Logo Header Antaranews Riau

Kriminolog: Libatkan Masyarakat Berantas Teroris

Selasa, 28 September 2010 14:51 WIB
Image Print

Pekanbaru, 28/9 (ANTARA) - Kriminolog dari Universitas Islam Riau (UIR) berpendapat pihak kepolisian harus melibatkan masyarakat dalam upaya memberantas tindakan aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini.

"Polisi tidak bisa bekerja sendiri, biar bagaimanapun mereka harus melibatkan masyarakat untuk mempersempit ruang gerak teroris," ujar kriminolog UIR, Dr. Sahrul Akmal Latif M.Si, di Pekanbaru, Selasa.

Sahrul Akmal Latif mengatakan peningkatan pengamanan terhadap kantor polisi dan objek vital menyusul terjadinya penyerangan terhadap Polsek Hamparan Perak Sumatera tara oleh sekelompok orang yang diduga memiliki jaringan teroris, hanya bisa menyelesaikan masalah secara sementara.
Pemberantasan teroris yang menitikberatkan tugas kepada Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri untuk melumpuhkan para tersangka pelaku yang diduga menjadi bagian dari kejahatan itu, tidak serta merta menyelesaikan masalah dengan tuntas.

Jumlah personel anggota kepolisian di Indonesia yang masih berbanding jauh dengan standar internasional yakni baru satu berbanding 1.000 warga, dari seharusnya satu berbanding 300 warga mengakibatkan teroris bebas melakukan apa saja.

Sebab, terorisme bukan merupakan aksi kejahatan yang diam karena para pelakunya terus bergerilya berpindah tempat yang tidak terlihat dalam menentukan siapa korban dan target untuk mengoyang sitem pengamanan.
Aksi terorisme juga tidak memiliki satu misi dengan target yakni sebatas usaha menciptakan keresahan dan ketakutan masyarakat, melainkan memiliki misi lain diantaranya mengubah suatu sistem dan kepentingan lain, jelasnya.


Perbaiki hubungan
Polisi juga harus bisa memperbaiki hubungan dengan masyarakat dengan menempatkan diri sebagai pelayanan sesuai dengan tugas yang diemban, dibanding berprilaku sebagai pejabat yang harus dilayani masyarakat agar bisa bekerja sama memberantas teroris.

"Masalahnya sekarang polisi mulai guncang dengan diri mereka sendiri sehingga penjagaan polsek diperketat, lalu pengamanan kawasan pertokoan dan perbankan ditingkatkan dan jangan sampai hanya mereka yang berduit mendapatkan layanan dari polisi," tegas Sharul.

Sebelumnya Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri menyatakan siap melibatkan pasukan khusus yang beranggotakan gabungan dari tiap angkatan di TNI untuk menangani terorisme yang dikoordinasikan melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Penanganan teroris selama ini menjadi tanggung jawab Polri yang berada dibawah Densus 88 Antiteror, namun dalam satu dasawarsa terakhir kelompok teroris tidak pernah berhenti melakukan aksi teror di berbagai daerah di Indonesia.

Sebanyak 563 orang teroris ditangkap hidup, kemudian 44 orang yang diduga teroris tewas, serta 10 orang teroris tewas bunuh diri sejak tahun 2000. Selain itu di pihak warga 298 orang tewas, 838 orang luka dan cacat dan 19 polisi tewas serta 29 polisi luka berat.



Pewarta :
Editor: Muhammad Said
COPYRIGHT © ANTARA 2026