Logo Header Antaranews Riau

Belanda Siapkan Rp20 Triliun Hadapi Ancaman Krisis Energi

Selasa, 21 April 2026 16:19 WIB
Image Print
Arsip foto - Seseorang berlari di sepanjang deretan kincir angin di Kinderdijk, Belanda (18/11/2020). (ANTARA FOTO/Xinhua-Sylvia Lederer/hp.)

Brussels (ANTARA) - Pemerintah Belanda mengumumkan paket bantuan senilai hampir 1 miliar euro (sekitar Rp20,2 triliun) untuk meredam dampak kenaikan biaya energi bagi rumah tangga dan bisnis akibat konflik di Timur Tengah.

Sebagai bagian dari kebijakan tersebut, tunjangan perjalanan bebas pajak bagi karyawan akan naik 0,02 euro menjadi 0,25 euro (Rp5.050) per kilometer dan berlaku surut sepanjang tahun, menurut laporan NOS pada Senin (20/4).

Penyesuaian itu diperkirakan setara dengan penghematan sekitar 0,30 euro per liter bahan bakar.

Baca juga: Madagaskar Tetapkan Darurat Energi, Krisis Bahan Bakar Makin Parah

Selain itu, pajak kendaraan bermotor untuk van berpelat nomor abu-abu, yang umum digunakan usaha kecil, akan dipangkas separuh mulai 1 Juli hingga akhir tahun.

Pajak truk juga akan diturunkan menjadi nol selama periode yang sama.

Untuk mendukung rumah tangga rentan, pemerintah Belanda mengalokasikan 195 juta euro untuk Dana Darurat Energi.

Tambahan 180 juta euro akan dialokasikan ke dana pemanasan nasional yang menyediakan pinjaman untuk isolasi rumah dan peningkatan efisiensi energi.

Pemerintah Belanda menyatakan lebih dari 600 juta euro dari paket tersebut berupa belanja langsung, sementara lebih dari 300 juta euro berasal dari pengurangan pajak.

Untuk membiayai kebijakan tersebut, cukai alkohol akan dinaikkan sejalan dengan inflasi tahun depan.

Meski ada desakan dari parlemen, pemerintah Belanda memilih untuk tidak mengintervensi harga BBM di SPBU karena dinilai mahal dan berdampak terbatas.

Baca juga: Krisis Energi Melanda, Warga Australia Didorong Beralih ke Transportasi Umum

Para pejabat memperkirakan penurunan harga bahan bakar sebesar 0,10 euro (Rp2.020) per liter akan membebani negara sekitar 1 miliar euro.

Parlemen Belanda dijadwalkan membahas usulan itu pada Rabu (22/4) dan mayoritas anggota diperkirakan akan mendukungnya.

Pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu sejak AS-Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.

Sumber: Anadolu



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026