Bukan obat, tapi penyakit hipertensi dan diabetes itu sendiri yang merusak ginjal
Rabu, 10 Maret 2021 15:07 WIB
Ilustrasi - Obat. (Antara/Pixabay)
Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), dr. Aida Lydia menekankan obat hipertensi dan diabetes yang dikonsumsi pasien kedua penyakit itu atas rekomendasi dokter tidak merusak ginjal.
"Obat hipertensi dan diabetes tidak merusak ginjal, yang merusak ginjal penyakitnya itu sendiri, bukan obatnya," kata dia dalam virtual media briefing bertema "Peringatan Hari Ginjal Sedunia 2021", Rabu.
Baca juga: EMA selidiki kemungkinan alami gagal ginjal akibat remdesivir Gilead
Berbeda halnya dengan jenis obat lain salah satunya untuk menghilangkan nyeri. Menurut Aida, konsumsi obat pereda sakit terus menerus tanpa anjuran dokter bisa berisiko gangguan ginjal.
Kemudian, khusus pasien hipertensi dan diabetes, Aida menyarankan pasien dua penyakit penyebab gagal ginjal terbanyak itu mengontrol penyakitnya agar tidak berujung komplikasi ke organ tubuh lain, termasuk ginjal.
Selain pola hidup sehat seperti diet dan aktivitas fisik, pengobatan dan pemeriksaan tekanan atau gula darah sesuai jadwal juga menjadi kunci penting.
"Diabetes dan hipertensi harus dikontrol. Selalu dimulai dari pola hidup sehat, diet sesuai anjuran dokter. Apabila tidak cukup, orang sakit harus meminum obat. Obat-obatan diabetes dan hipertensi yang diberikan itu aman, pada saat ini banyak pilihan obat yang baik," tutur Aida.
Dia membantah persepsi di kalangan masyarakat yang menyatakan tekanan atau gula darah bisa dirasa-rasa sehingga tidak perlu diperiksa karena pasien akan tahu kapan tekanan darah atau gula darahnya tinggi.
Lebih lanjut mengenai penyakit gagal ginjal, Aida mengatakan pada tahap awal umumnya tidak bergejala sehingga pasien datang umumnya datang ke dokter dalam kondisi yang sudah lanjut, yakni saat fungsi ginjalnya sudah sangat rendah dan telah terjadi komplikasi akut dan pilihan pengobatan terbatas.
Aida menekankan pentingnya edukasi mengenai penyakit ginjal, komplikasi, tatalaksana dan pilihan pengobatan pada pasien PGK sebelum mencapai PGTA. Pasien dan keluarganya harus dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan atas kondisi kesehatannya dengan mengedepankan peran, nilai, prioritas serta tujuan dari pasien itu sendiri.
Data epidemiologi global menunjukkan 1 dari 10 orang di dunia mengalami PGK dan 9 dari 10 tidak menyadari mempunyai ganguan ginjal.
Di Indonesia, merujuk Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi PGK 2/1000 penduduk dan meningkat menjadi 3,8/1000 penduduk pada 2018 atau meningkat hampir dua kali lipat. Skrining PERNEFRI pada tahun 2006 yang melibatkan 12.000 orang memperlihatkan prevalensi PGK sebesar 12,5 persen.
Baca juga: Penderita Gagal Ginjal Sangat Disarakan Untuk Melakukan Transplantasi
Baca juga: Waspadai Warna Kemerahan Urine Anda, Bisa Jadi Itu Gagal Ginjal
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
"Obat hipertensi dan diabetes tidak merusak ginjal, yang merusak ginjal penyakitnya itu sendiri, bukan obatnya," kata dia dalam virtual media briefing bertema "Peringatan Hari Ginjal Sedunia 2021", Rabu.
Baca juga: EMA selidiki kemungkinan alami gagal ginjal akibat remdesivir Gilead
Berbeda halnya dengan jenis obat lain salah satunya untuk menghilangkan nyeri. Menurut Aida, konsumsi obat pereda sakit terus menerus tanpa anjuran dokter bisa berisiko gangguan ginjal.
Kemudian, khusus pasien hipertensi dan diabetes, Aida menyarankan pasien dua penyakit penyebab gagal ginjal terbanyak itu mengontrol penyakitnya agar tidak berujung komplikasi ke organ tubuh lain, termasuk ginjal.
Selain pola hidup sehat seperti diet dan aktivitas fisik, pengobatan dan pemeriksaan tekanan atau gula darah sesuai jadwal juga menjadi kunci penting.
"Diabetes dan hipertensi harus dikontrol. Selalu dimulai dari pola hidup sehat, diet sesuai anjuran dokter. Apabila tidak cukup, orang sakit harus meminum obat. Obat-obatan diabetes dan hipertensi yang diberikan itu aman, pada saat ini banyak pilihan obat yang baik," tutur Aida.
Dia membantah persepsi di kalangan masyarakat yang menyatakan tekanan atau gula darah bisa dirasa-rasa sehingga tidak perlu diperiksa karena pasien akan tahu kapan tekanan darah atau gula darahnya tinggi.
Lebih lanjut mengenai penyakit gagal ginjal, Aida mengatakan pada tahap awal umumnya tidak bergejala sehingga pasien datang umumnya datang ke dokter dalam kondisi yang sudah lanjut, yakni saat fungsi ginjalnya sudah sangat rendah dan telah terjadi komplikasi akut dan pilihan pengobatan terbatas.
Aida menekankan pentingnya edukasi mengenai penyakit ginjal, komplikasi, tatalaksana dan pilihan pengobatan pada pasien PGK sebelum mencapai PGTA. Pasien dan keluarganya harus dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan atas kondisi kesehatannya dengan mengedepankan peran, nilai, prioritas serta tujuan dari pasien itu sendiri.
Data epidemiologi global menunjukkan 1 dari 10 orang di dunia mengalami PGK dan 9 dari 10 tidak menyadari mempunyai ganguan ginjal.
Di Indonesia, merujuk Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi PGK 2/1000 penduduk dan meningkat menjadi 3,8/1000 penduduk pada 2018 atau meningkat hampir dua kali lipat. Skrining PERNEFRI pada tahun 2006 yang melibatkan 12.000 orang memperlihatkan prevalensi PGK sebesar 12,5 persen.
Baca juga: Penderita Gagal Ginjal Sangat Disarakan Untuk Melakukan Transplantasi
Baca juga: Waspadai Warna Kemerahan Urine Anda, Bisa Jadi Itu Gagal Ginjal
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor : Vienty Kumala
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Tindaklanjuti Edaran Mendagri, Plt Gubri Tiadakan Open House, Tetap Terima Masyarakat yang Mau Silahturrahmi Hari Pertama Lebaran
19 March 2026 16:37 WIB
Peringati Hari Raya Nyepi 2026, BRI Peduli salurkan 2.000 paket sembako bagi warga desa di Bali
19 March 2026 14:20 WIB
Berkah Bazar Minyak Goreng Murah PT IKPP Perawang Bangkitkan Senyuman Ribuan Warga Sambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah
13 March 2026 12:28 WIB
Sorotan Hari Ini: Kabar Pemakaman Vidi Aldiano hingga Lonjakan Penjualan Mobil BYD
09 March 2026 12:30 WIB
Trump Beri Ultimatum: Iran Harus Capai Kesepakatan Nuklir atau Hadapi "Hari yang Sangat Buruk"
24 February 2026 12:29 WIB
Hari Peduli Sampah Nasional 2026: BRI Perkuat Komitmen Lingkungan dengan Kampanye 'BRI Peduli Yok Kita Gas'
21 February 2026 12:35 WIB
BRK Syariah Berbagi Takjil di Hari Pertama Ramadan untuk Pasien dan Penunggu Kelas III RSUD Arifin Achmad
20 February 2026 14:07 WIB
Terpopuler - Kesehatan
Lihat Juga
Hybrid Sunscreen: Perlindungan Maksimal untuk Kulit + Rekomendasi Produk Terbaik
15 January 2026 15:56 WIB
Kombinasi Omega-3 dan Olahraga, Rahasia Jaga Kesehatan Mulut Lebih Optimal
20 October 2025 11:19 WIB
Ahli Ungkap Manfaat Campuran Buah dan Susu untuk Kesehatan Pencernaan dan Jantung
16 June 2025 11:46 WIB
Jangan Salah Kaprah! Suplemen Serat Bisa Memburukkan Sembelit Jika Tanpa Air yang Cukup
12 June 2025 17:00 WIB
Dokter tekankan pentingnya melakukan aktivitas fisik agar lansia tetap produktif
27 May 2025 14:36 WIB