Logo Header Antaranews Riau

Dosen Pekanbaru mengaku diteror

Senin, 5 Maret 2012 19:04 WIB
Image Print

Pekanbaru (ANTARARIAU News) - Seorang dosen di Kota Pekanbaru, Yusrizal, mengaku mendapatkan teror pembunuhan setelah dirinya melaporkan mahasiswanya yang juga seorang bupati kepada polisi, terkait kasus penganiayaan serta pengancaman.

"Saya menerima dua kali ancaman lewat telepon pada tengah malam dari orang yang tidak dikenal. Katanya, "bapak kalau sayang keluarga dan sayang nyawa, bapak jangan naikkan kasus ini"," kata Yusrizal kepada ANTARA, Senin.

Sambil menirukan bentuk ancaman yang diterimanya, dosen di Universitas Persada Bunda, ini berulang menyatakan, tak akan takut dengan semua itu.

Ia malah mengaku telah melaporkan ulah sang bupati ke Polda Riau pada hari Minggu (4/3).

Terlapor pelaku penganiayaan itu, menurutnya, kini menjabat bupati di Kabupaten Kampar, berinisial JN.

Dirinya terpaksa melaporkan tindakan sang bupati, karena mengaku telah ditinju sehingga mengalami luka ringan pada bagian rahang bagian kiri.

Peristiwa itu, menurutnya, terjadi di lingkungan kampus.

Selain itu, Yusrizal juga mengaku mendapat ancaman akan dibunuh oleh orang tertentu.

Dikatakannya, tujuan pelaporan dirinya ke polisi semata agar ada ada efek jera bagi yang bersangkutan sebagai pejabat negara.

"Pejabat negara itu kan harus menghormati aturan dan institusi pendidikan," tandasnya.

Ia menjelaskan, sang bupati merupakan mahasiswanya di mata kuliah Hukum Adat, yang sudah dua kali tidak lulus karena tak memenuhi syarat absensi kehadiran, tidak menyelesaikan tugas kuliah, dan mencontek saat ujian.

"Saya sengaja kosongkan nilainya, karena nilai evaluasi dalam ujian adalah hasil otak orang lain. Harusnya otak yang bersangkutan yang saya evaluasi. Saya usulkan supaya dia melakukan perbaikan, tetapi tidak dilakukannya," katanya.

Ia mengatakan pula, dirinya kerap tidak meluluskan mahasiswa yang tidak memenuhi syarat kelulusan dalam mata kuliahnya.

Namun, ia mengaku kecewa perilaku sang bupati yang dianggapnya arogan menyikapi sikap akademiknya itu.

"Saya inginkan ada efek jera, tobat, jangan suka putar lidah sana-sini. Dia biasa jadi aktivis di luar dengan bahasa politikus yang suka bohong, memutar-balikan fakta. Iya dibilang tidak, dan tidak dibilang iya. Tapi di kampus tidak bisa. Kampus tidak ada kepentingan politik, murni akademis," tegasnya.

Ia mengatakan juga akan terus melanjutkan kasus tersebut di kepolisian.

"Tapi jujur saja, tidak ada dendam pribadi maupun mencari sensasi dengan melaporkan kasus penganiayaan atas diri saya ini ke polisi. Apa untungnya saya mencari sensasi dari kasus ini? Masak saya seorang dosen melapor ke polisi tanpa bukti-bukti," ujar Yusrizal.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026