Logo Header Antaranews Riau

Orang tua perlu jadi tempat cerita yang aman agar anak tak beralih ke AI

Kamis, 1 Oktober 2026 12:09 WIB
Image Print
Psikolog klinis dan keluarga sekaligus Co-Founder Good Enough Parents Pritta Tyas Mangestuti (tengah) menyampaikan pemparannya sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (30/9/2026). (ANTARA/Farhan Arda Nugraha)

Jakarta (ANTARA) - Ketika anak mulai lebih nyaman mencurahkan isi hati kepada kecerdasan buatan (AI) daripada kepada orang tuanya, hal itu dapat menjadi tanda bahwa mereka belum menemukan ruang yang cukup aman untuk bercerita di rumah.

Psikolog klinis dan keluarga Pritta Tyas Mangestuti mengatakan orang tua perlu membangun hubungan yang membuat anak merasa diterima dan dicintai tanpa syarat, sehingga mereka tidak mencari tempat pelarian untuk mencurahkan persoalan pribadi, termasuk kepada AI.

"Orang tua perlu menyadari betul bahwa kebutuhan dasar anak itu adalah dicintai apa adanya," kata Pritta dalam sebuah sesi diskusi di Jakarta, Rabu.

Psikolog yang juga pendiri portal belajar parenting daring Good Enough Parents itu mengatakan rasa aman merupakan fondasi penting agar anak mau terbuka, terutama ketika memasuki masa praremaja dan remaja.

Pada fase tersebut, anak mulai mengalami berbagai perubahan emosi, fisik, serta cara memandang dirinya dan lingkungan. Dalam kondisi itu, mereka membutuhkan sosok yang dapat mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi.

Karena itu, Pritta mengingatkan orang tua untuk menahan reaksi spontan ketika mendengar cerita anak yang mengejutkan atau tidak sesuai dengan harapan.

"Ketika anak bercerita sesuatu yang menurut kita mungkin berpikir 'waduh kok gini ya,' kita harus tarik napas, buang napas, stay cool, meskipun di dalam hati kita berkecamuk gitu. Tapi jangan mengeluarkan komentar-komentar yang langsung membuat anak merasa dihakimi," ujarnya.

Menurut Pritta, kemarahan, omelan, atau komentar yang menghakimi dapat membuat anak memilih diam dan enggan kembali bercerita. Jika pola tersebut terus terjadi, anak bisa mencari ruang lain yang menurut mereka lebih nyaman untuk mencurahkan perasaan.

Karena itu, menjadi tempat cerita yang aman bukan berarti orang tua harus selalu menyetujui semua perilaku anak. Hal yang lebih penting adalah memastikan anak merasa didengar terlebih dahulu sebelum mendapatkan arahan atau batasan.

Bangun Kedekatan dari Hal Sederhana
Selain menciptakan rasa aman, Pritta mengatakan orang tua perlu memahami perubahan yang dialami anak sesuai dengan tahap perkembangannya.

Orang tua, menurut dia, perlu membekali diri dengan pengetahuan mengenai gejolak emosi dan perubahan fisik yang lazim dialami anak pada masa praremaja dan remaja.

"Orang tua perlu belajar gejolak emosi apa, gejolak fisik apa yang timbul pada anak-anak seusia dia, atau masa remaja seusia dia," ujarnya.

Kedekatan, lanjut Pritta, juga tidak harus dibangun melalui percakapan serius yang dilakukan secara formal. Momen sederhana dalam aktivitas sehari-hari justru dapat menjadi kesempatan untuk membangun koneksi dengan anak.

Orang tua dapat mengajak anak makan bersama, membeli makanan atau es krim, hingga berolahraga bersama. Dalam suasana yang lebih santai, anak cenderung memiliki ruang untuk berbicara tanpa merasa sedang menjalani sesi tanya jawab.

Cara orang tua bertanya pun perlu diperhatikan agar percakapan tidak berubah menjadi interogasi. Alih-alih membombardir anak dengan pertanyaan, orang tua dapat membuka percakapan dengan menceritakan pengalaman mereka sendiri.

Dengan begitu, percakapan dapat berlangsung lebih dua arah dan anak melihat bahwa orang tuanya juga bersedia terbuka.

"Tiga hal itu yang orang tua perlu lakukan, belajar untuk melakukan supaya anak remajanya ini bisa percaya bahwa orang tuaku ini tempat yang aman untuk aku cerita dan bertanya apa pun, karena aku tidak akan langsung dihakimi dan tidak akan langsung diomelin," kata Pritta.

Pritta menekankan bahwa membangun kepercayaan dengan anak bukan proses yang instan. Rasa aman terbentuk dari kebiasaan orang tua dalam mendengarkan, merespons dengan tenang, serta hadir dalam berbagai momen kehidupan anak.

Dengan hubungan yang kuat, orang tua dapat menjadi salah satu tempat pertama yang dipilih anak ketika menghadapi kebingungan, masalah, maupun sekadar membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ceritanya.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026