
Teheran Kirim Sinyal Damai: Sanksi Dicabut, Selat Hormuz Dibuka Kembali

Washington (ANTARA) - Iran menyerukan diakhirinya perang, penghapusan sanksi, serta pencabutan blokade laut di Selat Hormuz, dalam tanggapannya terkait draf rencana yang sebelumnya diajukan Amerika Serikat.
Selain itu, Iran menolak proposal terbaru yang diajukan oleh pihak AS sebelumnya karena dianggap sama saja dengan mendesak Iran untuk menyerah. Presiden AS Donald Trump menyebut hal itu "sama sekali tidak dapat diterima."
Draf proposal terbaru Iran untuk perundingan dengan AS menyerukan penghentian segera konflik, jaminan bahwa tidak akan ada lagi "agresi" terhadap Iran, dan pencabutan sanksi serta blokade laut AS, lapor kantor berita semirresmi Iran Tasnim.
"Proposal tersebut menyoroti perlunya segera mengakhiri perang, memberikan jaminan agar agresi terhadap Iran tidak terulang, dan beberapa isu lainnya dalam sebuah kesepakatan politik," kata Tasnim dengan mengutip sumber yang mengetahui masalah itu.
Proposal tersebut juga menuntut jangka waktu 30 hari untuk mencabut sanksi AS terhadap penjualan minyak Iran, dan pelepasan aset Iran yang dibekukan setelah kesepakatan awal, lapor Tasnim.
"Saya baru saja membaca respons dari apa yang disebut sebagai 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya. SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!" tulis Trump beberapa jam kemudian di platform media sosialnya pada Minggu, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Iran perlu "memperjelas" bahwa pihaknya tidak berupaya memiliki senjata nuklir, yang dipandang Washington sebagai hal krusial untuk mencapai kesepakatan perdamaian.
Dalam beberapa pekan terakhir, kedua pihak dilaporkan telah saling bertukar usulan rencana yang menguraikan syarat-syarat untuk mengakhiri konflik dengan dimediasi Pakistan.
Gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai mulai berlaku pada 8 April, diikuti oleh perundingan antara delegasi Iran dan AS di Islamabad, Pakistan, pada 11 dan 12 April yang berakhir tanpa kesepakatan.
Setelah itu, AS memberlakukan blokadenya sendiri di selat tersebut.
AS dan Israel melakukan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lainnya di Iran pada 28 Februari, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat senior Iran dan warga sipil.
Iran kemudian merespons dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel dan kepentingan AS di kawasan tersebut serta memperketat kendali atas Selat Hormuz.
Pewarta : Xinhua
Editor:
Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026

