
WNA Belanda keturunan korban romusha kunjungi Monumen Kereta Api Pekanbaru, harap dibangun museum

Pekanbaru, (ANTARA) - Puluhan warga negara asing asal Belanda yang sebagian merupakan keturunan korban kerja paksa romusha oleh Jepang pada Perang Dunia II mengunjungi Monumen Kereta Api di Simpang Tiga, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.
Atase Militer Kedutaan Besar Belanda di Indonesia, Colonel Horbert Johannes Moerkens, di Pekanbaru, Kamis, mengatakan kunjungan ini dalam rangka untuk mengingat orang Belanda yang bekerja sebagai romusha untuk pembuatan rel kereta api di Pekanbaru menuju Muaro Sijunjung, Sumatera Barat.
"Yang datang orang Belanda yang punya keluarga bekerja di sini saat romusha pada Perang Dunia II. Mereka tinggal di sini di Camp Jepang, banyak orang Belanda yang meninggal di sini," katanya.
Dia mengatakan bahwa baik orang Belanda maupun Indonesia harus mengingat peristiwa romusha. Untuk itu generasi muda dan anak sekolah bisa mendapatkan informasi tentang Perang Dunia II dan romusha di Pekanbaru.
"Saya harap mungkin dua tahun lagi ada upacara di sini, mungkin ada orang kaya di Indonesia mau membangun museum kecil di sini dengan banyak artefak perang dunia dan romusha sehingga anak sekolah bisa belajar," ujarnya.
Kedatangan WNA Belanda ini difasilitasi oleh "Foundation of the Rememberance Burma and Pekanbaru Railway". Perwakilan yayasan ini, Eric mengatakan yang datang kebanyakan yang kakeknya bekerja sebagai romusha untuk membangun rel kereta api di Pekanbaru.
"Kita di sini bersama keluarga yang kakeknya bekerja untuk rel kereta api Pekanbaru. Kami juga membuat rencana bersama Australia untuk komemorasi bagi korban romusha yang meninggal di sini pada perang dunia kedua," ujarnya.
Menurut dia peringatan sejarah ini penting karena orang Belanda dan Indonesia sendiri bahkan banyak yang tidak tahu tentang peristiwa rel kereta api Pekanbaru.
Orang Belanda juga banyak yang tidak tahu tentang romusha padahal 80 ribu orang meninggal dunia akibatnya.
"Belanda lebih sering bicara tentang Perang Dunia II di Eropa saat Jerman menduduki Belanda. Orang Belanda tak tahu cerita sebenarnya tentang Jepang saat perang, jadi ini penting sekali untuk menceritakan cerita ini tentang apa yang terjadi di Indonesia," ungkapnya.
Untuk itu dia berharap bisa kembali melakukan kunjungan dan membawa lebih banyak keluarga korban romusha ke Pekanbaru.
Ini merupakan kali pertama dilakukan peringatan peristiwa bersejarah tersebut oleh Belanda di Pekanbaru.
"Kita butuh monumen untuk lebih banyak cerita dan pengetahuan, bayangkan ratusan romusha Belanda jadi tahanan perang diangkut dari Padang dengan kereta ke Payakumbuh, lalu pakai truk ke sini untuk jadi budak. Ini penting untuk diceritakan," ungkapnya.
Sementara Kepala Bidang Pembinaan Seni Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pekanbaru Zulnawirawan menyambut baik kunjungan keluarga korban romusha asal Belanda tersebut. Dikatakannya monumen kereta api di Simpang Tiga ini merupakan salah satu cagar budaya daerah.
"Ini salah satu dari enam cagar budaya. Di sini ada juru pelihara, ada tiga digaji oleh Pemerintah Kota Pekanbaru. Biasanya dikunjungi oleh anak sekolah dan anak kuliah," ucapnya.
Pewarta : Bayu Agustari Adha
Editor:
Afut Syafril Nursyirwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026

