
NOAA Bisa Imun Pantau Asap

Pekanbaru, (antarariau.com) - Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau menyatakan, satelit "National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang digunakan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika juga bisa imun.
"Penginderaan jauh yang digunakan BMKG yakni NOAA-18, juga bisa salah dalam memberikan informasi kepada penggunanya seperti kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Riau," kata Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalhari) Muslim Rasyid, di Pekanbaru, Jumat.
Lebih lanjut dia menjelaskan, yang namanya teknologi ciptaan manusia sudah pasti ada kelebihan dan kekurangan. Apalagi dalam memantau kondisi terkini mengenai cuaca dan panas bumi.
Makanya, NOAA-18 tidak bisa selamanya dijadikan patokan dalam memantau kondisi cuaca dan panas bumi seperti yang saat ini terjadi di Pulau Sumatera dan Provisi Riau khususnya menyangkut kebakaran hutan dan lahan.
"Bisa saja alat tersebut (NOAA) tidak terpantau titik panas karena sudah pekatnya kabut asap di Riau atau api bersembunyi di bawah lahan gambut yang terbakar, sehingga yang terpantau hanya asapnya saja," ucapnya.
Padahal, lajutnya, kebakaran hutan dan lahan di Riau terkosentrasi di lahan gambut seperti Kabupaten Rokan Hilir, Kota Dumai, Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Pelalawan.
"Yang terbakar adalah lahan milik petani sawit dan perusahaan, yang investor asing. Seperti PT Bumi Reksa Nusa Sejati, PT Tunggal Mitra Plantation, PT Udaya Loh Dinawi dan lain sebagainya," katanya
BMKG Stasiun Pekanbaru mencatat jumlah titik panas di Riau pada Kamis (20/6), sekitar pukul 17.00 Wib yang tersisa hanya 22 titik atau berkurang drastis ketimbang hari sebelumnya.
"Kalau sebelumnya yakni Rabu (19/6), satelit NOAA mencatat ada sebanyak 142 titik panas. Saat ini hanya tinggal 22 titik yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten," kata analis BMKG Stasiun Pekanbaru, Puryanti.
Sebanyak 22 titik panas tersebut, menurut dia, merupakan sisa dari empat kabupaten. Sementara sebelumnya titik panas tersebar di hampir seluruh kabupaten dan kota di Riau.
Terbanyak berada di Kabupaten Rokan Hilir yang mencapai 16 titik, namun berkurang dibandingkan sebelumnya yang mencapai 35 titik panas. Kemudian di Kabupaten Siak tinggal tiga titik, dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 14 titik.
Untuk di Kabupaten Rokan Hulu sebelumnya sempat terdeteksi sebanyak sembilan titik, saat ini hanya tinggal dua titik. Lalu Kabupaten Pelalawan yang sempat terdeteksi, menjadi hanya satu titik.
Pewarta : Muhammad Said
Editor:
Muhammad Said
COPYRIGHT © ANTARA 2026

