Logo Header Antaranews Riau

DBD meninggal di Siak bertambah

Rabu, 23 November 2011 08:35 WIB
Image Print

Siak, (ANTARARIAU News) - Kasus penderita demam berdarah dengue (DBD) meninggal di Kabupaten Siak, Riau, bertambah disusul dua balita warga Kecamatan Kandis, hingga Nopember 2011 tercatat 194 kasus penderita DBD meninggal.

Sekretaris Kecamatan Kandis, Turyono, Rabu membenarkan adanya kasus meninggalnya dua balita tersebut yaitu dari Desa Kandis.

Kedua balita tersebut dinyatakan meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Kota Pekanbaru.

Saat ini terdapat enam warga Kandis Kota penderita DBD yang menjalani perawatan.

Meningkatnya kasus DBD di wilayah Kandis akibat genangan air pada lingkungan tempat tinggal masyarakat yang menjadi sarang nyamuk aedes aegypty.

Untuk itu warga diimbau agar mewaspadai DBD ini dengan cara melakukan upaya 3M. Apalagi saat musim penghujan ini, hendaknya warga masyarakat menggiatkan gotong royong pemberantasan sarang nyamuk dan melakukan tindakan 3M plus.

Kemudian juga diharapkan kepada pihak perusahaan yang ada di Kecamatan Kandis untuk ikut berpartisipasi secara aktif mencegah timbulnya wabah DBD dengan turut melakukan fogging dan gerakan 3 M di lingkungan perusahaan.

Diketahui, di Kecamatan Kandis dominan mata pencaharian masyarakat sebagai pekerja perkebunan sawit.

"Selanjutnya kepada petugas kesehatan diminta untuk proaktif menindak lanjuti kasus DBD ini jangan hanya menunggu adanya laporan baru melakukan suatu tindakan," katanya.

Sehari sebelumnya, Kepala Puskesmas Kandis, dr H Armen ketika dimintai keterangannya juga membenarkan adanya balita meninggal tersebut. Hanya saja Armen belum bisa memastikan apakah balita tersebut meninggal karena DBD.

Pasalnya mereka hingga kini belum menerima hasil laporan medik dari pihak Rumah sakit meskipun telah dimintakan, ujarnya.

Menurut dia, ada dua balita meninggal setelah mendapatkan perawatan di Kota Pekanbaru yang sebelumnya pihak Puskesmas Kandis mengeluarkan rujukannya.

"Kami saat ini sedang menunggu konfirmasi dari pihak rumah sakit dimaksud, dan hingga kini belum diterima. Oleh karenannya kami belum bisa memberikan keterangan pasti apakah balita tersebut meninggal akibat DBD," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut Armen juga membenarkan kalau balita yang meninggal tersebut memang berdomisili di daerah endemis DBD.

"Korban dan keluarganya tinggal di Pasar Minggu Kandis tepatnya di di Km 80 yang mana daerah tersebut memang wilayah endemis DBD yang setiap tahun ada kasus," katanya.

Diantara penyebab wilayah tersebut rentan selain wilayahnya memang kurang bagus juga banyaknya warga masuk dan datang dari daerah lain turun di Pasar Minggu tersebut.

Sumber DBD dari orang yang datang dan pergi inilah yang sulit untuk memantau.

Meskipun demikian, ia mengatakan belum berani menyebutkan kalau balita itu meninggal karena DBD dikaitkan daerah endemis tersebut.



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026