
Bupati Kampar utamakan pasar tradisional

Kampar, Riau, (ANTARARIAU News) - Pemerintah Kabupaten Kampat, Provinsi Riau, di bawah kepemimpinan Bupati Jefry H Noer lebih mengutamakan pengembangan dan pembangunan pasar tradisional ketimbang mal.
Karena itu, pada Rabu, terkait pengembangan Pasar Inpres Bangkinang di pusat kabupaten, Jefry Noer melakukan evaluasi khusus, karena diduga telah terjadi perubahan orientasi pembangunan yang mengarah kepada pendirian sebuah mal.
"Pembangunan Pasar Ipres Bangkinang terkesan telah berubah orientasinya menjadi Mal Bangkinang dua lantai selama ini," ujarnya.
Karena itu, dia meminta agar dihentikan terlebih dahulu sampai ada kesepakatan selanjutnya.
"Apalagi, harga yang ditetapkan Rp21 juta atau Rp30 juta per meter untuk tiap kios itu terlalu mahal," tegasnya.
Permintaan Bupati Kampar itu telah disampaikan dalam rapat evaluasi dengan Kepala Dinas Pasar Alinafiah dan pejabat pasar setempat, Indra Pomi bersama sejumlah masyarakat pedagang di pasar itu.
"Melalui Dinas Pasar, saya minta kepada investor PT Makmur Papan Permata (MPP) agar menghentikan terlebih dahulu pelaksanaan pembangunan Mall Bangkinang di Pasar Inpres sebelum ada kesepakatan dengan pedagang pasar dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kampar," tandasnya.
Kesepakatan itu, menurut dia, menyangkut harga kios dan toko yang telah ditetapkan sebelumnya, karena dinilai terlalu mahal.
Ia menekankan, harga paling tinggi maksimal hanya Rp7 juta per meter.
"Harga Rp21 juta atau Rp30 juta itu sangat tinggi. Harga Rp7,5 juta per meter untuk pembangunan Gedung DPR RI saja sudah banyak yang protes, apalagi lebih dari itu, di pasar tradisional lagi," ujarnya.
Jefry lalu mengilustrasikan pembangunan sebuah hotel di Pekanbaru yang sedang dibangun berlantai lima, tidak semahal itu.
"Cuma Rp1.8 juta per meter. 'Kok untuk kepentingan masyarakat, harga bisa ditetapkan setinggi itu. Ingat, dengan harga yang mahal, maka yang akan menanggung akibatnya adalah masyarakat pembeli yang dikenakan harga barang mahal," tuturnya.
Ia pun khawatir, pasar akan sepi dan pedagang cuma tidur karena kurangnya pembeli yang datang berbelanja, disebabkan harga barang-barang jualan dipatok mahal.
Dikatakannya, dalam rapat evaluasi itu, ia meminta agar masyarakat pedagang tidak lagi resah.
"Saya harap pedagang tenang. Jangan ganggu lagi tidur saya dengan SMS dan telepon mengenai masalah ini. Sebab, investor tidak akan melanjutkan pembangunan pasar itu sebelum ada kesepakatan bersama," tegasnya.
Kendati demikian, Pemkab Kampar akan melanjutkan atau mengikuti keinginan masyarakat pedagang jika sesuai dengan peraturan, yakni mengupayakan dana APBD guna meneruskan pembangunan pasar tersebut.
"Tetapi jika masyarakat pedagang inginnya dilanjutkan pihak investor, itu akan dilanjutkan pihak investor pula. Mana yang terbaiklah," katanya.
Jefry menambahkan, mahalnya harga hingga Rp21 juta per meter itu memang sangat memberatkan pedagang.
"Apalagi setelah dihitung-hitung secara rinci. Makanya, saya hanya ingin masyarakat pedagang tidak merasakan susah dengan pembangunan pasar ini dan tidak pula menyalahkan bupati sebelumnya tentang pilihan kebijakannya," tambahnya.
Ia juga mengatakan, tidak punya niat merugikan investor atau menyalahkan Dinas Pasar sebagai pelaksana kebijakan di masa lalu.
"Karenanya, saya minta pedagang tidak lagi mencaci-maki, tak mengungkit-ungkit masa lalu. Sekarang bagaimana kita bisa mencarikan solusi terbaik terhadap pembangunan pasar ini," jelas Jefry Noer.
Pewarta : Netty Mindrayani
Editor:
Netty Mindrayani
COPYRIGHT © ANTARA 2026

