
Potensi madu hutan 74 Ton

Pekanbaru, (ANTARARIAU News) - Hasil riset Organisasi Konservasi Lingkungan Global (WWF) menyatakan, Provinsi Riau memiliki potensi madu hutan di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) sedikitnya mencapai 74 ton per tahun, yang hingga kini belum digarap optimal.
"Potensi madu Tesso Nilo mencapai 74 ton per tahun, yang dihasilkan di 493 pohon," kata Koordinator Pengembangan Masyarakat WWF Program Riau, Adi Purwoko, kepada ANTARA di Pekanbaru, Rabu.
Tesso Nilo merupakan kawasan konservasi di Provinsi Riau, yang memiliki kekayaan hayati alami yang sangat tinggi.
Madu hutan alam atau yang lebih dikenal dengan madu "Sialang" banyak ditemukan di daerah landskap Tesso Nilo, di Kabupaten Pelalawan, Kampar dan Kuantan Singingi.
Menurut dia, WWF membantu memfasilitasi pembentukan Asosiasi Petani Madu Hutan Tesso Nilo (APMTN) yang beranggotakan 50 orang warga sekitar hutan sejak tahun 2010.
Mereka mendapat pelatihan pengolahan madu secara lestari dan higienis untuk meningkatkan nilai jual dan aman bagi lingkungan.
Namun, ia mengatakan, APMTN baru bisa menyerap madu higienis dari petani setempat sekitar 1 ton per bulan atau sekitar 12 ton dalam setahun. Artinya, masih sekitar 6 ton madu hutan Tesso Nilo per bulan yang belum digarap optimal.
"AMPTN terkendala dana untuk menyerap seluruh madu dan masih belum bisa menemukan pasar untuk menjual madu higienis," ujarnya.
Meski begitu, ia mengatakan, produk madu higienis dari APMTN sudah bisa menembus pasar ekspor di Malaysia. Menurut dia, produsen madu olahan, TLH Industry di Malaysia, secara rutin membeli madu higienis itu hingga satu ton tiap bulan.
"Perhatian pemerintah daerah sangat kurang untuk mencarikan 'bapak angkat' yang bisa membantu permodalan usaha madu hutan higienis," ujarnya.
Menurut dia, pengolahan madu hutan secara higienis bisa meningkatkan harga jual hingga Rp33 ribu perkilogram (kg) dari petani.
Nilai itu lebih tinggi dibandingkan hasil pengolahan madu hutan konvensional dengan cara diperas yang hanya Rp27 ribu/kg.
Proses pengolahan madu secara higienis sangat menjaga kebersihan, yakni dengan proses penirisan bukan memeras, menggunakan sarung tangan khusus dan dilarang merokok saat memanen.
Selain itu, petani juga dilatih untuk tidak menghabiskan seluruh sarang di pohon sehingga lebah bisa cepat memproduksi madu dalam waktu dua bulan.
Pemberdayaan madu higienis diharapkan bisa menyejahterakan warga di sekitar hutan agar mereka bisa ikut melestarikan lingkungan di tempat tinggalnya. ***5***
Pewarta : FB Rian Anggoro
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026

