Logo Header Antaranews Riau

BPS: Riau Alami Inflasi Terendah Pada Juni

Senin, 3 Juli 2017 14:50 WIB
Image Print

Pekanbaru, (Antarariau.com) - Badan Pusat Statistik menyatakan
Provinsi Riau mengalami inflasi sebesar 0,27 persen pada Juni 2017,
yang dinilai merupakan inflasi terendah yang pernah terjadi di daerah
itu di tengah pengaruh kenaikan harga komoditas pada Ramadan dan Hari
Raya Idul Fitri.

"Ini adalah pertama kalinya Riau mengalami inflasi serendah ini
pada saat Lebaran," kata Kepala BPS Provinsi Riau, S. Aden Gultom di
Pekanbaru, Senin.

Riau pada Juni mengalami inflasi 0,27 persen dengan Indeks Harga
Konsumen (IHK) 130,66. Perhitungan tersebut merupakan gabungan dari
inflasi di tiga daerah, yakni Kota Pekanbaru yang mengalami inflasi
0,15 persen, Dumai (0,90 persen), dan Tembilahan (0,32 persen).

Pekanbaru tercatat sebagai kota dengan inflasi terendah dari 23 kota
di Sumatera, dan peringkat dua inflasi terendah secara nasional.

Dari kelompok pengeluaran bisa dilihat bahwa tingkat inflasi Riau
tertekan karena kelompok bahan makanan mengalami deflasi -0,854 persen
yang sangat jarang terjadi. Pada Lebaran tahun 2016, kelompok bahan
makanan justru menjadi pemicu inflasi terbesar. Bahkan, pada Juni Riau
mengalami deflasi -3,12 persen untuk kelompok bahan makanan
dibandingkan Desember 2016.

"Komoditas yang menahan inflasi di antaranya adalah cabai merah,
bawang putih, beras, daging ayam ras," katanya.

Ia mengatakan inflasi pada Juni karena adanya kenaikan harga pada
enam kelompok pengeluaran, yaitu kelompok perumahan, air, listrik, gas
dan bahan bakar sebesar 1,35 persen. Diikuti oleh kelompok
transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,57 persen,
kelompok kesehatan sebesar 0,48 persen.

Kemudian kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,33
persen, kelompok sandang 0,23 persen, dan kelompok makanan jadi,
minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,05 persen.

Dari 23 kota di Sumatera yang menghitung IHK, 22 kota mengalami
inflasi dengan yang tertinggi terjadi di Kota Tanjung Pandang sebesar
1,83 persen, Pangkal Pinang (1,16 persen) dan Batam (1,14 persen).

"Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Pekanbaru sebesar 0,15
persen," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bank Indonesia Provinsi Riau Siti Astiyah,
mengatakan rendahnya tingkat inflasi Riau pada momen Lebaran merupakan
keberhasilan semua pihak untuk meredam gejelak harga pangan.
"Ini patut dirayakan karena belum pernah sebelumnya inflasi
Pekanbaru serendah ini secara nasional," katanya.

Menurut dia, keberhasilan dalam mencegah gejolak harga pangan
disebabkan koordinasi yang sangat baik dari pemerintah pusat dan
daerah serta pemangku kebijakan lainnya di Satuan Tugas Pangan. Satgas
Pangan berhasil mencegah dan menindak para distributor dan penjual
yang berspekulasi untuk menahan barang agar harga naik.

Selain itu, peran BUMN seperti Perum Bulog yang melakukan
intervensi pasar dengan menjual daging impor, cabai keriting, bawang
merah, bawang putih, minyak goreng hingga beras, turut membantu
pemenuhan suplai ke pasar.

"Media massa di Pekanbaru juga berperan dalam pemberitaan yang
menumbuhkan ekspektasi positif masyarakat. Intinya, kita sebenarnya
bisa menekan harga dan inflasi," kata Siti Astiyah.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026