Harga minyak mentah jatuh di tengah kekhawatiran permintaan dipicu virus corona
Selasa, 31 Maret 2020 10:14 WIB
Ilustrasi - Petugas tengah memeriksa mesin pengisian ulang bahan bakar minyak di SPBU, Jakarta. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/foc.)
New York (ANTARA) - Harga minyak tergelincir pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena kekhawatiran atas pelemahan permintaan minyak mentah meningkat di tengah penyebaran cepat virus corona di seluruh dunia.
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun 1,42 dolar AS menjadi berakhir pada 20,09 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Ini penyelesaian kontrak bulan depan terendah sejak Februari 2002, menurut Dow Jones Market Data.
Baca juga: Virus China menyebar, minyak mentah merosot lebih jauh
Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei turun 2,17 dolar AS menjadi ditutup pada 22,76 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.
"Perkiraan untuk sisi permintaan sedang direvisi turun hampir setiap hari, sementara di sisi pasokan masih belum ada tanda-tanda rekonsiliasi antara Arab Saudi dan Rusia," Eugen Weinberg, analis energi di Commerzbank Research, mengatakan dalam sebuah catatan pada Senin (30/3/2020).
Permintaan minyak dapat turun sebanyak 20 juta barel per hariatau 20 persen, tahun ini, mengingat bahwa tiga miliar orang di dunia dikunci tinggal di rumah, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan pekan lalu.
Awal bulan ini, kegagalan untuk mencapai kesepakatan tentang pengurangan produksi minyak antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dipimpin oleh Rusia, telah memicu kekhawatiran kemungkinan perang harga.
Pasar minyak telah terperangkap antara jatuhnya permintaan secara dramatis akibat pandemi virus corona dan perang harga antara Arab Saudi dan Rusia,
Arab Saudi, anggota utama OPEC, dan Rusia telah mengumumkan peningkatan signifikan dalam produksi minyak mereka, sehingga membanjiri pasar yang telah kelebihan pasokan.
"Kami memiliki keraguan tentang apakah Arab Saudi akan membiarkan dirinya dibujuk dengan mudah untuk kembali dari jalur balas dendam yang baru-baru ini dimulai," kata analis Commerzbank, Eugen Weinberg, merujuk pada perang harga yang dilakukan antara Rusia dan Arab Saudi.
Baca juga: Polisi tahan penimbun minyak mentah di Kalimantan Timur
Baca juga: Harga minyak mentah kembali turun, pasar khawatir pertumbuhan ekonomi global
Pewarta : Apep Suhendar
Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun 1,42 dolar AS menjadi berakhir pada 20,09 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Ini penyelesaian kontrak bulan depan terendah sejak Februari 2002, menurut Dow Jones Market Data.
Baca juga: Virus China menyebar, minyak mentah merosot lebih jauh
Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei turun 2,17 dolar AS menjadi ditutup pada 22,76 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.
"Perkiraan untuk sisi permintaan sedang direvisi turun hampir setiap hari, sementara di sisi pasokan masih belum ada tanda-tanda rekonsiliasi antara Arab Saudi dan Rusia," Eugen Weinberg, analis energi di Commerzbank Research, mengatakan dalam sebuah catatan pada Senin (30/3/2020).
Permintaan minyak dapat turun sebanyak 20 juta barel per hariatau 20 persen, tahun ini, mengingat bahwa tiga miliar orang di dunia dikunci tinggal di rumah, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol memperingatkan pekan lalu.
Awal bulan ini, kegagalan untuk mencapai kesepakatan tentang pengurangan produksi minyak antara Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dipimpin oleh Rusia, telah memicu kekhawatiran kemungkinan perang harga.
Pasar minyak telah terperangkap antara jatuhnya permintaan secara dramatis akibat pandemi virus corona dan perang harga antara Arab Saudi dan Rusia,
Arab Saudi, anggota utama OPEC, dan Rusia telah mengumumkan peningkatan signifikan dalam produksi minyak mereka, sehingga membanjiri pasar yang telah kelebihan pasokan.
"Kami memiliki keraguan tentang apakah Arab Saudi akan membiarkan dirinya dibujuk dengan mudah untuk kembali dari jalur balas dendam yang baru-baru ini dimulai," kata analis Commerzbank, Eugen Weinberg, merujuk pada perang harga yang dilakukan antara Rusia dan Arab Saudi.
Baca juga: Polisi tahan penimbun minyak mentah di Kalimantan Timur
Baca juga: Harga minyak mentah kembali turun, pasar khawatir pertumbuhan ekonomi global
Pewarta : Apep Suhendar
Pewarta : Apep Suhendar
Editor : Vienty Kumala
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Maknai Hari Kartini, Adrias Hariyanto ajak perempuan Riau berkarya lewat zapin dan songket
21 April 2026 20:07 WIB
Trump Umumkan Israel-Lebanon Sepakati Gencatan Senjata 10 Hari, Berlaku Kamis
17 April 2026 11:03 WIB
Api karhutla dekati pemukiman warga di Bengkalis, Manggala Agni menghalau malam hari
08 April 2026 12:32 WIB
Tim Manggala Agni menginap empat hari di pondok warga demi padamkan karhutla di Rupat Bengkalis
02 April 2026 16:35 WIB