Logo Header Antaranews Riau

BBM Langka Di Rohil

Jumat, 26 April 2013 10:23 WIB
Image Print

Bagansiapiapi, (Antarariau.com) - Bahan bakar minyak jenis premium dan solar di Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau dalam beberapa hari terakhir mendadak langka.

"Saya bingung kok SPBU pada kehabisan stok. Setelah dicari ke mana-mana saya akhirnya harus beli premium seharga Rp8.000 per liter di tempat pedagang eceran," kata Ansar (36), warga Jalan Pahlawan, Bagansiapiapi, Jumat.

Warga Bagansiapiapi lainnya Marwan (25) juga mengeluhkan langka dan mahalnya harga bensin. "Saya heran juga, kok bensin tiba-tiba langka di pasaran Kota Bagansiapiapi, padahal sebelumnya lancar-lancar saja. Bensin di tingkat eceran selalu tersedia kapan saja kita butuhkan," ujar Marwan.

Seorang ibu rumahtangga Salmiah (31) juga mengeluhkan mahalnya harga bensin di tingkat pengecer yang harganya mencapai Rp15 ribu per liter. "Premium di sepeda motor saya sudah di garis merah dan harus diisi. Ternyata di SPBU tidak ada dan terpaksa beli seharga Rp15 ribu/liter," ujarnya.

Semula Salmiah yang juga pegawai honorer di salah satu kantor dinas Setdakab Rohil tersebut tidak habis fikir kenapa harga BBM mahal dan sulit didapat. Ia mengaitkan kelangkaan itu akibat akan adanya penetapan dua harga oleh pemerintah.

Pada Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB, stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) satu-satunya di Bagansiapiapi yang berada di Jalan Kecamatan Batu Empat baru kedatangan mobil pemasok bensin. Warga yang berminat membeli bensin berjubel dan harus rela antre di sekeliling pompa bensin di SPBU tersebut.

Jumlah SPBU di Kabupaten Rokan Hilir sebanyak sembilan buah dan dinilai masih kurang mengingat pertumbuhan kendaraan roda dua, empat dan kebutuhan industri sangat cepat.

Humas Pertamina RU II Dumai Yefrizon menyatakan, pasokan ke SPBU di Rohil tetap normal seperti biasanya dan kalaupun terjadi kekurangan dan antrean kendaraan itu disebabkan meningkatnya permintaan.

Ia meminta masyarakat agar membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak menyetok terkait dengan kebijakan pemerintah memberlakukan dua harga.