Logo Header Antaranews Riau

Kasus DBD Kampar terus meningkat

Jumat, 9 Desember 2011 20:04 WIB
Image Print

Pekanbaru, (ANTARARIAU News)- Sejak ditetapkan sebagai kawasan dengan kejadian luar biasa atau KLB per 11 November 2011 lalu, jumlah kasus 'demam berdarah dengue' di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, masih terus bertambah.

Data ANTARA dari pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar, menunjukkan, hingga Jumat (9/12) ini, jumlah kasus 'demam berdarah dengue' (DBD) bertambah 31 menjadi 266 dari sebelumnya cuma 195.

"Saat penetapan status KLB demam berdarah, hanya ada 195 kasus. Sekarang bertambah menjadi 226 kasus. Berarti, status KLB ini akan terus berlanjut dan baru bisa dicabut jika sudah ada pengurangan", kata Kepala Dinas Kesehatan Kampar, H Herlyn Rahmola.

Didampingi Kasi Survei, Lein Usman, ia menambahkan, hari Jumat ini saja, ditemukan lagi dua orang pasien DBD, kemudian dirawat di RSU Bangkinang dan Pekanbaru.

Menyangkut upaya Dinas Kesehatan (Diskes) Kampar mengantisipasi agar tidak terjadi penularan DBD, menurutnya, terus melakukan ;foggingpada empat rumah sakit.

"Yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkinang, RS Ibnu Sina, RS Norfa Husada dan RS Bunda. Intinya, untuk menghindari penularan dari nyamuk dari pasien yang mungkin pernah dirawat di sana," jelasnya.

Sementara itu, Lein Usman menambahkan, sampai saat ini belum ada laporan pasien yang meninggal akibat DBD ini.

"Mudah-mudahan tidak terjadi," ujarnya.

Dijelaskan pula, daerah yang paling banyak terdapat kasus DBD, ialah, Kecamatan Siak Hulu, Bangkinang, Tapung, Tapung Hilir, Tambang dan Kampar.

Pada kesempatan bincang dengan ANTARA, Herlyn Rahmola menyampaikan kekecewaannya terhadap pihak Dinas Kesehatan Provinsi Riau, karena tidak mengabulkan permohonan peminjaman alat untuk 'fogging' (pengasapan).

"Padahal, ini sangat dibutuhkan untuk memberantas nyamuk DBD di 21 kecamatan dan 285 desa. Soalnya, Kabupaten Kampar hanya memiliki delapan unit, tidak mungkin bisa maksimal memberantasnya," jelasnya.

Karena itu, demikian Kepala Diskes Kampar, perlu ada partisipasi masyarakat bergotong royong guna memutus metamarfosa nyamuk (rantai makanan).

Kendati begitu, menurutnya, pihak Dinas Kesehatan Provinsi Riau telah memberikan bantuan logistik, berupa obat untuk 'fogging'.

"Diskes Kampar mengusulkan untuk aggaran tahun 2012 bisa ada pengadaan penambahan alat 'fogging', demi mendukung kerja secara maksimal," katanya.

Saat ini, lanjutnya, pihaknya mengawal ketat empat kecamatan, yakni Kampar Utara, Kampar Kiri Hulu, Kampar Kiri Hilir dan XIII Koto Kampar.

"Ini penting, agar jangan menjadi daerah sporadis (daerah penemuan baru) untuk DBD ini," ujarnya.

Secara terpisah, Direktur RSUD Bangkinang, dokter Sona, didampingi Kasi Pelayanan, Nuraisah, mengatakan, sejak bulan November, pihaknya telah merawat 39 pasien.

"Hari ini masih ada sebanyak tuhuh orang pasien. Mereka ditempatkan pada masing-masing blok ruangan, sesuai usia pasien, dewasa atau anak-anak," jelasnya.

Sona berterima kasih kepada Dinas Kesehatan Kampar, karena tanggap melakukan pencegahan.

"Termasuk mencegah terjadinya infeksi 'nosokomial' (penularan penyakit dari pasien ke orang lain di rumah sakit). Karenanya, pada hari ini tim gerak cepat 'fogging' Diskes Kampar telah melakukan pengasapan di kawasan RSUD Bangkinang," ujar dokter Sona.



Pewarta :
Editor: Netty Mindrayani
COPYRIGHT © ANTARA 2026