ASITA Riau: Bagasi berbayar rugikan UMKM oleh-oleh

id Bagasi,UMKM

ASITA Riau: Bagasi berbayar rugikan UMKM oleh-oleh (Antaranews)



Pekanbaru (Antaranews Riau) - Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Provinsi Riau menyatakan adanya kebijakan bagasi berbayar merugikan perekonomian masyarakat terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) khususnya produk oleh-oleh.

Ketua ASITA Riau, Dede Firmansyah di Pekanbaru, Selasa menyampaikan bahwa kondisi bagasi berbayar bisa merusak tradisi masyarakat yang suka membeli oleh-oleh ketika bepergian. Hal inilah yang dinilai kemudian bisa juga memperburuk perekonomian masyarakat khususnya UMKM.

"Jika dibandingkan dengan orang luar negeri memang sudah terbiasa dan tidak budayanya mereka jika bepergian beli oleh-oleh. Sementara orang kita sudah menjadi budaya dan ini sesuatu positif bisa membantu ekonomi orang lain," ujarnya.

Baca juga: Antisipasi Pencurian Bagasi, Bandara SSK II Pekanbaru juga Perketat Pengawasan

Oleh karena itu, pengambil kebijakan harus paham bahwa budaya orang asing sangat berbeda dengan masyarakat Indonesia. Pasalnya jika hal ini terus berlanjut maka perekonomian masyarakat kelas kecil terutama kalangan UMKM akan lumpuh.

"Bisa dibayangkan jika nanti orang Indonesia sudah berubah menjadi terbiasa tidak beli oleh-oleh, sama-sama kita lihat sebuah kehancuran bagi ekonomi masyarakat kecil akan datang, Astaghfirullah," ucapnya.

Oleh sebab itu, dalam hal ini Dede menganggap tujuan pembangunan wisata dapat gagal tercipta bila terjadi dampak buruk akibat bagasi berbayar dan kenaikan harga tiket pesawat.

"Jika gara-gara bagasi berbayar dan berakibat UMKM lumpuh, maka pemerintah gagal mencapai tujuan pembangunan pariwisata. Karena salah satu tujuan pariwisata adalah menyejahterakan masyarakat khususnya di destinasi yang rata-rata UMKM," ungkapnya.

Dikatakannya akibat tiket pesawat naik saja jumlah penumpang di Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru mengalami penurunan pada awal tahun 2019 ini. Bahkan, kata Dede, penurunannya mencapai 24 persen sehingga membuat sejumlah maskapai dan penerapan bagasi berbayar.

Baca juga: Pemerintah Evaluasi Penerapan Bagasi Berbayar Lion Air

Baca juga: ASITA: Puluhan UMKM oleh-oleh terancam bangkrut


Pewarta :
Editor: Vienty Kumala
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar