Logo Header Antaranews Riau

Program Bupati Ternyata Dikenal Karyawan Perusahaan

Minggu, 6 April 2014 20:29 WIB
Image Print

Bangkinang, (Antarariau.com) - Bupati Kampar Jefry Noer berkunjung ke kebun karet milik PT Perkebunan Nusantara V di kawasan Strategic Bisnis Unit (SBU) Sei Galuh, Afdeling IV Kebun Sei Galuh. Kebun karet seluas 1.021 hektar itu adalah alih fungsi tanaman kelapa sawit yang selama ini menjadi tanaman di sana.

Sembari mencicipi potongan nenas dan jangung manis rebus di saung yang ada di lahan karet itu, General Manager (GM) SBU Galuh M Sitanggang, Minggu (6/45) bercerita kepada Jefry, bahwa empat tahun lalu program alih fungsi itu dilakukan oleh perusahan.

“Kebetulan lahan di kawasan ini bergambut. Biar kita tahu tanaman apa yang paling pas, maka kita bikinlah kebun percontohan untuk tanaman sawit, karet dan jabon,” terang Sitanggang. Dia didampingi oleh sejumlah manager kebun yang ada di bawah wilayah kerja SBU Galuh.

Taman kelapa sawit seluas 20 hektar, karet dan jabon masing-masing dua hektar. “Dalam perkembangannya, ternyata karet yang paling cocok. Ini sama persis dengan tanaman milik masyarakat yang ada di sekitar area perusahaan. Lantaran karet yang pas, maka lahan ini kemudian kita Tanami karet,” terang lelaki yang Juli tahun lalu resmi menjadi GM SBU Galuh itu.

Meski karyawan perusahaan, rupanya Sitanggang mengikuti juga program apa saja yang sedang digesa oleh Pemkab Kampar. “Saya salut dengan Bapak yang telah membikin dan menjalankan program pro rakyat. Bawang merah di Sei Geringging, pelatihan P4S dan tanaman cabai merah, itu terus kami ikuti. Satu hal yang luar biasa. Bapak telah berhasil membudidayakan ikan arwana. Sesuatu yang sangat jarang dilakukan orang lain,” kata Sitanggang.

Sebelumnya, Direktur Utama Bank Bukopin Glen Glenardi juga memuji apa yang dilakukan oleh Jefry terhadap pilot project budidaya bawang merah yang ada di Sei Geringging Kecamatan Kampar Kiri itu. Biasanya orang membawa ahli dari luar negeri. Tapi yang dilakukan oleh Jefry justru cuma membawa ahli dari Cirebon Jawa Barat.

Development-Asia Pacific Food And Agriculture Organization Of united Nations (FAO) Ir Ratno Seotjiptadie, PhD juga begitu. Lelaki ini memuji kepiawaian Jefry soal strategi pertanian berbasis enterpreneurship.

“Bermula dari pelatihan, lalu pinjaman dana bergulir dan kemudian dibackup oleh satuan kerja Pemkab Kampar, ini sesuatu yang langka. Belum lagi Pemkab Kampar mau pula membikin Badan Penyangga biar harga yang diterima petani stabil. Badan Penyangga semacam ini justru yang pertama di Sumatera,” begitu kata Ratno saat dua hari berada di Kampar Januari lalu.

Bagi Jefry, apa yang dilakukannya itu adalah semata-mata demi masyarakat Kampar. Semua bermula dari Lima Pilar Pembangunan yang dikerucutkan menjadi tiga zero. Zero kemiskinan, pengangguran dan rumah kumuh.

“Pokoknya, masyarakat yang mau berusaha, hidupnya pasti akan berubah. Sebab semua sudah kita sediakan. Tinggal lagi, sepenting apa bagi mereka masa depan yang gemilang. Kalau penting, mereka tentu akan menjemput bola. Menjemput apa-apa yang sudah disiapkan pemerintah. “Kita mulai dari pelatihan di Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S). Setelah lulus, kita beri mereka pinjaman dana bergulir. Kita siapkan pula koperasi,” katanya.

Semua yang ada di saung itu serius mendengar paparan Jefry. Ujung-ujungnya, Jefry kemudian mengajak para karyawan perusahan itu untuk menjadi petani enterpreneurship. “Tak perlu kita langsung yang menjadi petani. Tapi kita yang justru jadi bos nya petani itu. Kita pekerjakan mereka. Terserah mau bertani apa. Sayuran, cabai, bawang, silahkan.

Sebab selama ini, 95 persen kebutuhan semacam itu, masih kita pasok dari luar. Kita punya tanah yang subur. Kalau tanah ini kita manfaatkan, tentu kita tak perlu lagi menunggu pasokan, kan?” ujar Jefry. (Adv)