
Satelit deteksi 834 titik panas

Pekanbaru - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Pekanbaru menyatakan, sepanjang Januari 2012, satelit 'National Oceanic and Atmospheric Administration' (NOAA)-18 mendeteksi sebanyak 834 titik panas di Pulau Sumatra.
Prakirawati BMKG Stasiun Meteorologi Pekanbaru, Warih Budi Lestari atas nama pimpinan BMG setempat Philip Mustamu di Pekanbaru, Senin mengatakan, sebaran terbanyak titik panas atau 'hotspot' Sumatra sepanjang Januari 2012 itu berada di Provinsi Riau, yakni dengan jumlah yang mencapai 375 titik.
Selanjutnya disusul dengan daratan di Provinsi Jambi dengan jumlah yang mencapai 157 titik, kemudian Sumatra Selatan (97), Sumatra Utara (62), Sumatra Barat (46), Aceh (37), Bangka Belitung (30), dan Kepulaun Riau (6) serta Lampung ada sebanyak tiga titik panas.
"Kemunculan titk panas terbanyak terjadi pada tanggal 27 Januari 2012. Dimana jumlahnya mencapai 145 titik se-Sumatra dan untuk Riau itu ada sebanyak 55 titik," katanya.
Tingginya kemunculan titik panas di Sumatra pada awal tahun 2012 tersebut menurut Warih disebabkan minimnya curah hujan dan suhu udara yang berada di atas 33,0 derajat celsius.
Bahkan, demikian Warih, sempat beberapa kali suhu udara di Riau dan beberapa wilayah Sumatra lainnya berada di atas rata-rata, yakni 34,0 sampai 35,0 derajat celsius.
Kondisi suhu udara yang sedemikian panas, katanya, sudah masuk kategori ekstrim hingga menyebabkan banyak kawasan semak belukar dan rerumputan di lahan hutan mengering dengan cepat.
"Kondisi ini yang kemudian menyulut terjadinya kebakaran lahan dan hutan sehingga ditemukan ratusan titik panas oleh satelit NOAA-18," katanya.
Kendati demikian, menurut Warih, kemunculan titik api pada pekan pertama di Februari 2012 sudah mulai berkurang.
Pada hari pertama di Februari 2012, katanya, di Sumatra hanya sempat terdeteksi sebanyak 30 titik panas dimana untuk Riau ada sebanyak sembilan titik.
Namun jumlah tersebut menyusut dengan drastis di hari berikutnya, yakni tanggal 2 Februari 2012 dimana hanya ada sebanyak tujuh titik api di Pulau Sumatra.
Kemudian di dua hari berikutnya, yakni tanggal 3 hingga 4 Februari di tahun yang sama, hanya terdeteksi dua titik panas dimana untuk Riau kala itu nihil.
"Baru kemudian titik panas kembali terdeteksi pada tanggal 4 Februari 2012 dimana untuk Sumatra ada sebanyak 19 dan Riau kebagian sebanyak 11 titik. Kemunculan 'hotspot' ini bisa jadi kembali bertambah apabila daratan Sumatra minim curah hujan," demikian Warih Budi Lestari.
Pewarta : Fazar Muhardi
Editor:
Fazar Muhardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026

