Logo Header Antaranews Riau

Nilai Tukar Petani Riau Turun

Selasa, 4 Januari 2011 18:27 WIB
Image Print

Pekanbaru, 4/1 (ANTARA) - Badan Pusat Statistik Provinsi Riau menyatakan nilai tukar petani atau NTP pada Desember 2010 sebesar 105,75 atau turun tipis sekitar 0,03 persen dari November.

"NTP di Riau turun sedikit pada penutupan tahun 2010," kata Kepala BPS Riau Abdul Manaf di Pekanbaru, Selasa.

Ia menjelaskan NTP adalah perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib) dan dinyatakan dalam persentase.

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kesejahteraan petani, dengan mengukur kemampuan tukar produk yang dihasilkan atau dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi maupun untuk konsumsi rumah tangga petani.

Artinya, semakin tinggi NTP dapat diartikan kemampuan daya beli atau daya tukar petani relatif lebih baik dan tingkat kehidupan petani juga lebih baik.

Menurut dia, penurunan NTP disebabkan indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan hanya sebesar 0,64 persen dan relatif lebih kecil dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang naik sebesar 0,67 persen.

Ia merincikan NTP Tanaman Pangan (NTPP) tercatat sebesar 111,35, Nilai Tukar Petani Hortikultura (NTPH) 114,22, Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) 106,41, Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) 102,04 dan Nilai Tukar Petani Nelayan (NTPN) 97,95.
Adapun, komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) terjadi pada subsektor perikanan yang disebabkan oleh kenaikan barang-barang konsumsi rumah tangga seperti cabai merah dengan andil sebesar 0,24 persen, beras sebesar 0,15 persen.

Selain itu, kelapa tua sebesar 0,05 persen, ikan nila sebesar 0,04 persen, ikan asap, tarif oplet, daging ayam, gula pasir, minyak goreng, dan bawang merah masing-masing sebesar 0,03 persen, serta emas perhiasan dan udang masing-masing sebesar 0,02 persen.

Sementara itu, komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat antara lain disebabkan naiknya harga karet dengan andil sebesar 1,04 persen dan kelapa sawit sebesar 0,13 persen.

Faktor lain yang menekan NTP adalah terjadi inflasi di daerah perdesaan Provinsi Riau sebesar 0,82 persen pada Desember. Inflasi pedesaan terjadi karena kenaikan indeks harga pada semua kelompok konsumsi rumah tangga yaitu kelompok bahan makanan sebesar 1,39 persen.

Kelompok makanan jadi sebesar 0,21 persen, kelompok perumahan sebesar 0,03 persen, kelompok sandang sebesar 0,80 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,20 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,02 persen, serta kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 0,41 persen.
Ia mengatakan inflasi "year-on-year" dan inflasi kumulatif masing-masing mencapai 6 persen.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026