Logo Header Antaranews Riau

Waspada Virus Nipah! Ini Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Kamis, 29 Januari 2026 16:36 WIB
Image Print
Arsip Foto - Penumpang dari luar negeri melintas di area pemindai suhu tubuh milik Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta setibanya di Terminal 3 Internasional Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (2/9/2024). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Jakarta (ANTARA) - Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama mengemukakan bahwa pemerintah Indonesia bisa mencontoh langkah-langkah negara tetangga dalam upaya untuk mencegah penularan virus Nipah.

Penularan virus yang dapat menyebabkan infeksi pernapasan sampai radang otak pada manusia itu belakangan merebak di India.

Dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, Prof. Tjandra menyampaikan pentingnya mengantisipasi dampak penularan virus Nipah, yang sudah menular antar-manusia di India.

Baca juga: Waspada! Makanan Kotor dan Sanitasi Buruk Bisa Rusak Kesehatan Lambung

Negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura sudah menjalankan langkah-langkah untuk mencegah penularan virus tersebut.

Menurut Prof. Tjandra, otoritas Thailand sudah melakukan skrining di bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang pada orang-orang yang datang dari negara bagian West Bengal di India. Otoritas Nepal juga melakukan skrining pada pendatang di Tribhuvan International Airport.

Pemerintah Singapura pada 28 Januari 2026 mengumumkan langkah-langkah antisipasi penularan penyakit akibat virus Nipah, yang mencakup pemeriksaan suhu tubuh pendatang di bandara Changi.

Singapura juga meminta para dokter serta pengelola laboratorium dan rumah sakit untuk mewaspadai penularan penyakit akibat virus Nipah, utamanya dari pasien dengan riwayat kunjungan ke West Bengal yang mengalami gejala infeksi virus Nipah.

Di samping itu, Singapura akan mengadakan penyuluhan kesehatan di pintu-pintu masuk ke wilayahnya, meningkatkan surveilans pada pekerja migran yang baru datang dari Asia Selatan, dan berkoordinasi dengan penanggung jawab pengendalian penyakit menular di Asia Selatan dalam memantau penularan virus.

Prof. Tjandra mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara yang menerima kunjungan wisatawan dan pekerja dari India juga perlu menjalankan langkah-langkah pencegahan serupa.

"Cukup banyaknya kunjungan warga India ke negara kita, maka nampaknya perlu pengamatan khusus, setidaknya untuk mereka yang datang dari daerah Kalkuta dan West Bengal," kata Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu.

Selain menerapkan langkah-langkah pencegahan, menurut dia, pemerintah Indonesia perlu meningkatkan koordinasi dengan WHO Asia Tenggara dan Pasifik Barat guna mengantisipasi dampak penularan virus Nipah.

Virus Nipah adalah virus patogenik. Virus ini awalnya menular dari binatang seperti kelelawar dan babi ke manusia, tetapi sekarang bisa menular dari manusia ke manusia, antara lain melalui makanan yang terkontaminasi.

Di seluruh dunia, ada sekitar 750 kasus infeksi virus Nipah dari tahun 1998 sampai 1999. Kasus infeksi ini mulanya ditemukan di Malaysia, tetapi kemudian dilaporkan terjadi pula di wilayah Bangladesh, India, Filipina, dan Singapura.

Baca juga: Bandara SSK II Pekanbaru waspadai virus penularan penyakit saluran pernapasan

Menurut Prof. Tjandra, masa inkubasi virus Nipah antara empat dan 21 hari atau lebih lama. Gejala awalnya bisa seperti gejala flu, demam, sakit kepala, dan nyeri otot.

Setelah itu, bisa muncul gangguan paru-paru yang ditandai dengan batuk, sesak napas, dan pneumonia. Infeksi virus Nipah juga bisa menyebabkan peradangan pada otak.

Prof. Tjandra mengatakan bahwa sampai saat belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk mengatasi infeksi virus Nipah.



Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2026