Logo Header Antaranews Riau

Bupati Paparkan Pembangunan Kampar di Tempo

Sabtu, 26 April 2014 12:33 WIB
Image Print

Bangkinang, (Antarariau.com) - Hampir satu jam Bupati Kampar Jefry Noer membeberkan apa yang sudah dia lakukan di Kabupaten Kampar, kepada Wahyu Muryadi, mantan Pimpinan Redaksi Majalah Tempo, di studio Tempo TV di lantai lima Wisma Penta Kebon Sirih Jakarta, Jumat (25/4).

Kebetulan Wahyu yang menjadi host dalam wawancara bertajuk “Untukmu Indonesiaku” yang disiarkan selama hampir satu jam di stasiun televisi milik grup tempo itu. “Sampai sekarang kami terus mengeroyok keadaan, supaya masyarakat kami terbebas dari kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh,” kata Jefry. Lelaki ini nampak gagah berkemeja putih dibalut jaket hitam. Di sebelahnya, Wahyu nampak serius mengikuti alur yang dibicarakan Jefry.

Jefry nampak makin serius saat dia menjelaskan dari mana dia memulai program Lima Pilar yang dia kerucutkan menjadi zero kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh alias tiga zero itu. “Saya turun langsung ke desa-desa bersama staf. Kami mapping masyarakat miskin, persis setelah saya dilantik Januari 2012 lalu,” kata Jefry. Mata lelaki ini menatap serius ke wajah Wahyu.

Lebih dari tiga bulan mapping, ketahuan bahwa masih ada 22, 48 persen atau setara dengan 160.299 orang masyarakat miskin di Kampar. Sementara BPS menyebut hanya di angka 8,52 persen atau setara dengan 61.200 jiwa.

“Angka ini nampak membengkak lantaran indikator yang kami bikin tidak sama dengan yang dibikin oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Bagi kami, rumah tangga yang anaknya dua, penghasilannya Rp 1,3 juta per bulan, masih masuk kategori miskin. Begitu juga yang penghasilannya Rp 1,5 juta dengan anak lebih dari dua,” Jefry merinci.

Setelah angka kemiskinan didapat, Jefry kemudian mengirim mereka ke Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Karya Nyata di Kubang Jaya Kecamatan Siak Hulu. “Ada 240 orang yang lulus tiap bulan. Mereka kemudian kami kasi kesempatan meminjam dana bergulir yang sudah kami siapkan. Total dana itu mencapai Rp 165 miliar. Yang lulusan pertanian Rp 30 juta, perikanan Rp 60 juta dan peternakan Rp 100 juta. Bunga pinjaman itu cuma 6 persen setahun. Artinya, hanya 0,5 persen dari total pinjaman yang jadi bunganya,” kata Jefry.
“Apa nggak takut masyarakat tak mengembalikan duit itu?” Wahyu mulai penasaran.

"Mereka menyerahkan agunan. Kami berani memberikan pinjaman itu lantaran sebenarnya, semua usaha yang dilakukan oleh masyarakat Kampar, sudah feasible. Buktinya, minjam duit dari rentenir untuk berusaha saja, mereka masih bisa hidup. Apa lagi kalau kita kasi pinjaman dengan bunga yang sangat kecil tadi,” Jefry beralasan. Wahyu mengangguk-angguk mendengar penjelasan Jefry tadi.

Macam-macam usaha yang dibikin oleh para alumni tadi. Di Desa Danau Lancang Kecamatan Tapung Hulu, ada yang membuka ladang cabai merah seluas 3 hektar. Lalu di Desa Gading Sari ada yang memelihara sapi. Belum lagi di Desa Padang Luas Kecamatan Tampang yang membikin kerambah ikan.
“Alhamdulillah, usaha mereka berkembang pesat. Petani cabai malah bisa untung lebih dari Rp 1,2 miliar dalam tempo enam bulan. Dari hasil tanaman cabai sebanyak 36 ribu batang. Lalu yang berkerambah ikan bisa menghasilkan duit Rp 10 juta per bulan, dari hasil jualan ikannya,” terang Jefry.

Pemkab Kampar melakukan pola semacam itu kata Jefry biar masyarakat bisa mandiri. “Banyak daerah yang menyuruh masyarakatnya berusaha. Tapi tidak dibekali ilmu, apa lagi pinjaman modal. Gimana mereka mau berkembang?” ujar mantan anggota DPRD Riau ini.

Jefry mengaku, program yang sudah dia jalankan itu tak semua berjalan mulus. Misalnya, masih banyak peserta pelatihan yang ternyata bukan dari golongan masyarakat miskin. Begitu juga yang meminjam duit dana bergulir tadi.

Lantaran itu pula, Jefry memperketat peserta pelatihan tadi. Bila perlu dia akan membikin semacam tim khusus yang independen untuk merekrut peserta pelatihan itu. "Saya musti lebih hati-hati lagi. Sebab program ini bukan program ecek-ecek. Saya tak ingin masyarakat saya kecewa," katanya.

Jefry datang ke lantai lima tadi atas undangan Tempo TV. “Banyak hal menarik yang bisa digali dari sosok Jefry Noer, yang jarang dimiliki oleh kepada daerah lain. Salah satunya soal program nyata tadi. Dan saya sudah melihat langsung ke Kampar,” ujar Wahyu usai sesi dialog itu. (Adv)