
BBPOM tidak temukan jamu berbahaya

Pekanbaru, (ANTARARIAU News) - Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Riau tidak menemukan 21 jenis jamu berbahaya yang menjadi "publik warning" di Kota Pekanbaru, Riau, namun akan terus merazia peredaran obat tradisional membahayakan itu.
"Di Pekanbaru tidak kita temukan 21 jenis jamu berbahaya yang sudah menjadi publik warning dari Pusat," ungkap Kepala BBPOM Riau Sumaryanta kepada ANTARA, Senin.
Menurut Dia, BPOM sudah merazia jamu tersebut ke sejumlah tempat di Pekanbaru. Kendati hasilnya nihil, namun BBPOM tetap akan turun ke kabupaten/kota untuk merazia dan menarik obat tradisional yang masuk dalam 21 daftar obat tradisional yang mengandung zat kimia bebahaya.
"Kita akan turun ke kabupaten/kota untuk melakukan razia terhadap pedagang obat yang menjual 21 jenis obat tradisional dan mengandung zat kimia berbahaya," ujarnya
Ke-21 obat tradisional dimaksud mengandung fenilbutason (obat rematik), parasetamol (obat demam) yang dicampurkan untuk obat pelangsing dan penambah stamina.
Biasanya, obat tradisional tidak memiliki standar mutu sehingga dikuatirkan campurannya tidak sesuai takaran yang sebenarnya, katanya.
Sebelumnya, BBPOM RI sudah menguji 21 jenis obat tradisional yang mengandung bahan kimia.
Obat tradisional itu seperti Lebah Mutiara Asam Urat Kapsul, Lebah Mutiara Gatal-Gatal kapsul, Linurat Kapsul, MD dan SM onat asam urat Nyeri Sendi dan Tulang/Sendi Cicungunya Kapsul, Obat Kuat dan Tahan Lama Powerman Kapsul, Poten Zhi Kapsul.
Asam Urat Nyeri Tulang Cap Gunung Krakatau, Buah Naga Kapsul, Dewa Dewi Kapsul, Jamu Cap Putri Sakti Penyehat Badan (penggemuk Badan), Jamu Tradisional Jawa Asli Cap Putri Sakti, Kapsul Telat Bulan (Tiauw Keng Poo Sae), Kuat Tahan Lama Surabaya Madura Serbuk.
Selain itu, ada juga obat kuat dan tahan lama Super X Kapsul, Pil Anti Sakit Gigi Plus Pak Tani Tablet, Prima Setia Kapsul, Scorpion Kapsul, Tangkur Cobra Laut.
"Kita juga menghimbau kepada masyarakat agar bisa lebih hati-hati dan waspada ketika ingin mengkonsumsi Jamu dan obat Tradisional tersebut, diteliti sebelum dikonsumsi, agar bisa terhindar dari bahaya akibat jamu tersebut," ujar Sumaryanta.
Pewarta : Nasuha
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

