuhan jurnalis dan panitia.
Geliat bisnis menjelang PON sebenarnya sudah bisa terbaca dari penyaluran kredit perbankan. Penyelenggaraan PON XVIII/2012 mendorong pertumbuhan kredit produktif, khususnya sektor usaha perdagangan, hotel dan restoran totalnya mencapai Rp8,79 triliun pada triwulan II-2012.
Jumlah tersebut porsinya sekitar 21,81 persen terhadap total kredit pada triwulan II yang mencapai Rp40,3 triliun. Sebagian besar kredit tertuju pada subsektor perdagangan eceran keliling dan perdagangan yang didominasi makanan, minuman dan tembakau dengan nilai masing-masing sekitar Rp1,25 triliun dan Rp1,13 triliun.
Keduanya mengalami pertumbuhan 5,7 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2011 (yoy).
Sementara pertumbuhan kredit perdagangan yang didominasi makanan, minuman dan tembakau mencatat pertumbuhan lebih tinggi yakni sebesar 30,80 persen (yoy).
"Kondisi ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi sektor perdagangan yang relatif baik, kemungkinan besar juga didorong adanya pelaksanaan PON XVIII di Riau pada September tahun ini," kata Peneliti Ekonomi Madya BI Riau, Muhammad Abdul Madjid Ikhram.
Nasib UMK
Lalu bagaimana dengan nasib pengusaha menengah dan usaha mikro dan kecil (UMK)? Bisnis suvenir dan makanan selama penyelenggaraan PON adalah contoh mudah dari ajang pertarungan sengit pebisnis bermodal pas-pasan.
Padahal, potensi dari bisnis itu luar bisa besar. Berdasarkan data PB PON Riau, total peserta resmi baik atlet dan ofisial mencapai 11.148 orang, ditambah jumlah wasit/juri dan sejenisnya 1.374 orang serta jumlah panitianya sendiri 12.390 orang.
Jika rata-rata dari mereka mengeluarkan biaya suvenir dan jajan makanan minimal Rp50.000 saja, maka sudah bisa dihitung besarnya potensi bisnis yang diperebutkan.
Meski begitu, hanya pelaku usaha yang cepat merespon peluang pasar yang bisa dapat daging nangka PON. Dan jumlah itu ternyata tak begitu banyak. Sosok suksesnya bisa dilihat dari perajin gantungan kunci maskot PON XVIII 2012, burung serindit, yang kebanjiran pesanan karena cenderamata tersebut paling banyak dicari selama penyelenggaraan PON.
"Selama beberapa bulan terakhir menjelang PON, omzet penjualan gantuan kunci burung serindit relatif stabil di angka Rp10 juta," kata Nazrul, perajin cenderamata PON di Pekanbaru.
Nazrul mulai melirik peluang bisnis PON dengan membuat gantungan kunci burung serindit sejak bulan Mei lalu. Permintaan gantungan kunci burung khas Riau membawa obor itu banyak berdatangan dari toko-toko penjual cenderamata di Pekanbaru.
Produk dari usaha mikro tersebut memiliki keunggulan dari hasilnya yang lebih halus pada detailnya karena dibuat secara manual menggunakan tangan. Ia mengakui keterbatasan modal dan tenaga kerja masih menjadi kendala untuk memenuhi permintaan, sehingga ia dengan berat hati terpaksa menolak beberapa pesanan pelanggan.
"Padahal dalam sehari saya bisa memproduksi 200 gantungan kunci, dan selalu habis dipesan," katanya.
Meski begitu, tidak semua pedagang kecil bernasib baik. Seperti di sekitar arena PON XVIII/2012 di Sport Center Rumbai, Pekanbaru, deretan tenda putih yang sedianya untuk pedagang kecil terlihat banyak yang kosong. Usut punya usut, PB PON Riau menargetkan lebih dari 250 stan akan diisi oleh pedagang kecil dari UMK. Tapi tempat itu sepi peminat karena tarif yang dipatok panitia sangat tinggi, yakni berkisar Rp3 juta sampai Rp7 juta selama penyelenggaraan PON.
Walhasil, tenda-tenda itu lebih banyak diisi pedagang dari luar daerah yang modalnya cukup besar, seperti dari Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Sedangkan, sisanya memilih menggelar tenda di luar stadion dan itu pun harus bayar Rp700 ribu.
Akibatnya, banyak lapak-lapak pedagang terlihat di pintu masuk arena pertandingan yang membuat pemandangan jadi semrawut.
Nasib mereka juga makin "ngenes" karena banyaknya pungutan liar (pungli) yang membuat mereka terancam merugi. Punglinya bermacam-macam, ada pungli uang kebersihan, uang keamanan dari pemuda setempat, sampai setoran ke panitia setiap hari.
Pedagang mengeluhkan semua pungli dari oknum tak bertanggung jawab itu karena tak jelas manfaatnya. Lokasi tempat berdagang tetap saja tidak pernah dibersihkan, akibatnya gundukan sampah sering terlihat dimana-mana.
"Besarnya pungli mencapai Rp10.000 dan itu bisa sampai tiga kali sehari," kata Buyung, seorang pedagang minuman.
"Banyak pedagang memilih tutup tak jualan lagi, karena yang harus disetorkan lebih besar dari pendapatan tiap hari," kata Rizal yang juga pedagang di Sport Center Rumbai.
Kondisi tersebut disesalkan oleh Direktur Eksekutif Kadin Provinsi Riau, M. Herwan, yang menilai perhelatan PON tidak signifikan memajukan ekonomi kecil. Bahkan, ia berani mengatakan PB PON Riau gagal mewujudkan sukses ekonomi kerakyatan yang menjadi salah satu catur sukses pelaksanaan PON XVIII.
"Secara keseluruhan apa yang dijanjikan bahwa PON memberikan efek multiplier dalam ekonomi kerakyatan itu tidak tercapai," kata Herwan.
Menurut dia, panitia terkesan pilih kasih dalam melibatkan sektor usaha dalam PON, khususnya bagi UMK. Panitia juga dituding tidak membuka akses informasi kepada pengusaha untuk memetakan peluang usaha.
"Misalkan dari bisnis katering, hanya satu-dua pengusaha saja yang mendapatkannya. Kemudian dari konveksi dan transportasi pun kebanyakan dari luar Riau," keluhnya.
Meski dalam bisnis ia mengakui seorang pengusaha jangan menunggu peluang, namun seharusnya pemerintah daerah di Riau memberi kebijakan prioritas untuk kemajuan pengusaha lokal.
"Pemerintah harus mengevaluasi sukses ekonomi kerakyatan dalam PON, masih ada waktu untuk berbenah karena Riau juga akan menjadi tuan rumah Pekan Paralimpik Nasional pada bulan Oktober dan Islamic Solidarity Games tahun 2013," kata Herwan.
Pewarta : FB Rian Anggoro
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

