Sampah TPA Tualang capai 150 ton per hari, Ini yang dilakukan Bupati Siak
Jumat, 12 Juni 2020 11:41 WIB
Kondisi Sampah di TPA Tualang. (ANTARA/Bayu Agustari Adha)
Siak, Riau (ANTARA) - Volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, Riau, terus menggunung dan melebihi kapasitas terutama sampah plastik yang sulit didaur ulang dengan rata-rata 100-150 ton per hari.
Menurut Bupati Siak, Alfedri, untuk mengatasi tumpukan sampah di TPA Tualang yang luasnya 10 hektar ini, perlu dibuatkan sistem "sanitary landfill". Penggunaan sistem itu akan membuat kawasan di sekitar ramah lingkungan karena tidak tercemar dan bau dari timbunan sampah.
"Kita berharap Balai Prasarana dan Pemukiman (BPP) wilayah Riau Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dapat membantu pembangunan area penimbunan sampah yang menggunakan sistem sanitary landfill untuk TPA Tualang," kata Alfedri, Jumat.
Bupati Siak, Alfedri bersama Kepala Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Permukiman Siak Irving Kahar sudah melakukan tinjauan langsung ke lokasi Kamis (11/06) lalu. Kunjungan tersebut juga bersama Kepala BPP Wilayah Riau Kementerian PUPR, Ikhwanul Ikhsan serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Siak, Syafrilenti.
Baca juga: Sudah ada 47 warga Pekanbaru kena denda akibat buang sampah sembarangan
Alfedri yang juga Mantan Camat Tualang itu melakukan diskusi di tengah lautan sampah busuk yang dikerumuni jutaan lalat serta belatung. Tinjauan dilakukan seperti tanpa menghiraukan aroma tidak sedap yang menyengat di hidung
Kepala Balai Prasarana dan Pemukiman wilayah Riau, Ikhwanul Ikhsan menyebutkan pembangunan area penimbunan sampah merupakan bagian dari sistem sanitasi perkotaan. Itu seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan produksi sampah rumah tangga dari masyarakat.
"Dengan metode itu, sampah dibuang dan ditumpuk di lokasi cekung, dipadatkan dan kemudian ditimbun dengan tanah sehingga tidak menimbulkan bau busuk dan dapat mencegah berkembangnya bibit penyakit," sebutnya.
Kepala Kerja TPA di Kampung Perawang Barat, Bambang menyampaikan dari 100 ton sampah yang masuk setiap harinya 60 persen adalah anorganik didominasi plastik. Sementara 40 persennya sampah organik sehingga lanjutnya jika ada pemulung yang datang ke untuk memilah sampah dan mencari sisa-sisa makanan untuk pakan ternak, tidak pernah dilarang.
"Asalkan masih warga Kabupaten Siak, masih kami izinkan masuk," imbuhnya.
Baca juga: Menyulap pembuangan sampah menjadi taman obat dan rempah
Menurut Bupati Siak, Alfedri, untuk mengatasi tumpukan sampah di TPA Tualang yang luasnya 10 hektar ini, perlu dibuatkan sistem "sanitary landfill". Penggunaan sistem itu akan membuat kawasan di sekitar ramah lingkungan karena tidak tercemar dan bau dari timbunan sampah.
"Kita berharap Balai Prasarana dan Pemukiman (BPP) wilayah Riau Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dapat membantu pembangunan area penimbunan sampah yang menggunakan sistem sanitary landfill untuk TPA Tualang," kata Alfedri, Jumat.
Bupati Siak, Alfedri bersama Kepala Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Permukiman Siak Irving Kahar sudah melakukan tinjauan langsung ke lokasi Kamis (11/06) lalu. Kunjungan tersebut juga bersama Kepala BPP Wilayah Riau Kementerian PUPR, Ikhwanul Ikhsan serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Siak, Syafrilenti.
Baca juga: Sudah ada 47 warga Pekanbaru kena denda akibat buang sampah sembarangan
Alfedri yang juga Mantan Camat Tualang itu melakukan diskusi di tengah lautan sampah busuk yang dikerumuni jutaan lalat serta belatung. Tinjauan dilakukan seperti tanpa menghiraukan aroma tidak sedap yang menyengat di hidung
Kepala Balai Prasarana dan Pemukiman wilayah Riau, Ikhwanul Ikhsan menyebutkan pembangunan area penimbunan sampah merupakan bagian dari sistem sanitasi perkotaan. Itu seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan produksi sampah rumah tangga dari masyarakat.
"Dengan metode itu, sampah dibuang dan ditumpuk di lokasi cekung, dipadatkan dan kemudian ditimbun dengan tanah sehingga tidak menimbulkan bau busuk dan dapat mencegah berkembangnya bibit penyakit," sebutnya.
Kepala Kerja TPA di Kampung Perawang Barat, Bambang menyampaikan dari 100 ton sampah yang masuk setiap harinya 60 persen adalah anorganik didominasi plastik. Sementara 40 persennya sampah organik sehingga lanjutnya jika ada pemulung yang datang ke untuk memilah sampah dan mencari sisa-sisa makanan untuk pakan ternak, tidak pernah dilarang.
"Asalkan masih warga Kabupaten Siak, masih kami izinkan masuk," imbuhnya.
Baca juga: Menyulap pembuangan sampah menjadi taman obat dan rempah
Pewarta : Bayu Agustari Adha
Editor : Riski Maruto
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Siswa SMP Islamic Center Siak tewas akibat ledakan senjata rakitannya saat praktek sains
09 April 2026 11:16 WIB
Penuh Makna di Penghujung Ramadhan PT Arara Abadi Salurkan Bantuan Anak Yatim dan Program CSR Untuk 7 Desa di Kabupaten Siak dan Bengkalis
18 March 2026 11:05 WIB
Siswi SMP di Siak tak ingin ibunya dipenjara Kasus KDRT yang dilaporkan ayahnya
17 March 2026 21:43 WIB
Keuangan daerah tidak baik-baik saja, Banggar DPRD Siak minta pemkab hentikan belanja fisik
17 March 2026 14:20 WIB
6 bulan hak belum dibayar, dokter spesialis RSUD Tengku Rafian Siak mogok layani pasien
16 March 2026 19:53 WIB
Buka Puasa Bersama Pemkab Siak, PT IKPP Perawang Waqafkan Ribuan Alquran dan Santuni Anak Yatim
16 March 2026 9:57 WIB
Kebijakan pemotongan TPP ASN Siak rugikan ribuan pegawai dan tak sesuai perda
15 March 2026 15:17 WIB
Terpopuler - Lingkungan
Lihat Juga
Lebih dari sepekan akhirnya Manggala Agni tuntaskan operasi pemadaman karhutla di Bengkalis
09 April 2026 16:09 WIB
Api karhutla dekati pemukiman warga di Bengkalis, Manggala Agni menghalau malam hari
08 April 2026 12:32 WIB
Empat regu Manggala Agni dikerahkan padamkan karhutla di Bengkalis, satu BKO Pekanbaru
07 April 2026 17:00 WIB
Turun Langsung, Karoops Polda Riau dan Asops Kodam Tuanku Tambusai tegaskan karhutla dihentikan, pelaku ditindak
06 April 2026 21:04 WIB
Manggala Agni peroleh alat berat untuk cari sumber air guna padamkan karhutla Bengkalis
06 April 2026 11:34 WIB
Tim Manggala Agni menginap empat hari di pondok warga demi padamkan karhutla di Rupat Bengkalis
02 April 2026 16:35 WIB