
Ngojek PON Untuk Wisuda

Menjadi panitia seksi transportasi kendaraan roda dua pada gelaran PON XVIII, merupakan sebuah kebanggaan bagi Zuhrowardi.
Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Kasim itu mengaku tidak tenang ketika hanya diam saja di kos-kosan, sedangkan berbagai macam pemberitaan di media massa menyebutkan kalau Riau tidak siap menjadi tuan rumah PON.
Hatinya panas, dan sangat ingin membantu sekuat tenaga agar Riau bisa menjadi tuan rumah yang baik dan tidak lagi ada kekurangan selama penyelenggaraan pesta olahraga multicabang terbesar di Tanah Air itu.
Akhirnya, Wardi memutuskan untuk masuk ke dalam kepanitiaan PON. Ia lantas mengisi formulir yang didapat dari sekretariat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) kampusnya. Pilihannya jatuh pada seksi transportasi, mengingat dia memiliki motor dan cukup hafal jalan-jalan Kota Pekanbaru, Riau.
Setelah melalui berbagai macam seleksi, akhirnya Wardi dan 100 orang lainnya resmi jadi 'tukang ojek' PON. Tugasnya adalah membantu mobilisasi para pewarta yang ingin meliput ke arena pertandingan di sekitar Kota Pekanbaru. Jasa Wardi dan teman-temannya dapat dimanfaatkan secara cuma-cuma oleh pewarta peliput PON XVIII/2012.
Tukang ojek PON biasa mangkal di sejumlah media center (MC) yang berada di Pekanbaru, antara lain di MC Utama Perpustakaan Soeman HS, Gelanggang Remaja, PB PON Gajah Mada, Stadion Utama Universitas Riau, PKM Suska, Universitas Lancang Kuning, dan PKM Universitas Islam Riau.
"Sebagai mahasiswa kami ingin membantu mensukseskan PON Riau, dan kebetulan kami punya motor," ungkap Wardi.
Pemuda asal Kabupaten Bengkalis itu juga mengatakan sangat senang bisa ketemu wartawan serta teman-teman baru, apalagi ia ternyata juga mendapat uang insentif dari panitia dalam jumlah lumayan besar.
Menurut Wardi, satu hari bekerja sebagai ojek PON ia diberi insentif sebesar Rp200 ribu. Namun ongkos bensin dibebankan pada masing-masing "tukang ojek".
Pemuda yang mencari biaya kuliahnya sendiri itu mengaku uang dari hasil menjadi panita PON akan dipakai untuk membayar wisudanya pada Oktober nanti.
Mahasiswa semester sembilan itu mengaku saat ini ia hanya tinggal menunggu wisuda karena sudah menyelesaikan skripsi dan sidang kelulusannya.
"Uang wisuda itu sekitar satu juta, dan insentif dari PON sangat membantu, nantikan ibu akan datang ke wisuda, pasti ajak jalan-jalan keluarga juga keliling Pekanbaru," kata pemuda yatim itu.
Makan gratis
Wardi merasa sangat beruntung menjadi bagian dari panitia PON 2012, karena selain merasa terlibat dalam menyukseskan PON, mahasiswa jurusan matematika juga tak perlu mengeluarkan biaya hidupnya selama menjadi panitia. Terutama dalam hal urusan pangan, Wardi yang bertugas di Media Center Utama PON pasti mendapat jatah makan setiap harinya.
"Makan disediakan di sini, Insyaallah nanti uangnya masih ada yang bisa ditabung," kata Wardi.
Rasa bangga dan senang mendapat insentif dari menjadi 'tukang ojek' PON juga dipaparkan oleh Aswen, Mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris UIN Syarif Kasim. Terlebih lagi, selama merantau ke Pekanbaru dia tidak pernah lagi dibiayai oleh orang tua.
"Mereka mendukung saya merantau, tapi tidak bisa membiayai, tidak apa-apa yang penting ada restu," kata mahasiswa yang sehari-harinya juga bekerja sebagai penjaga masjid itu.
Aswen sudah dua tahun ini tinggal di Masjid Nurul Ikhlas tempatnya bekerja, dia dapat membiayai hidup dan kuliahnya dari pekerjaannya itu. Setiap hari, pemuda berusia 24 tahun tersebut harus mengumandangkan adzan, serta membersihkan masjid sebagai tanggung jawabnya.
Di sela-sela kesibukannya, pemuda asal Kabupaten Kampar itu juga harus membanting tulang demi mendapatkan uang dengan mengajarkan les privat kepada murid-murid SMA. Dia pun mengaku sering mengajar mengaji agar bisa memenuhi biaya hidup sehari-harinya.
Aswen juga mengaku uang hasil menjadi ojek PON sangat membantu dirinya untuk membayar biaya semesteran kuliahnya. Menurutnya, pekerjaannya menjadi penjaga masjid masih belum bisa mencukupi biaya kuliahnya.
"Alhamdulillah ada insentifnya, tapi baru bisa diambil setelah PON selesai," kata Aswen.
Dia juga menargetkan dalam tiga semester ke depan kuliahnya harus sudah selesai. Aswen mengaku tidak ingin lama-lama berkuliah agar bisa segera bekerja di perusahaan skala nasional demi mendapat penghidupan yang lebih baik.
"Rencananya saya ingin lulus semester delapan, uang insentifnya nanti ditabung untuk biaya kuliah semester selanjutnya, serta untuk wisuda. Insyaallah," kata Aswen.
Penulis : M Baghendra Lodra, Wartawan LKBN ANTARA
Pewarta : ANTARA News
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

